Minggu, 29 Juni 2014

Review Buku : Eleanor & Park

Spoiler Alert!!

I’m so into this book lately, well…..at least sampai tadi pagi
This book gives me a sweet torture that I can’t never forget as per today.

pic cr to : google images

Eleanor & Park membawa kita mengingat kembali masa-masa muda (buat yang seumuran gue ya), era 90-an ketika masih berusia belasan tahun.  Zaman dimana U2 begitu digandrungi dan jagoan-jagoan marvel mulai menginvansi imajinasi.

Eleanor & Park adalah sepasang remaja yang ganjil. Berambut merah dan bertubuh besar, Eleanor menjadi gadis yang canggung dan tidak percaya diri. Sementara Park, lahir sebagai pretty boy berkat darah Korea dari ibunya memiliki daya tarik yang berbeda dengan remaja pria sebaya lainnya. Well, perlu diingat ini latar belakangnya tahun 90-an , boyband Korea belom diterima publik saat itu.

Park berjumpa dengan Eleanor di Bus Sekolah, entah bagaimana awalnya mereka menjadi duduk bersama di bus tersebut. Buat Park, Eleanor itu aneh dengan gayanya yang boyish. Begitu juga Eleanor, baginya Park hanya orang asing yang harus ia hadapi saat naik bus.

Mereka tidak pernah berbicara, sama sekali. Hingga suatu saat, Park sadar bahwa setiap dia membuka komiknya di bus, Eleanor diam-diam ikut membaca di sebelahnya. Anehnya, Park tidak merasa risih, dia justru sengaja membuka halaman demi halaman secara perlahan untuk memastikan Eleanor bisa membaca bersama. (D*mn You Sweet Boy!!)


Berawal dari itu, Park pun menyiapkan tumpukan komik untuk dipinjamkan kepada Eleanor. Dari sana, mereka pun mulai dekat dan berbicara satu sama lain. Awalnya cuma ngobrol isi komik, lalu lagu dan band favorit, hingga akhirnya Park mulai menggenggam tangan Eleanor secara diam-diam.

Gaya-gaya PDKT Park ini loh yang bikin sayah senyum-senyum sendiri, karena gayanya 90-an banget. Mulai dari ngajak pulang sekolah bareng, nunggu di bus jemputan (Beh! Andai temen2 mobil jemputan gue SMP dulu ada yang sekece Park!), sampai janjian buat telpon-telponan dari rumah. Yes , telepon-teleponan literally pakai telepon rumah.

Masalahnya hubungan Park dan Eleanor gak melulu lancar jaya. Park dan Eleanor tumbuh dengan kultur dan latar belakang keluarga yang berbeda, apalagi Eleanor yang merupakan putri tertua dari keluarga yang semrawut. Eleanor dengan adik-adiknya yang masih bocah, ibunya yang cantik namun lemah, ayah kandungnya yang tidak acuh, dan ayah tirinya yang bajingan dan kriminal.

Gak heran kalau buku ini bisa mejeng di rak buku terlaris hampir di setiap toko buku impor. Alurnya yang lambat sengaja memberi kita ruang untuk sedikit demi sedikit mengingat rasanya jatuh cinta untuk pertama kali di usia remaja.

Gaya penuturannya pun beda dengan buku kebanyakan. Di buku ini, Rainbow Rowell menulis dengan dua sudut pandang (baik dari Eleanor maupun Park) , tapi dari sisi orang ketiga. Inih yang bikin gemessss bingitz!
Hampir gak ada kekurangannya kecuali di bagian ending, makanya sayah sebut ini buku sweet torture abis. Gue jadi paham perasaannya Hazel Grace sampe ngotot ke Belanda buat ketemu Peter Van Houten dan maksa ngasih tau ending buku ‘Imperial Affliction’.

See?!! Persis, ini yang lagi gue rasain…gue pengen nyamperin tuh si Rainbow Rowell buat kasih tahu apa yang pengen gue tahu secara spesifik, soal tiga kataaa aja dari isi buku itu.
Well, buku ini sangat recommended buat dibaca pokoknya sambil nunggu bedug magrib. Terutama buat kalian para lajang yang sel-sel romantisnya udah mulai kering, wajib baca dahhhhhh…hehehe
Enjoy!

