Senin, 25 Desember 2017

Piknik dan Melihat Panda di Taman Safari



Foto lokasi Istana Panda, Taman Safari- Bogor 
Cuy, ini tulisan gue ke-4 tentang Taman Safari di blog ini dan ini menunjukkan betapa seringnya gue ke sini. LoL.


Okay, alasan gue ke Taman Safari kali ini adalah karena emak dan bapak gue pengen ngelihat panda. Padahal gue dah coba melobi mereka, ngapain coba jauh jauh ke Taman Safari? lihat panda di youtube aja …ato liat gue, udah mirip beut gini ama panda. Buletnya.

Tetapi emak gue pantang menyerah, dan berhubung agak panjang liburan kali ini ya udah gue penuhi aja permintaannya daripada gue dikutuk jadi batu. Batu berdahak apalagi..gak enat beut soalnya (ITU BATUK, GUS!)

Sebenarnya ke Taman Safari gak bosanin amat, apalagi gue juga pengen lihat pawang-pawang macan nan kekar ituh.

Iya, pawang yang ini. Namanya Mas Fajar, tapi sayang gak kesampean..hiks 


Berhubung libur panjang dan antisipasi macet, kami sekeluarga jalan dari jam setengah 7 pagi dengan perkiraan sampai sana jam 9. Soalnya, gue berangkat dari rumah gue yang berada di Cibinong dimana kalau jam normal cuma butuh 45 menit untuk sampai kawasan Puncak, Bogor.

Tetapi kami salah hitung saudara-saudara. Macetnya minta ampun, meski kami udah berada di Puncak dari jam 10, kami baru berhasil masuk Taman Safari jam 11 karena saking antrinya.

Untuk masuk Taman Safari harga tiketnya yang biasa seharga Rp 180.000, sementara kalau mau ditambah Panda jadi Rp 230.000 per orang. Pricey, yes!
Untuk turis asing bisa Rp 300 ribu, gak tahu deh kalo makhluk asing.

Setelah membayar untuk rombongan sebanyak 7 orang, sejam kemudian kami baru tahu Pak Jokowi juga main ke Taman Safari, dan puluhan mobil yang ada di depan serta belakang rombongan beliau jadi digratisin masuk Taman Safari (ASEM!)

Keliling-keliling lihat satwa dari mobil, kami akhirnya sampai dalam Taman Safari sekitar jam 12.30. Supaya tetap strong, kami putuskan makan siang dulu dilanjut solat lalu ke tempat panda, karena untuk lihat panda ini lokasinya berbeda.

Selesai solat, makan, dan lihat gajah-gajah eek akhirnya kami berjalan untuk lihat panda. Serius, informasi untuk melihat panda ini simpang siur abis. Kami sekeluarga parkir di Parkir A yang paling bawah, sementara untuk lihat panda kita harus ke lokasi Parkir D yang paling atas banget (dekat atraksi Cowboy dan lumba-lumba).

Sebenarnya, untuk ke Parkir D kita bisa pakai kereta kecil yang available di A tapi bayar tiket dulu sebesar Rp 25 ribu (pemerasan!). Yah gue pikir ngapain keluar duit lagi kan, mending jalan.

Ini karena gue yang rada budek sih, gue dengernya untuk menuju konservasi panda bisa naik bis di parkir B. Gue udah di halte B, taunya di D, jadilah gue dan keluarga harus menanjak nanjak lagi. Alhasil…..gempor abis nyah!

Seinget gue berkali-kali ke Taman Safari baru kali ini kayaknya capek banget, maklum faktor umur, berat badan, dan beban tiket yang semakin mahal.

Ngos-ngosan hampir selama 30-40 menit akhirnya kami sampai ke Parkir D. Dari sana kami disediakan bus gratis untuk ke tempat konservasi dengan antrian per baris 6 orang. Gue akuin ini rapih banget. Meskipun saat itu Taman Safari rame banget, pengelola tetap memastikan untuk kunjungan ke panda tidak terlalu padat supaya hewan tidak stress.

Meskipun jadinya pengunjung yang stress, udahlah tiket makin mahal, bermacet- macet ria, jauh, ngos-ngosan, antri, huahaha.


Lokasi panda ini emang dibedakan, mereka ditaruh di tempat tertinggi di Taman Safari dengan suhu khusus jadi gak sampai di atas 25 derajat.

Perjalanan dari Parkir D ke lokasi konservasi memakan waktu sekitar 7-10 menit dengan jalan berliku dan menanjak. Entah karena kebetulan gue dapat satu bus yang norak semua isinya atau gimana, tiap ada tanjakan dan tikungan satu bus teriak semua. “Wuooooo” …”Eyyyy”…”Eyaaaa” kayak nonton final badminton.

Sepanjang jalan kita akan lihat banyak pohon bambu dan udara pun mulai berasa dingin. Begitu sampai, seluruh penumpang bus girang dan tepuk tangan. Norak emang, haha.

Sampai sana kita akan disambut oleh sepasang patung panda Hu Chun dan Chai Tao , serta monumen Teh Botol Sosro. Jangan tanya gue kenapa ada teh botol segala.

