Senin, 25 Desember 2017

Piknik dan Melihat Panda di Taman Safari



Foto lokasi Istana Panda, Taman Safari- Bogor 
Cuy, ini tulisan gue ke-4 tentang Taman Safari di blog ini dan ini menunjukkan betapa seringnya gue ke sini. LoL.


Okay, alasan gue ke Taman Safari kali ini adalah karena emak dan bapak gue pengen ngelihat panda. Padahal gue dah coba melobi mereka, ngapain coba jauh jauh ke Taman Safari? lihat panda di youtube aja …ato liat gue, udah mirip beut gini ama panda. Buletnya.

Tetapi emak gue pantang menyerah, dan berhubung agak panjang liburan kali ini ya udah gue penuhi aja permintaannya daripada gue dikutuk jadi batu. Batu berdahak apalagi..gak enat beut soalnya (ITU BATUK, GUS!)

Sebenarnya ke Taman Safari gak bosanin amat, apalagi gue juga pengen lihat pawang-pawang macan nan kekar ituh.

Iya, pawang yang ini. Namanya Mas Fajar, tapi sayang gak kesampean..hiks 


Berhubung libur panjang dan antisipasi macet, kami sekeluarga jalan dari jam setengah 7 pagi dengan perkiraan sampai sana jam 9. Soalnya, gue berangkat dari rumah gue yang berada di Cibinong dimana kalau jam normal cuma butuh 45 menit untuk sampai kawasan Puncak, Bogor.

Tetapi kami salah hitung saudara-saudara. Macetnya minta ampun, meski kami udah berada di Puncak dari jam 10, kami baru berhasil masuk Taman Safari jam 11 karena saking antrinya.

Untuk masuk Taman Safari harga tiketnya yang biasa seharga Rp 180.000, sementara kalau mau ditambah Panda jadi Rp 230.000 per orang. Pricey, yes!
Untuk turis asing bisa Rp 300 ribu, gak tahu deh kalo makhluk asing.

Setelah membayar untuk rombongan sebanyak 7 orang, sejam kemudian kami baru tahu Pak Jokowi juga main ke Taman Safari, dan puluhan mobil yang ada di depan serta belakang rombongan beliau jadi digratisin masuk Taman Safari (ASEM!)

Keliling-keliling lihat satwa dari mobil, kami akhirnya sampai dalam Taman Safari sekitar jam 12.30. Supaya tetap strong, kami putuskan makan siang dulu dilanjut solat lalu ke tempat panda, karena untuk lihat panda ini lokasinya berbeda.

Selesai solat, makan, dan lihat gajah-gajah eek akhirnya kami berjalan untuk lihat panda. Serius, informasi untuk melihat panda ini simpang siur abis. Kami sekeluarga parkir di Parkir A yang paling bawah, sementara untuk lihat panda kita harus ke lokasi Parkir D yang paling atas banget (dekat atraksi Cowboy dan lumba-lumba).

Sebenarnya, untuk ke Parkir D kita bisa pakai kereta kecil yang available di A tapi bayar tiket dulu sebesar Rp 25 ribu (pemerasan!). Yah gue pikir ngapain keluar duit lagi kan, mending jalan.

Ini karena gue yang rada budek sih, gue dengernya untuk menuju konservasi panda bisa naik bis di parkir B. Gue udah di halte B, taunya di D, jadilah gue dan keluarga harus menanjak nanjak lagi. Alhasil…..gempor abis nyah!

Seinget gue berkali-kali ke Taman Safari baru kali ini kayaknya capek banget, maklum faktor umur, berat badan, dan beban tiket yang semakin mahal.

Ngos-ngosan hampir selama 30-40 menit akhirnya kami sampai ke Parkir D. Dari sana kami disediakan bus gratis untuk ke tempat konservasi dengan antrian per baris 6 orang. Gue akuin ini rapih banget. Meskipun saat itu Taman Safari rame banget, pengelola tetap memastikan untuk kunjungan ke panda tidak terlalu padat supaya hewan tidak stress.

Meskipun jadinya pengunjung yang stress, udahlah tiket makin mahal, bermacet- macet ria, jauh, ngos-ngosan, antri, huahaha.


Lokasi panda ini emang dibedakan, mereka ditaruh di tempat tertinggi di Taman Safari dengan suhu khusus jadi gak sampai di atas 25 derajat.

Perjalanan dari Parkir D ke lokasi konservasi memakan waktu sekitar 7-10 menit dengan jalan berliku dan menanjak. Entah karena kebetulan gue dapat satu bus yang norak semua isinya atau gimana, tiap ada tanjakan dan tikungan satu bus teriak semua. “Wuooooo” …”Eyyyy”…”Eyaaaa” kayak nonton final badminton.

Sepanjang jalan kita akan lihat banyak pohon bambu dan udara pun mulai berasa dingin. Begitu sampai, seluruh penumpang bus girang dan tepuk tangan. Norak emang, haha.