Kamis, 26 Juni 2014

Review Buku : The Selection (Trilogy series by Kiera Cass)

Pernah baca Twilight ?

Tahu kisahnya Cinderella ?

Pasti udah pernah nonton Hunger Games dong ?

How do i smell, prince ??? euuuuu

Nah, kalo gitu ….cukup dicampur adukkan saja semua info yang kalian dapat dari sana, kurangi unsur vampir dan perang, serta bunuh-bunuhannya. Jadilah novel ini.

Well, baca buku ini awalnya karena tertarik covernya yang dipajang di rak paling depan..alias rak khusus buat buku-buku paling laris di Kinokuniya. Apalagi di sampulnya juga ada embel-embel “New York Times Best Seller”, makin penasaran lah gue.

Berhubung harganya lumayan mahal, tapi ngebet banget pengen baca, akhirnya gue beli versi digitalnya aja. Lumayan murah banget , kalo di toko buku sekitar Rp 120 ribuan, versi digital bisa sampe separoh harga di android.

The Selection ini trilogi, seri keduanya itu The Elite dan terakhir The One. Sekali baca buku yang pertama, kita akan disiksa oleh si pengarang untuk memastikan nasib si tokoh utama – yang dari awal udah jelas kita tahu siapa yang bakal dipilih – sampai ke buku ketiga. Yup, itu artinya emosi kita dimainkan oleh si penulis untuk menunggu para tokoh utamanya , akhirnya, menyatakan cinta di buku terakhir. Nyebelin.

Ketiga seri ini bercerita soal America, gadis remaja berambut merah, yang mengikuti seleksi untuk menjadi pasangan seorang pangeran menawan di suatu negeri bernama Illea. Illea ini, FYI, adalah sebuah negeri yang terbentuk sesudah perang dunia ke IV. Perang dimana Amerika Serikat yang sangat digdaya itu akhirnya takluk oleh Cina.

America mengikuti seleksi karena terpaksa. Pertama karena permintaan orang tua, dan kedua karena dorongan pacarnya yang sangat tampan tapi berkasta lebih rendah darinya. Tanpa disadari, iseng-iseng ikut seleksi, tau-tau America lolos menjadi salah satu dari 35 kandidat calon manten Sang Pangeran.

Tak lama sejak mengetahui kabar tersebut, si pacar tampan bernama Aspen pun memutuskannya karena masalah klise pasangan terlalu muda. America pun kabur ke istana untuk mengusir galaunya.

Di istana, America jelas ketemu dengan si Pangeran Maxon (yang menurut dia gak tampan, tapi cukup menawan dan berkharisma). Pangeran Maxon ini ternyata perjaka yang baik hati dan mudah jatuh cinta. Dia memberi perhatian lebih kepada America, namun harus tetap berlaku adil kepada 34 kandidat wanita cantik lainnya….iyeuh.

Dari sini aja kalian pasti udah bisa nebak siapa bakal jadi ama siapa kan ? Ya udah gak usah gue ceritain lagi.

Sebenarnya, dari sisi penulisan cerita udah cakep banget…mengalir. Meskipun kita membaca dari sudut pandang si America yang sangat Isabella Swan ‘Twilight’ sekali. Pasti paham deh gemesnya …(Gue sih sering maki-maki sendiri jadinya, ih bego amat jadi cewekkk..itu udah jelas banget! Gitu)

Senin, 23 Juni 2014

Movie Review : Like Father Like Son (Soshite Chici Ni Naru - 2013)

Keita dan Ryosei-nya....imuttt banget ^^
Tema soal anak yang tertukar, tanpa harus ada Nikita Willy di dalamnya, ternyata bisa menjadi drama yang menyentuh. Film produksi Jepang tahun 2013 mengangkat kisah orang tua yang putra-putranya ternyata tertukar, dan mereka baru mengetahui bahwa putra yang mereka asuh selama ini ternyata bukan putra kandungnya enam tahun kemudian. Jeng...Jeng..Jeng

Bagi Ryota Nonomiya (Fukuyama Masaharu) hidupnya sudah sangat sempurna, sukses di karir dan rumah tangga. Memiliki Midori,istri yang cantik,dan anak yang manis bernama Keita.
Sementara, jauh dari mereka, anak kandung Ryota dan Midori dirawat oleh Keluarga Yodai.
Yodai dan istrinya, Yukari, membesarkan Ryosei seperti anak kandung mereka. Beda dengan Keita yang menjadi anak tunggal, Ryosei tumbuh menjadi kakak bagi dua adiknya.