Pertama menginjakkan kaki di taman panda ini, gue akuin gue takjub banget. Pemandangan di puncaknya serta penataan lokasinya bikin gak berasa kaya ada di Cisarua.

Udah kayak di luar negeri kan penampakannya?


Kami disambut gerbang dengan nuansa khas negeri tirai bambu, istananya pun mengingatkan gue akan lokasi kuil Kungfu Panda. Lucu banget deh. Saat masuk, kita akan disambut sama restoran dengan nuansa khas mandarin, lalu si embak-embak akan dengan ramahnya memberi tahu kita.

“Selamat datang, silakan berkunjung ke restoran kami. Untuk melihat panda bisa langsung ke lantai 3.”

Meski kami iba sama embaknya, karena makanan di sana mahal, kami putuskan langsung ke lantai 3. Di setiap lantainya ada semacam sketsa-sketsa khusus, mulai dari panda bawa truk, panda di rumah sakit, atau skala ukuran panda dengan hewan sejenis; beruang madu, beruang, beruang kutub, gue.

Di lantai 3, kita diajak oleh petugasnya untuk bergantian menonton film tentang Hu Chun dan Chai Tao tentunya tidak dalam bentuk 3gp (meski kedua panda itu tak berbusana). Untuk menontonnya ini kita harus bergantian masuk jadi sambil menunggu jatah nonton kita bisa foto-foto di sketsa-sketsa yang disediakan.

Kamis, 21 Desember 2017

Karena Jonghyun Bukan Sekedar Idola Plastik





“Noona, you’re so pretty.”

Begitu arti salah satu penggalan lirik untuk lagu debut SHINee pada pertengahan 2008, sembilan tahun lalu. Penggalan dari lagu pertama mereka dengan judul “Replay”.

Noona itu kira-kira artinya sama kayak Teteh, Cece, atau Mbak di Indonesia. Jadi kalau di-Indonesiakan lirik itu artinya kira-kira begini ; “Mbake ayu tenan” , “Teteuh meni geulis euy”

Lagu sembilan tahun lalu dan membuat dengkul embak embak macam gue lemes begitu mendengarnya. Jatuh cinta di lagu pertama, lalu mendengar lagu-lagu berikutnya mulai dari Ring Ding Dong yang berlirik aneh, Lucifer, Dream Girl, Stand By Me, Sherlock, Hello, dan lainnya.

Dari lagu lalu beralih ke reality show dari yang mereka masih imut-imut tapi harus jaga bayi di Hello Baby, sampai mereka bertransformasi jadi pria – pria maskulin dan kompetitif di Running Man. Kalau kata kami, dari Taemin sampe jadi TaeMAN.

Sembilan tahun lamanya, ada kalanya kami sibuk dengan pekerjaan, sekolah, kampus, atau bahkan rumah tangga. Sampai gue sendiri bahkan gak aware dengan album-album terakhir SHINee dan lebih banyak melihat kegiatan solo mereka.

Perjalanan sembilan tahun yang mulai dari level tergila-gila sampai agak abai dengan boyband ini. Sampai kami membaca kabar yang sulit dipercaya tentang meninggalnya vokalis utama boyband yang punya kontribusi menyebarkan virus Kpop ke dunia ini. Jonghyun dikabarkan meninggal karena bunuh diri.

Tadinya sih gue sok strong, meski ngelihat para pelayat-pelayat di rumah duka pengen mewek juga. Sampai akhirnya tadi baca surat dari Key untuk Jonghyun, lalu aku mewek sampe mbrebes mili….

Pertanyaan dan pernyataan orang rata-rata hampir sama pas gue bilang gue sedih banget. “Alay lo, Gus!” “Kok bisa sih sesedih gitu?”

Jawaban gue, ya bisalah sedih gimanapun kan gue belom terbuat atau dikutuk jadi batu, jadi pasti sedih lah. Soal alay tadinya gue mau cuek aja, apalagi ngelihat di twitter atau bahkan acara tv juga ada yang ikut mengejek-ejek kematian Jonghyun.

Gue bener-bener tadinya mao cuek-cuek ajah, sampai ada postingan yang intinya berkata Jonghyun cuma satu plastik yang ditangisi berlebihan. Lalu ada korban-korban kejahatan kemanusiaan laen yang mestinya gue tangisi.

Halo, Mas-nya sehat?
Gue cuma mao kasih tahu aja, rasa sedih atau duka itu bukan buat dibanding-bandingkan. Tentu aja rasa duka gue ini gak bisa dibandingin rasa duka ketika melihat korban perang Palestina atau bahkan Rohingya.

Buat siapapun yang banding-bandingkan soal kesedihan seseorang. Gue cuma mau kasih tahu, sedih itu soal kala bukan soal skala. Sama seperti bahagia, dan perasaan lainnya.

Rabu, 08 November 2017

Omong-Omong Soal Riasan Pengantin


Tenang aja, postingan ini bukan berarti gue lagi sibuk cari cari tukang rias manten. Ya boro cari MUA, cari laki buat ke KUA aja belom nemu nemu.