Sampai sana kita akan disambut oleh sepasang patung panda Hu Chun dan Chai Tao , serta monumen Teh Botol Sosro. Jangan tanya gue kenapa ada teh botol segala.

Pertama menginjakkan kaki di taman panda ini, gue akuin gue takjub banget. Pemandangan di puncaknya serta penataan lokasinya bikin gak berasa kaya ada di Cisarua.

Udah kayak di luar negeri kan penampakannya?


Kami disambut gerbang dengan nuansa khas negeri tirai bambu, istananya pun mengingatkan gue akan lokasi kuil Kungfu Panda. Lucu banget deh. Saat masuk, kita akan disambut sama restoran dengan nuansa khas mandarin, lalu si embak-embak akan dengan ramahnya memberi tahu kita.

“Selamat datang, silakan berkunjung ke restoran kami. Untuk melihat panda bisa langsung ke lantai 3.”

Meski kami iba sama embaknya, karena makanan di sana mahal, kami putuskan langsung ke lantai 3. Di setiap lantainya ada semacam sketsa-sketsa khusus, mulai dari panda bawa truk, panda di rumah sakit, atau skala ukuran panda dengan hewan sejenis; beruang madu, beruang, beruang kutub, gue.

Di lantai 3, kita diajak oleh petugasnya untuk bergantian menonton film tentang Hu Chun dan Chai Tao tentunya tidak dalam bentuk 3gp (meski kedua panda itu tak berbusana). Untuk menontonnya ini kita harus bergantian masuk jadi sambil menunggu jatah nonton kita bisa foto-foto di sketsa-sketsa yang disediakan.

Kamis, 21 Desember 2017

Karena Jonghyun Bukan Sekedar Idola Plastik





“Noona, you’re so pretty.”

Begitu arti salah satu penggalan lirik untuk lagu debut SHINee pada pertengahan 2008, sembilan tahun lalu. Penggalan dari lagu pertama mereka dengan judul “Replay”.

Noona itu kira-kira artinya sama kayak Teteh, Cece, atau Mbak di Indonesia. Jadi kalau di-Indonesiakan lirik itu artinya kira-kira begini ; “Mbake ayu tenan” , “Teteuh meni geulis euy”

Lagu sembilan tahun lalu dan membuat dengkul embak embak macam gue lemes begitu mendengarnya. Jatuh cinta di lagu pertama, lalu mendengar lagu-lagu berikutnya mulai dari Ring Ding Dong yang berlirik aneh, Lucifer, Dream Girl, Stand By Me, Sherlock, Hello, dan lainnya.

Dari lagu lalu beralih ke reality show dari yang mereka masih imut-imut tapi harus jaga bayi di Hello Baby, sampai mereka bertransformasi jadi pria – pria maskulin dan kompetitif di Running Man. Kalau kata kami, dari Taemin sampe jadi TaeMAN.

Sembilan tahun lamanya, ada kalanya kami sibuk dengan pekerjaan, sekolah, kampus, atau bahkan rumah tangga. Sampai gue sendiri bahkan gak aware dengan album-album terakhir SHINee dan lebih banyak melihat kegiatan solo mereka.

Perjalanan sembilan tahun yang mulai dari level tergila-gila sampai agak abai dengan boyband ini. Sampai kami membaca kabar yang sulit dipercaya tentang meninggalnya vokalis utama boyband yang punya kontribusi menyebarkan virus Kpop ke dunia ini. Jonghyun dikabarkan meninggal karena bunuh diri.

Tadinya sih gue sok strong, meski ngelihat para pelayat-pelayat di rumah duka pengen mewek juga. Sampai akhirnya tadi baca surat dari Key untuk Jonghyun, lalu aku mewek sampe mbrebes mili….

Pertanyaan dan pernyataan orang rata-rata hampir sama pas gue bilang gue sedih banget. “Alay lo, Gus!” “Kok bisa sih sesedih gitu?”

Jawaban gue, ya bisalah sedih gimanapun kan gue belom terbuat atau dikutuk jadi batu, jadi pasti sedih lah. Soal alay tadinya gue mau cuek aja, apalagi ngelihat di twitter atau bahkan acara tv juga ada yang ikut mengejek-ejek kematian Jonghyun.

Gue bener-bener tadinya mao cuek-cuek ajah, sampai ada postingan yang intinya berkata Jonghyun cuma satu plastik yang ditangisi berlebihan. Lalu ada korban-korban kejahatan kemanusiaan laen yang mestinya gue tangisi.

Halo, Mas-nya sehat?
Gue cuma mao kasih tahu aja, rasa sedih atau duka itu bukan buat dibanding-bandingkan. Tentu aja rasa duka gue ini gak bisa dibandingin rasa duka ketika melihat korban perang Palestina atau bahkan Rohingya.

Buat siapapun yang banding-bandingkan soal kesedihan seseorang. Gue cuma mau kasih tahu, sedih itu soal kala bukan soal skala. Sama seperti bahagia, dan perasaan lainnya.