Kehidupan yang dijalani Keita dan Ryosei pun berbeda jauh, Ryosei biasa dikelilingi dengan keluarga yang ramai dan hangat. Sementara Keita, sudah terbiasa dengan Ayahnya yang dingin dan ibunya yang cukup protektif.

Mengetahui bahwa putra yang mereka asuh dan rawat selama ini bukan putra kandung mereka, kedua keluarga itu pun bimbang dan konflik perlahan bermunculan.

Apakah mereka akan melepas putra yang selama ini mereka rawat ?

Jujur, film ini sangat heartbreaking dan tearjerking T.T ...meski alurnya bisa dibilang aga lambat. Tapi adegan demi adegan cukup ampuh mengaduk-aduk emosi yang nonton.
Mulai dari marah, kenapa rumah sakit bisa seteledor itu ?
sedih, terutama soal nasib kedua anak tersebut
bingung, ketika si orang tua dihadapkan pilihan untuk memilih mana yang akan mereka rawat ?



Gue acungin jempol buat akting semua pemerannya, bahkan si aktor cilik, dan Sang Sutradara. Mereka bisa mengekspresikan pergelutan emositanpa harus ada adegan monolog atau si aktor berbicara pada diri sendiri seperti kebanyakan yang ada di sinetron-sinetron kita. Cukup dilihat dari tindakan dan ekspresi saja.

Waktu Ryota harus memilih antara Keita atau Ryosei, dia pun gamang. Apalagi ada dorongan dari Ayah Ryota yang menyatakan bagaimanapun ikatan darah tidak bisa bohong. Seorang anak, semakin besar akan semakin mirip ayahnya.

Hal itu terjadi pada Ryosei yang sempat kabur dari rumah, Ryosei mengingatkan Ryota pada masa kecilnya sebagai anak yang nekat. Lalu, apa Keita sama sekali tidak menurunkan bakat atau prilaku Ryota ?
Ternyata enggak, meski bukan sedarah, tanpa disadari pribadi Keita saat ini sangat mirip dengan Ryota. Mulai dari hal remeh seperti gaya foto dan sifat pendiamnya.
Ryosei juga, dia memiliki kebiasaan persis seperti Yodai yang hobi mengigit sedotannya.

Film ini, tanpa menggurui, berhasil memberikan gambaran yang utuh soal hubungan ayah dan anaknya. Bahwa bagaimanapun, ada hubungan darah maupun tidak, seorang anak akan terpengaruh dengan kebiasaan dan pribadi si ayah.

Rekomendasi banget buat ditonton, soalnya nih film sempat masuk nominasi Palme d'Or di Festival Film Cannes 2013 dan memenangkan Jury Prize. Wow.

Di film ini, gue ngefans berat sama Keita...itu anak matanyaaaaaa...ya ampun. Aktingnya di beberapa adegan bahkan sanggup membuat gue menitikkan air mata, ekspresinya yang seakan gak percaya, marah, dan sedih sekaligus bisa terpancar di matanya yang jernih itu. Dek, kalo udah gede tetep jadi aktor ya.

Ngomong-ngomong soal kemiripan ayah dan anak, gue juga baru tahu satu hal. Selama ini, gue selalu bilang ke kawan-kawan kalo punya duit lebih (banyak banget), suatu saat gue bakal beli tuh jam tangan merek Tag Heuer. Gak tahu kenapa, gue suka banget ama itu jam tangan.
Belakangan gue baru tahu waktu ngobrol ama Bokap, kalo dia juga punya niat( begitu punya duit lebih) mau beli jam tangan Tag Heuer....
well yeah...sekarang kayanya gue baru tahu alasan gue apa. Ini cuma karena selera Bokap yang menurun ke gue. See!!
Like Father Like Daughter.