Tulisan ini dibuat berhubung beberapa waktu belakangan ini banyak banget tokoh tokoh nasional yang melangsungkan pesta perkawinan, sebut saja Raisa, Laudya Cinthya Bella, Mesty, dan yang terakhir adalah Kahiyang, putri presiden kita (Ya kalo kelen belom ikhlas nerima Jokowi sebagai presiden sih gue sih gak tahu ya).

Sebenarnya istilah tokoh buat mereka juga kurang tepat sih, karena mereka itu perempuan semua. Kalo perempuan kan lebih lazim dipanggil Cici ketimbang Tokoh (ITU KOKOH, GUS!!!!).

Beklah, intinya wece wece femes ini  ketemu jodohnya terus kawin. Nah, di kalangan para wece wece jelata seperti gue dan kawan-kawan, momen istimewa wece wece femes ini jelas jadi bahasan rumpian menarik terutama soal  urusan tetek bengek seperti busana dan dandanan mereka.

Tapi sebelum kita bahas lebih jauh soal dandanan mereka,  gue mao apresiasi dulu kepada semua perempuan di atas yang dalam resepsi pernikahannya mempertahankan adat budaya tradisi leluhur Indonesia. Meskipun mereka femes, mereka gak lupa sama asal daerah masing-masing dan itu kece banget, Sis!

Kenapa gue sampe mengapresiasi khusus? Ya gimana ya..secara hidup di jaman now dan beberapa kali hadir kondangan kekinian, udah mule banyak kawinan-kawinan yang gengges, gaya hollywood lah, gaya arab lah, gaya kupu kupu lah, wis sekarepmu.

Memakai poto Artika Sari Devi sebagai pembuka dan benchmark
riasan manten yang sakses. Pic cr to mamiehardo instagram

Masalah Manglingi

Dedek Eleven dengan tampilan Manglinginya di Season 2 Stranger Things

Okay kita balik ke dandanan, karena hidup sebagai perempuan nusantara entah kenapa pikiran pertama yang menghinggapi rata-rata cewek kalo liat dandanan penganten perempuan adalah,”Dandanannya manglingi gak?”

Setau gue, manglingi itu bahasa Jawa dan gue pikir konsep ini cuma berlaku buat penganten-penganten maupun tamu penganten yang berdarah jawa. Tapi gak tuh, temen gue yang batak, arab, padang pun kalo komentarin riasan penganten juga bahas soal isu “Manglingi” ini. Menurut mereka, dandanan kawinan yang sukses itu yang bisa membuat si mempelai wanita ini kelihatan berbeda dari biasanya, glowing, auranya keluar, dan lain-lain.

Sumpah gue gak tahu bagaimana mereka bisa membedakan dan membaca aura mempelai yang keluar itu kaya apa, sedangkan mereka sendiri masih susah membedakan dan membaca mana berita hoax mana yang bukan.

Apabila dandanan mempelai wanita tidak manglingi, tuduhan dari komentator perempuan (yang rata-rata wajahnya setandar kaya yang ada di bawah motor) pun beragam. Mulai dari si mempelai ini sudah tidak perawan lah, kurang tirakat lah, sampai dugaan akan tidak langgengnya rumah tangga si mempelai. Naudzubillah min zalik … (ciye kaya postingan akhwat2 instagram pake bahasa arab segala).

Tersangkanya kalau dandanan mempelai wanita gak mangling hanya terbatas pada 2 pihak; si mempelai wanitanya, dan tukang riasnya.

Seumur-umur kalo dandanan mempelai perempuan gak cakep gak pernah ada yang nyalahin Mempelai Pria-nya. Padahal kan bisa aja dandanan si cewek jadi biasa aja karena Lakinya gak nyumbang ongkos kawinan yang memadai. WHY WOMAN WHY…kalian ga pernah mikir sampe ke situ??? Gak kan? Karena emansipasi wanita kita kadang-kadang terbatas cuma buat dapat tempat duduk di commuter.

Masalah Manglingi ke Level Internesyenal 

This, masalah kek begini mungkin sudah tertanam di benak perempuan yang lahir dan gede di Indonesia tapi buka internet cuma buat apdet curhat doang.  Kenapa? Karena soal dandanan manglingi ini juga dibawa ke perempuan-perempuan yang bahkan hidup di Indonesia aja gak.

Contohnya siapa? Contoh korbannya adalah Song Hye Kyo , aktris perempuan asal Korea Selatan yang akhir bulan lalu menikah dengan aktor tampan Song Joong Ki. Entah karena mereka haters atau gak pernah buka google translate, kata MANGLINGI itu jelas gak dikenal ama orang-orang Korea.
Tapi tetep aja netijen bebal aksara ketika melihat poto pernikahan Hye Kyo ada yang komen. “Ih kok dandanannya gak manglingi ya?”


Contoh komentar netijen kurang berkaca 

Helllloooooow, situ pikir Hye Kyo turunan Keraton tanjakan Prambanan??!  Mana lah ada konsep manglingi di sana, lagian ya…situ situ yang komen mao dandan 7 lapis segala juga tetep kalah cakep ama muka Song Hye Kyo tanpa make up yang lagi berak (detail yak).