Gimana dengan kalian ?

well, enjoy the movie ^^

Korean Drama Currently Watching

Dear all, berhubung banyak yang nanya drama korea apa yang lagi gue tonton. Berikut langsung gue lampirkan drama-dramanya

1. Hotel King


Drama ini mempertemukan kembali couple idola gue jaman bahela, Lee Dong Wook dan Lee Daa Hae. Gue suka banget sama mereka sejak Drama "My Girl" 2005 lalu. Terus....gue ga bisa menampik juga pesona Lee Dong Wook di setiap drama dan film-film dia. I'm his biggest fan!!
Seperti sebelumya, chemistry pasangan ini juga luar biasssssa. Genrenya bukan komedi romantis sih,setengah thriller dan misteri gitu. Tapi cuekin aja...yang penting Lee Dong Wook-nya ganteng dan hobi buka baju di sini.

Ceritanya lumayan unik, karena setiap episodenya kita ga tahu siapa sih yang jahat sebenarnya ?? Gimana sih masa lalu tiap karakter di drama ini yang masing-masing jadi misterius gitu.
Gue mengikuti drama ini wholeheartedly, taunya ini drama panjangnya 32 episode. Alamak!
Tayang saban Sabtu-Minggu, setiap ending episode mengawali mood gue untuk awal pekan.



bonus, bonus, bonus


2. Witch's Romance

Buat menetralisir rasa frustasi nonton Hotel King, gue lari ke drama ini. Manissss banget, komedi romantis ala TVn gitu.  Ceritanya soal reporter single usia 39 tahun ditaksir sama berondong tampang 25 tahun. Tuh kannn, gimana gue gak suka coba?!
Yang main si tante Uhm Jung Hwa, pemain lakinya masih pemain baru. Tapi ceritanya lucuuuu...recommended buat yang mau cerita  ringan dan menghibur.

3. You are all Surrounded


Drama pengganti "You Who Come From The Star" ini rating-nya paling tinggi dan tayang di SBS. Wajar aja sih, secara pemainnya penuh bintang-bintang terkenal gitu mulai dari Lee Seung Gi, Cha Seung Woon, dkk. Ceritanya unik, soal lika-liku dunia polisi. Genrenya komedi romantis.

4. Angel Eyes


Huffff..... apa cuma gue yang merasa kalo sesi waktu kecil mereka lebih menarik ketimbang saat dewasa ?
Sayang banget drama ini jadinya terlalu klasik, pemeran prianya terlalu sempurna dan makin ke sini makin boring. Jadi gue stop di episode 9.

5. God'z Quiz season 4


Jelas gue nonton ini cuma karena Lee Dong Hae maen di drama ini. Hahahahhaha....babangggg XD *no need more reason, no need story, just Donghae!*

6. Roommate


Ini bukan drama sih, tapi reality show baru..yang maen Lee Dong Wook, Chanyeol EXO, Park Bom 2NE1.. hehehehhe. Kalo di Hotel King si Dong Wook ini perfect banget, di reality show ini dia bloon abis huahahaha.


Sekian rekap untuk tontonan saya di musim ini, enjoy ^^

Minggu, 22 Juni 2014

Prabowo atau Jokowi ?



"Mbak, pilih Jokowi atau Prabowo buat jadi presiden ?"

Ini sudah supir taksi ke-4 selama empat malam berturut-turut yang menanyakan hal serupa pada saya. Alih-alih memberi jawaban, seperti biasa, saya hanya memalingkan wajah saya sebentar dari telepon genggam dan menatap si Pak Supir lewat kaca tengah.

"Kalau Bapak, pilih siapa ?"
"Saya pilih Prabowo saja, Mbak," jawab dia.

Si Bapak pun panjang lebar menuturkan alasannya, saya dengarkan sambil tersenyum saja. Sesekali saya tanggapi dengan kata-kata yang menunjukkan rasa sepakat dengan pendapat si bapak yang tampaknya berusia 45 tahunan itu. Bukan sekedar untuk menghargai, karena saya tahu rasa sakit tidak didengarkan oleh lawan bicara, tapi memang saya setuju untuk beberapa hal yang jadi nilai jual positif si kandidat tersebut.

Untuk yang kontra, saya sedang malas berdebat karena terlalu lelah habis bekerja.

Tukang taksi belakangan ini seperti pengamat politik, bukannya mereka tidak boleh bicara soal politik ya. Mereka jadi begitu serius memikirkan negeri ini, padahal ini musim bola. Tapi seminggu terakhir sejak piala dunia berlangsung, saya belum pernah menemui tukang taksi yang menanyakan kepada saya siapa tim yang saya jagokan. Demam piala dunia hampir tidak ada, baik di taksi biru maupun putih.

Saya tidak kenal dengan para tukang taksi ini, namanya begitu saya menulis di blog ini pun sudah tidak ingat. Tapi, obrolan dengan mereka di kepala saya sangat membekas. Dari empat tukang taksi yang saya tumpangi, dua memilih Prabowo dan dua lagi memilih Jokowi. Kedudukan imbang.

Alasan mereka beragam, latar belakang mereka juga. Ada yang karena kemacetan Jakarta, silsilah, aura dan kharisma, kinerja, agama, partai politik, dan oh...Macan Asia.

Mungkin saya bukan orang pertama yang mereka tanya saat itu. Bisa jadi saya orang ke beberapa belas yang mereka tanya pendapatnya. Naluri sebagai pencari berita, jadi saya biarkan saja bapak-bapak itu bercerita sepanjang argo berjalan.

Saat ada jeda, saya kembali bertanya. "Jadi Bapak sudah yakin dengan pilihannya ? Lalu mengapa tanya saya pilihan saya?"

Uniknya, empat supir taksi itu memiliki jawaban serupa. Mereka seperti membuat survey kecil-kecilan pada penumpang mereka. Kata kuncinya satu, penasaran. 

"Saya ingin tahu saja pendapat orang, Mbak. Siapa tahu ada info yang belum saya tahu."
"Penasaran aja, Mbak. Kira-kira calon saya ini kuat gak ya."

Begitu rata-rata jawabnya. Mereka ingin mengukur kekuatan kandidat mereka sekaligus mengukur pengetahuan mereka soal kandidatnya.

Lalu saya tanya lagi. "Terus, rata-rata jawaban penumpang apa?"

Ternyata tidak ada jawaban pasti. Menurut survey para tukang taksi itu, yang saya yakin penumpangnya sangat beragam , kedua kandidat masih sama kuat. Ada yang pilih Jokowi, tidak sedikit juga yang pilih Prabowo. Yang cuek ? Tentu juga banyak.

Persis, dalam hati saya, wong kedudukan suara untuk empat tukang taksi yang saya temui saja masih sama kuat.

"Jadi, mbak-nya pilih siapa ?" Si Bapak tetep ngeyel bertanya.

Saya pun iseng menjawab. "Kalau pilihan saya beda sama Bapak, apa Bapak bakal suruh saya turun di tengah jalan begini ?"

Si Bapak pun membantah sambil tertawa.

"Terus, kalau saya pilih kandidat Bapak, apa Bapak mau gratisin saya ? Atau paling gak kasih saya diskon nih ongkos taksinya. Gimana ?"

"Ah, si Mbak bisa aja." Si Bapak pun lanjut menyetir taksinya dan kembali mengencangkan radio.

Musim kampanye begini memang ada enak dan gak enaknya. Enaknya, kita bisa tahu dan berdiskusi dengan siapapun soal politik tanpa takut sesuatu. Semua orang bisa berbicara, beranalisa, bahkan berbusa menjabarkan masalah bangsa.

Masyarakat jadi aware soal masalah negara selama ini, dan kira-kira apa solusi yang dibutuhkan (yang sebenarnya dari dulu masalahnya sama aja). 

Tidak enaknya, semua berubah jadi hakim.
Kalau saya pilih nomor satu, saya bakal dicaci oleh pendukung nomor dua.
Kalau saya pilih nomor dua, saya dimaki-maki oleh fans si nomor satu
Kalau saya tidak pilih keduanya, kedua pendukung bakal menghina saya sebagai warga yang tak acuh.

Serba salah.

Sedih sebenarnya, apalagi di jejaring sosial mulai beragam kampanye negatif dan kampanye hitam kedua kandidat. Padahal keduanya bukan calon yang sempurna, ada cacat dan ada salah.
Dari yang semula kawan-kawan merasa well informed meningkat ke tahap sotoy, merasa mendukung jagoannya sudah yang paling benar dan yang berlawanan itu adalah kelompok yang bodoh.