AKU KUDU MANGLINGI GIMANA LAGI COBAK?

Kelen perlu tahu, ndak semua kearifan lokal bisa dicocok-cocokkan dengan dunia internesyenal. Udah lah begitu, masipun ada netijen yang dengan dzolim mempermasalahkan keperawanan Song Hye Kyo. Dik, Song Hye Kyo itu besar di Korea Selatan bukan di pesantren.

Lagipulak ya, di Indonesia ini udah kebanyakan gadis-gadis yang menjaga keperawanan tapi tidak menjaga lisan (tsahhh). Lihat noh komen-komen IG akun gosip, rata-rata diisi oleh perempuan yang menjaga bawahnya tapi tidak memelihara kepalanya.

Coba nih bayangin ya, kalo kalian tahu yang namanya Liv Tayler itu pernah berperan dan didandanin sebagai Peri di film Lord Of The Rings. Liv berperan sebagai Arwen, puteri kerajaan Peri yang digambarkan sebagai peri tercantik di dunia. Tampilan Liv subhanalloh sekali di film itu, mengguncang iman setiap laki-laki yang memandangnya.

Bayangin ya, seandainya Liv ini warga Petamburan terus dia kawinan, sementara dia pernah didandanin jadi Peri tercantik di dunia oleh sutradara..dan netijen tetap menuntut Liv dandan yang mangling..periasnya harus dandanin dia kayak gimana lagiiiii? Masa iya dari Puteri Peri jadi Mimi Peri??? Kan sadis.

Peri Arwen, makhluk tercantik di dunya...masa harus jadi Mimi Peri biar manglingi

Senin, 02 Oktober 2017

Wawancara Fiktif Eksklusif: Budiman, Duta Friendzone Nasional Dalam Film Pengabdi Setan

Kemunculannya dalam film Pengabdi Setan tak sampai hitungan jam, namun pesan yang Ia lontarkan dalam dialog awalnya cukup kuat di hati penonton. Terutama untuk mereka yang terjerat di status “friendzone” tanpa bisa upgrade hubungan asmara. Menyadari pentingnya menggali hidup Budiman lebih lanjut untuk mendapat kiat-kiat bertahan yang pastinya dinanti pembaca dengan nasib percintaan serupa, berikut adalah petikan wawancara jurnalis Desi Nawar  dengan Budiman di sela-sela kegalauannya. 



Terima kasih Pak Budiman, sudah meluangkan waktu untuk wawancara nirfaedah ini.
Sama-sama, Mbak Desi. Oya, tadi dari media apa Mbak Desi?

Tabloid Opor Rakyat, Pak. Enak disantan dan perlu. 
Hooo, ya. Tapi saya cuma punya waktu sedikit nih, Mbak. 15 atau 20 menit cukup ya wawancaranya kira-kira.

Yah, jangan dong, Pak. Tambahlah dikit, 30 menitan deh biar cakep hasil wawancaranya.
Bisa aja nih Mbaknya nawar-nawar. Pantes aja namanya Desi Nawar. Saya suka nih sama perempuan suka nawar gini, hemat.

Bapak juga, lawas amat ngegombalnya. Pantes gak bisa dapat-dapat pacar.

(krik krik krik)

Sebelum suasanya lebih awkward, saya ingin tanya sebenarnya Bapak sadar gak sih kalau cerita cinta Bapak itu lebih horor dibanding tragedi si keluarga Pengabdi Setan?
Ya, saya tahu. Sebenarnya saya ingin bilang kalau Rini dan keluarganya itu terkenal karena ibunya jadi Pengabdi Setan, saya mungkin bisa anda panggil sebagai Pengabdi Mantan.

Tapi, Bapak gak punya hak buat julukan itu
Ya, saya juga tahu. Mbaknya ke sini sebenernya mao nanya-nanya apa mao ngajak ribut sih?!

Katakanlah Bapak setara mantan, selain dengan Neneknya Rini apa Bapak gak pernah berhubungan dengan wanita lain?

Gak ada, Mbak. Kalaupun saya ada hubungan lain, itu cuma hubungan arus pendek sama kabel-kabel sekitar alias kesetrum. Sama wanita lain enggak.

Jadi, dari Bapak muda sampai aki-aki gini hanya mencintai satu wanita? Bagaimana Bapak bisa bertahan kalau begitu?
Saya menerapkan jurus LasRep, Mbak. Jurus jitu yang saya terapkan bertahun-tahun untuk bertahan hidup.

Apa itu, Pak?
LasRep, Mbak. Berusaha Ikhlas mesti tetep Ngarep.

Itu sebabnya Bapak masih setia berbalas surat dengan neneknya Rini?
Ya mau gimana lagi, masa iya mau berbalas pantun.

Senin, 25 September 2017

Saat Gadis Urban Jatuh Kesandung

Ini adalah cerita tentang seorang gadis yang kelamaan hidup di kota. Mulai dari lahir, gede, cari nafkah, di PHP-in, semua dia alami di Ibu kota. Seorang gadis yang lebih siap menghadapi kemacetan berjam-jam ketimbang mati lampu dua menit.