Mending kalau dia kawan kita ya, ada yang cuma sekedar kenal saja misalnya. Saya merasa belum pernah berkawan dengan dia, lalu buru-buru menghina dan menyindir. Bilang saya sampai hapus pin BB cuma gara-gara beda pilih presiden. Please deh, BB saya hilang setahun lebih dan sejak saat itu tidak pakai BB lagi. Makanya saya bilang, kawan bukan..sotoy iye. GR banget dah situ kontaknya saya ilangin gara2 capres doang.

Lagipula, jujur saya juga tidak suka info-info dari situs tertentu yang wartawannya saja gak ada di lapangan. Viva, Detik, dkk masih saya hargai karena jelas kawan-kawan saya bekerja di sana. Dan saya tahu bagaimana posisi mereka. 

Memilih presiden seakan memilih yang hitam atau yang putih, padahal keduanya abu-abu.

Saya cuma bisa geleng-geleng kepala aja. 

Jelas saya berpihak, siapa yang tidak berpihak ? Tuhan saja berpihak.

Saya berpihak bukan karena saya berada dalam jamaah atau kelompok tertentu yang kebetulan mendukung para kandidat. Bukan karena perintah apapun dan permintaan siapapun.

Saya berpihak bukan karena tempat saya bekerja. Apalagi keluarga, jujur keluarga saya pilihannya berbeda-beda. Lalu apa ? Toh kami masih menyebut diri kami sebagai keluarga.

Saya berpihak juga bukan karena kawan-kawan saya.

Saya berpihak berdasar pengetahuan yang miliki , yang tentunya terbatas. Saya berpihak berdasar pengalaman saya selama ini dan apa yang saya ketahui dari bidang yang saya dalami beberapa tahun belakangan ini.

Saya berpihak dengan mempelajari solusi, bukan wacana atau janji, yang ditawarkan oleh mereka. Saya tidak mendengar retorika, tapi inti dari yang mereka sampaikan di debat kedua kandidat selama ini. Ya buat saya, hal teknis itu perlu.

Saya berpihak karena pertemuan dan interaksi saya dengan para kandidat yang diusung-usung saat ini.

Saya berpihak karena saya menyaksikan, mendengar, dan mengalami sendiri.

Bertahun-tahun saya menulis soal BUMI.
Bertahun-tahun saya nyemplung ke dunia energi, bertemu dengan para pemangku kepentingan dan mendengar kesaksian mereka. Jauh sebelum Prabowo atau Jokowi maju sebagai Capres.
Ratusan kali saya menelusuri masalah ekonomi negara ini dan mencari biang keladinya.
Semuanya ada di kepala saya, dan kalau kalian tidak malas membaca, ada di berita-berita ekonomi media apapun selama ini. Jauh sebelum kedua kandidat maju bersaing.

Saya berpihak karena saya harus menggunakan hak saya sebagai warga negara. Sekaligus melaksanakan kewajiban saya yang paling sederhana. Saya hanya mencoba, seperti kata kawan saya, menjadi Good Citizen.

Saya berpihak, karena saya berharap setidaknya negara ini bisa lebih baik.

Kalau kalian menilai saat ini saya keliru, setidaknya pilihan saya ini hasil ijtima saya. Salah atau betul tetap dapat pahala.

Toh pilihan saya yang lalu juga kalah, kali ini SBY yang pimpin. Bukan pilihan saya jelas, tapi pilihan kalian , mungkin, yang dulu mendukung dengan segala pujian lalu sekarang melepas dengan penuh cacian.

SBY bukan pilihan saya. Tapi saya tetap mengapresiasi apa yang dia pernah lakukan selama ini. Kebebasan media, naiknya harga BBM, larangan ekspor tambang mentah, pertumbuhan ekonomi yang lumayan, pengadaan yang lebih terbuka, tetap harus dipuji.

SBY bukan pilihan saya, tapi saya tetap mengawasi dan mengawal dia hingga saat ini setidaknya. Ketika kalian asyik-asyikan bermain opini dan wacana soal calon presiden, saya tetap melakukan pekerjaan saya dengan mengkritisi kebijakannya di akhir-akhir periode.

Seperti yang kawan saya bilang, saya cuma mencoba untuk jadi Good Citizen.

Siapapun yang terpilih nanti, kalian harus ingat itu pilihan kalian. 

Wallohualam bis showab.




Selasa, 17 Juni 2014

e-Book Buat yang Sibuk


Well, setelah sekian lamaaaaaa (banget) gue tidak menamatkan buku. Akhirnya kali ini gue berhasil menamatkan tiga buku sekaligus dalam dua hari! Yeayyyy....

Untuk merayakannya gue mewajibkan diri untuk mereview buku tersebut di blog yang (almost) famous ini!

Tapi itu nanti. First of all, sebelom masuk ke review di posting mendatang, gue mau cerita dulu kenapa gue bisa melumat tiga buku dalam dua hari. Apa gue punya waktu seluang itu ? Yes , i have ternyata and all thanks to technology named e-Book.

E-book sebenernya bukan barang baru, tapi baruuuu bisa gue optimalin belakangan hari. Buat baca buku digital biasanya dulu gue baca format PDF di laptop ato hape...tapi ga nyaman banget dan PDF means illegal. Jadi gue merasa bersalah pas bacanya...*tapi tetep gak mau dihapus..hiks*

Aplikasi buku digital sebenernya bisa optimal dari dulu seandainya Apple cukup percaya sama Indonesia :( , tapi berhubung perkakas Apple yang gue punya cuman Ipad...ga ngaruh juga. Masih terlalu gede dan ga praktis.

Yup, dulu gue bisa baca novel sambil duduk di bus. Tapi sekarang ga banget, soalnya ; 
1. Berat , 2. Pusing, 3.Gak kece..... (Alasan nomor tiga bisa diputer ke pertama). 
Ya iyalah, misal di bus ato di tempat umum ketahuan lagi baca "50 Shades of Grey" misalnya.....kan tengsinnnnn. Nanti gue dikira perempuan berimajinasi liar (padahal iya).

Nah seorang kawan dekat menyarankan gue pakai aplikasi gugel, playbooks. Dan wuohhhh ajaib! Bukunya update, harganya lebih murah ketimbang beli di toko buku , dan praktis karena enak dibaca meski di layar hape gue yang sekitar 3,5 inchi kayanya. And.....amazingnya sambil baca di hape ga bikin pusing-pusing amat ternyata.

Gue bisa baca sambil nunggu narsum, nunggu rapat, nunggu buang hajat, dan nunggu jodoh datang. Wow..mejik! Gue pun sadar ternyata emang waktu buat menunggu itu mubazir klo ga dimanfaatin.

Buat beli e-Book lumayan lengkap emang paling nyaman masih di android. Ada beberapa toko buku yang nyediain jasa buku digital kaya Gramediana atau Scoop..tapi koleksinya sedikit. Hiks. Sementara gue sebagai ratu update itu ga mau ketinggalan apapun yang lagi booming di luar sana alias kepo ga ketulungan kalo denger2 ada yang lagi jadi bahan omongan ama warga luar.

Cuma emang kelemahan buku digital versi android ini, meski kita udah bayar, tetep mesti baca dengan sambungan internet. Ga kaya iBook Apple, sayangnya ya itu Apple belom percaya penuh buat jualan buku di Indonesia kayanya. Padahal gue janji,klo dia mau buka akses gue bakal hapus semua memori gue tentang mantan gebetan *lohhhhh*.

Soal harga, gue ga bohong. Kemarenan gue beli The Selection by Kiera Cass di playbook cuman Rp 60ribuan. Sementara klo beli buku jadinya, yang gue lihat di Kinokuniya, bisa sampe Rp 120ribuan. Tuh kannn!

Masalahnya emang godaan jadi makin berat, tanpa berasa gue udah beli 4 buku di ini aplikasi. Gak berani gue liat tagihan kartu kredit bulan depan, apalagi stiker-stiker alay di LINE makin menggoda....ahhhhhhh..

Baiklah, sebelom saya tutup tulisan ini saya mao promo sesuatu dulu dari kawan saya. 

Bagi yang hobi baca cerpen, novel yang inspiratif...monggo loh ikutan lomba nulis di bawah ini. Deadline-nya masih 1 Juli besok..bisa dikebut lah ya. Siapa tahu bisa dapat hadiah Umroh...

Info lengkap bisa kontak yang ada di gambar ya....



Wassalam
(Berhubung abis ngumumin lomba nulis yang syariah , nutup pun pake salam. Padahal tadi pas di awal  ga dibuka ama salam....heheheh)