Gadis ini kalo diajak pergi ke gunung bakal capek, diajak ke pantai bakal tenggelem. Meski pake pelampung dan dipegang dua laki-laki badan gede, ngintip ke bawah laut dikit juga pingsan. Kalo ditanya kenapa? Si Gadis ini cuma jawab selow, “Gue gak cocok aja ama aer, soalnya elemen utama gue itu api.” (mohon maklum, gadis ini kebanyakan nonton Avatar Ang di waktu luang).

Suatu ketika, gadis ini memutuskan untuk pulang kerja menuju unitnya yang ada di kawasan Matraman dengan menggunakan transjakarta. Alasannya; lebih murah dan tidak perlu kuatir kena asap knalpot beracun yang bisa menambah jerawat di wajahnya. Iya, dia ga peduli ama paru-paru, pedulinya ama pori-pori. Cetek emang anaknya.

Berhubung memutuskan pulang dengan transportasi bersubsidi, ramainya antrian pun menjadi konsekuensi. Setelah bersusah payah naik jembatan busway yang polanya menanjak dan memutar, si gadis ini kudu antri panjang supaya dapat diangkut menuju tujuan.

Di antrian, si gadis tadinya anteng-anteng aja. Sampai tiba-tiba busway yang kebetulan arahnya langsung menuju lokasi kediamannya yakni Senayan – TU Gas nongol di pintu halte. Sang kondektur dan petugas pun memberi aba-aba yang punya tujuan kebetulan searah ama itu bis berwarna biru dipersilakan untuk keluar antrian.
“Ya..TUGAS, MATRAMAN, Pulo Gadung, yang mao naek Pak..Bu,” kata Mas Kondektur.

Si gadis pun keluar barisan sambil berpikir, “Ya Alloh, tumben ada cepet ini bis. Alhamdulillah bisa pulang cepat. Habis itu bisa nonton drama korea sambil nunggu bobo,” pikirnya polos.

Pas si gadis keluar barisan, ternyata di belakangnya ada barisan emak-emak yang tak disangka ingin menaiki bis serupa. Seperti tak sabar, emak-emak busway yang semula dipikir oleh si gadis tidak segahar mak-mak commuter line mulai mendorong-dorong dirinya. “Ya ampun, aku dianggap pintu indomaret kali ya didorong-dorong begini,” pikir si gadis lagi.

Berusaha sabar, si gadis pun larut dalam ombak dorong-dorongan emak-emak yang sulit diperkirakan jumlahnya. Pas si gadis mencoba lari-lari kecil di turunan jembatan untuk mengejar busway...di ruas jembatan yang tak seberapa---di antrian agak depan dekat loket pintu busway, tiba-tiba ada bapak-bapak yang tanpa bersalah ngeluarin kakinya dari barisan, seakan ingin stretching di jembatan...tapi offside. Monyed bener.

Si gadis yang ingin menghindari kaki si lelaki berniat mengelak ke kanan, tapi dia lupa badannya lebar dan di kanan ada pagar-pagar jembatan dan emak-emak di belakang masih dorong-dorongan. “Monyeth...nyusruk dah nih gw,” prediksi si gadis yang sangat tepat beberapa detik kemudian. Nyusruk lah itu si gadis di jembatan busway dengan kaki kanan kepentok dan nyangkut di sela-sela pagar.

Pas si gadis jatuh, pandangan si gadis tetap tertuju ke pintu busway yang hampir tertutup dan seakan mengiba “Bang...jangan pergi gitu aja, Bang!”. Tapi apa daya, busway tak bisa lama menunggu, Mas Kondektur pun meninggalkan si gadis yang sedang terpuruk dengan hanya menatap nanar.

“Sial aku ditinggal busway,” umpat si gadis yang menyesalnya kayak ditinggal pacar. Padahal gak punya juga.

Gak lama, si Bapak yang kakinya offside itu menghampiri si gadis yang ga sadar masih duduk terjatuh. “Mbak gak apa-apa, Mbak? Bisa bangun gak?”

Tadinya si gadis mau sok tegar dan kuat kayak atlet angkat besi, tapi pas mao berdiri ternyata gak sanggup. Inilah cidera terbesar yang pernah dialami si gadis urban sepanjang hidupnya, nyusruk di jembatan busway. Gadis urban lalu menjadi gadis pengkor.

Penampakan kaki gadis urban setelah kesandung. Tubuh sudah bengkak, kini ditambah kaki ikut bengkak

Jumat, 17 Maret 2017

Treatment Jerawat di Euro Skin Lab

Awal pekan lalu, saya menerima panggilan telepon dari Euro Skin Lab yang menawari perawatan dan konsultasi kulit wajah secara cuma-cuma. Semula saya pikir ini tawaran palsu, seperti tawaran telemarketing bank-bank biasa. Untung mbak yang menelepon saya bisa menjelaskan dengan sabar, sampai akhirnya saya menyanggupi penawaran mereka dan mengatur janji untuk perawatan di pekan berikutnya.

Usai menutup telepon, lalu saya gugling lah apa itu Euro Skin Lab. Hasilnya masih sedikit yang mereview, meskipun klinik kecantikan/aesthatic centre  ini cukup lumayan lama ada di Indonesia. Tepatnya sejak tahun 2008.

Pencarian kemudian mengarahkan saya untuk mengunjungi situs mereka di  euroskinlab.com, di situ baru saya tahu banyak juga orang femes yang jadi klien mereka. Wow, mugi-mugi saya ketularan deh yes.

foto brosur ESC :D



Senin, 20 Februari 2017

Konser The Moffatts dan Fans Yang Mulai Menua

Bob and Clint Moffats The Moffats Farewell Tour in Jakarta 

Sekitar 18 tahun yang lalu, yup benar 18 tahun lalu, lagu “I’ll be there for you” merupakan salah satu lagu hits di kawula muda saat itu (ehem, maklum 90an).

Lagu ini dipopulerkan oleh grup band yang semula saya kira kembar empat-empatnya, tahunya yang kembar cuma tiga (tapi yang mukanya mirip cuma dua, bingung kan?) yakni The Moffatts. Band ABG asal Kanada , negeri yang dikenal dengan orang-orang ganteng dan baek hati lalu jadi perdana menteri, ini mampu mencuri hati penggemar remaja (dan baru beranjak remaja) wanita karena lagu-lagunya yang enak didengar dan personel bandnya yang enak dilihat.

Saya sendiri baru jatuh hati sama band ini ketika lagu “Miss You Like Crazy” mereka keluar, gak tahu kenapa di video klip mereka yang itu gantengnya pada maksimal. Saking sukanya, sampai dibela-belain nabung duit jajan buat beli kaset mereka. Waktu itu kebetulan masih SMP, jadi kalau sampai beli kaset sendiri itu udah prestasi luar biasa. Harga kaset biasanya kisaran Rp 18.000 sampai Rp 23.000, buat anak sekolah yang jajannya Rp 3000-an sehari, butuh 1 atau 2 minggu buat bisa beli kaset. Perjuangan!

Setelah kaset terbeli, hampir tiap hari itu album saya puter di radio tape SIMBA yang ada di rumah nenek. Anak jaman dulu pasti tahu SIMBA lah, Arman Maulana juga pasti tahu. Dilalah, suatu saat temen sekolah saya pengen pinjem, kebetulan doi rumahnya deket jadi saya pinjemin tanpa curiga. Terus, DIA GAK BALIKIN DONG! SAMPE SEKARANG! Tcih, dikira gue lupa apah.

Untung begitu beranjak dewasa saya jadi wanita karir (Uhuk!), jadi cukup mampu beli lagu digital dan kemungkinan dipinjem terus hilang pun semakin menipis, ibarat isi rekening di tengah bulan.
Lama tak terdengar, terus saya sudah mulai beralih ke musik-musik Korea, tiba-tiba jelang akhir tahun lalu ada berita bahwa The Moffatts bakal konser di Jakarta, Farewell Tour katanya. Sebagai orang yang pernah baper sama lagu-lagunya dan demi nostalgia masa kecil, wajib hukumnya untuk hadir di konser mereka.

Bersama kawan saya, Wilda, kami memutuskan untuk menonton konser di Hard Rock Cafe Jakarta tanggal 19 Februari 2017. Tadinya kami mau sok-sokan nonton yang di Bali, biar kelas menengah ngeheknya total abis. Tapi rencana ke Bali sulit direalisasikan karena Wilda yang single, harus mengalah dengan kawan duetnya yang bakal cuti melahirkan. Kalo Wilda cuti juga, kantor berita kapitalis asal Inggris tempat doi kerja gak ada pemasok berita energinya.

Bersiap nonton The Moffats 
Memasuki awal tahun, saya cuma inget bakal nonton konser The Moffats bulan Februari bareng Wilda. Masalah tanggal ? Wah lupanya kacrut, kayaknya saya ampe nanya berkali-kali ke Wilda kapan nonton The Moffats dan berkali-kali juga Wilda jawab sambil kudu cek tiketnya dulu (pelupa). Ingatan yang tak sekuat dulu, akhirnya membuat kami saling berjanji untuk mengingatkan kalo tanggal konser sudah dekat. Ketika orang-orang beriman saling mengingatkan dalam kebaikan, saya sama Wilda malah saling mengingatkan dalam urusan ke-duniawi-an. Sungguh tak berfaedah.

Kamis, 12 Januari 2017

Terbang Bersama Gita Wirjawan

Ini bukan slogan baru maskapai penerbangan. Ini cuma cerita seorang bekas wartawan yang kegirangan bisa terbang bareng – satu pesawat – sama salah satu mantan menteri yang dikenal karena berparas rupawan. Bapak Gita Wirjawan atau #GantengWirjawan.

Di zaman SBY jadi presiden, entah kebetulan atau tidak, alhamdulillah ada beberapa pejabat yang wajahnya lumayan enak dilihat dan diperhatikan. Dulu, saya menyebutnya sebagai Ministers over Flowers (biar kaya Boys over Flower gitu). Mereka adalah ; Gita Wirjawan, Marty Natalegawa, dan Julian Aldrin Pasha. Oke, yang terakhir bukan menteri...tapi kan ada di lingkungan istana dan cakep juga, jadi tetep dihitung.

Kadang-kadang, biar genap jadi 4 dan dimirip2in sama F4, saya suka nambahin Ganjar Pranowo yang waktu itu masih di DPR. (Untuk bahasan Pak #GantengPranowo bisa dibaca di sini )
Nah, kalau liputan, apalagi para wartawan perempuan, lumayan lah kalo nara sumber yang ditemuinya ada salah satu dari pejabat F4 itu. Biar kata deadline ketat, isu berat, tetap ada setitik nikmat yang masih bisa kita icip-icip hanya dengan memandang mereka.

Sebagai wartawan ekonomi, yang paling sering saya lihat waktu itu adalah Pak Gita Wirjawan. Saya beberapa kali meliput beliau sejak jadi Kepala BKPM sampai Menteri Perdagangan. Inget banget pertama kali liputan beliau itu untuk liput capaian investasi kuartal iii , tahun berapa gitu. Saya yang waktu itu masih cupu, kerap terpana tiap kali beliau konpers.

#GantengWirjawan pic cr to google

Saat sesi tanya jawab, tiba tiba seorang wartawan ekonomi yang sangat senior dan fenomenal mengacungkan jarinya dan hendak mengajukan pertanyaan. Semula saya biasa aja, tapi kata pertama yang diucapkan si kakak wartawan untuk bertanya membuat saya khilaf, sampai merobek-robek rilis yang masih jauh dari syarat pressklaar itu.

Si kakak wartawan tiba-tiba menyapa Pak Gita dengan asiknya dengan sapaan, “Mas Gita, nanya dong.” MAS!! MAS!!!

Dekat kali si Kakak dengan bapak tampan ini, pikirku (ngapa tiba-tiba Batak?).

Ujungnya, saya pun mengetik berita sambil terus kepikiran dan diiringi api cemburu. Untung masih diiringi api cemburu, coba kalo sampai diiringi rombongan qasidah, pasti gak kelar tuh berita.


Selang beberapa tahun waktu terus berjalan, saya tetap meliput seperti biasa sambil curi-curi memuji ketampanan si bapak. Akhirnya, si bapak selesai jadi menteri, saya pun selesai menjadi wartawan. Hingga, pada tanggal 11 Januari 2017 sebuah keajaiban terjadi.

Saya yang kini bukan wartawan mendapat tugas untuk dinas ke Bali dengan seorang kawan. Yah, namanya pegawai biasa kami juga pasti naek pesawat biasa-biasa aja dong ya. Yang penting bisa terbang. Tanpa disangka, ketika mau antri masuk pesawat, tertangkaplah oleh mata ini kilasan wajah tampan yang familiar...(tsahh).

Beliau sedang duduk dan menatap hapenya dengan khusyuk, mungkin sedang hapalan doa atau surat pendek. Lalu, dengan sok dramatisnya, saya pun (sok) memberanikan diri untuk menyapa. “Pak Gitahhh?” kata saya , dengan intonasi aktris telenovela.

Cara menyapa Pak #GantengWirjawan


Pak Gita pun mengangkat kepalanya, reaksi normal kalau disapa. Yang gak normal itu kalo disapa terus angkat tangan, emang sini makhluk jadi-jadian. Kami pun lanjut bertukar sapa dan saling (tepatnya saya sih yang mengingatkan diri siapa saya sebelumnya) memperbarui kabar apa yang sekarang lagi dikerjakan.

Lalu, saya mohon diri untuk masuk pesawat duluan. Sambil masuk pesawat, saya jelas ga bisa nahan nyengir. Saya dan kawan saya dapat kursi di barisan lumayan depan, meskipun tetap di belakang pilot (ya iyalah). Kawan saya paling pojok, saya di tengah, kursi sebelah saya masih kosong.

Jeng-jeng, masuklah si bapak tampan dalam pesawat. Tiba-tiba dia berhenti di baris depan kursi saya. Ah, pikir saya, sayang amat. Coba aja si bapak duduk di sebelah saya, doa saya dalam hati.
E mamake, tau-tau si bapak ternyata beneran duduk di sebelah saya!! AH!!! Cepat kali kau kabulkan doa hambamu, Tuhan!! Sayang kali rupanya kau pada hamba satu ini.

Si bapak pun tersenyum dan menyapa kembali. Saya balas dengan senyum. Lalu sibuk untuk membuka hape lagi, sementara saya sibuk kasih tau kawan-kawan kalo saya duduk sebelahan ama orang ganteng. Karena saya rata-rata berteman sama wartawan, kalau kita mau cerita biasanya mereka minta bukti dulu baru percaya. Bingung juga saya sebenarnya, mereka itu kawan atau polisi, minta bukti muluuu.

Pesawat take off, saya deg-degan. Apa yang harus saya lakukan kalo duduk sebelahan ama bekas menteri yang masih tampan begini. Pastinya ngobrol dong ya, ya masa saya ajak mancing di pesawat.
Untungnya, pengetahuan saya seluas badan saya (ehem).

Sesekali si bapak membuka bukunya yang bertemakan ekonomi, dan mencoret-coret dengan pulpennya. Duh, pikir saya, tadinya saya kepikiran mau nonton drama sambil tunggu pesawat landing, tapi malu lah ya. Sebelah saya buka buku, masa saya nonton drama.

Biar gak kelihatan sebagai perempuan yang kebingungan, saya mencari buku di dalam tas saya, yang Alhamdulillah ada yang kebawa. Buku yang lagi saya bawa adalah karya penulis Jepang bernama Hiromi Kawakami berjudul “Strange Weather in Tokyo”.
Buku yang entah mengapa tiba-tiba jadi menarik saat duduk bareng Pak #GantengWirjawan

Buku ini sebenarnya udah dua bulan gak tamat-tamat saya baca, karena alurnya yang lambat dan topiknya yang aneh. Tau kenapa ? Karena ceritanya berkisah tentang perempuan umur 30 an yang jatuh hati dengan pria paruh baya.

Kok Ya saat itu tiba-tiba tema buku itu jadi menarik!!! Kok ya kayanya ngepasss atau dipas-pasin gitu. Somehow, saya merasa sangat terikat dengan cerita di buku itu, kayaknya bisa bayangin gitu dan udah dapat visualnya. Somehow.

Minggu, 08 Januari 2017

Apalah Arti Sebuah Nama ?


Inget dong ini dari drama apa ? pic cr to melissaleavesthevillage

Begitu kata William Shakespeare. Gampang sih buat Mbah Shakespeare bilang begitu, soalnya doi gak lahir di Indonesia. Di Indonesia, nama itu perkara penting dan sakral. Apalagi kalau si yang punya nama punya gelar bertingkat, kaya rumah susun, atau punya gelar yang membuktikan dia keturunan (bukan ke tanjakan apalagi ke belokan) bangsawan. Wajib hukumnya buat dicantumkan.

Selain buat pamer, nama di negeri ini juga kadang-kadang memiliki kode tertentu. Kadang kodenya berupa doa, singkatan peristiwa tertentu, rumus matematika, kode benda atau tumbuhan kesayangan, artis favorit,  dan bahkan kode produksi (apa inih!!).

Tapi itu hanya dilakukan orang-orang zaman dulu, kalau generasi sekarang hobi banget namain anaknya dengan nama yang susah dieja. Mungkin, ini karena mereka gak mau nama anak mereka sama kaya nama yang diberikan oleh kakek nenek ke ibu bapaknya.

Meskipun gak semua kaya gitu, masih ada beberapa kawan saya yang begitu punya anak namanya sangat bagus dan terdengar Indonesia (maksudnya ga kebarat2an atau kearab2an gitu). Mereka memilih nama dari bahasa daerahnya, sansekerta, atau bahkan alam sekitar.

Nah, ngomong-ngomong soal nama ini, kebetulan beberapa pekan lalu seorang kawan yang gabung di kumpulan perkawanan wartawan dan bekas wartawan yang mulai renta ada yang baru dianugerahi seorang putri.

Kawan ini kemudian menamakan putrinya yang baru lahir : Kirana Segara Bening artinya cahaya yang terang dari lautan yang jernih. Nama yang bagus.
Terus, tante-tante dan om-nya di grup itu mulai ribut deh soal nama masing-masing  dan rahasia di balik penamaan mereka.

Retno Ayuningtyas misalnya, dia mengeluh karena nama dari orang tuanya itu artinya : cantik di dalam. Jadi selama hidupnya, penampakan luar orang ini jutek dan judes banget. Kecantikannya bener-bener tersembunyi di dalam ( di dalam limit kartu kreditnya yang luar biasa dan sering dioptimalkan kawan-kawannya, tepatnya).

Ada juga Ayu Primasandi yang bingung apa arti namanya, selain kata Ayu yang yang artinya cantik dan Prima yang bisa diartikan pertama atau ganjil, lalu apa manfaat kata Sandi di namanya ?
Waktu itu gue menebak, mungkin arti keseluruhan namanya adalah : Anak pertama yang cantik hasil kode-kodean bapak dan ibunya. (Kodenya bagaimana ? Bisa ditanya ke produsen terkait).

Soal nama, jelas kawan-kawan kita yang berasal dari Padang selalu punya nama yang nyentrik. Nama yang kalau dibaca terkesan kebarat-baratan, tapi ditulis dengan ejaan lokal. Misal, Michael yang bisa berubah jadi Maikel – dibaca sama, ditulis beda-. Coba ditelusuri kawan-kawan yang berdarah minang, pasti ketemu deh nama-nama kaya begini.

Beruntung Kanye West lahir di Amerika jadi namanya gak ribet. Coba doi lahir di Tebet, yang bisa terbagi dari Tebet Barat Timur Dalam, Tebet Timur Dalam, Tebet Nasuha (Itu Tobat!), dan laen laen