Selasa, 28 Oktober 2014

7 Tahun Menjadi Blogger

Kemarin katanya hari blogger nasional. Terus saya malah posting soal Susi (dan postingannya ngehitz abees).

Sekarang, akhirnya saya mau cerita sedikit soal pengalaman jadi blogger. Eh btw, istilah blogger kalo diganti ke bahasa Indonesia yang lebih enak ada gak ya ? Biar lebih nasionalis dan tetap kepegang sumpah pemudanya. Ciyeee.

Saya lupa kapan tepatnya saya mulai nge-blog. Yang saya ingat, waktu itu saya mau beli buku diary yang ada gemboknya tapi udah kehabisan stok di warung-warung setempat.

Saya gak suka nulis di Orgy (bener gak ya nulisnya ?), kertas file apalagi. Terus lama-lama kapalan di tangan makin gede gara-gara kebanyakan nulis pakai pulpen di buku tulis. Khawatir jari semakin bengkak dan sulit dimasukkan cincin yang akan mengikat hati kita pada orang yang istimewa di masa depan, akhirnya saya memilih untuk menggunakan teknologi.

Sekitar 2007, waktu itu jajal bikin blog pake komputer Kakak Sepupu di Semarang. Awal nulis itu isinya serba ga penting, sampe sekarang juga sih. Sampai akhirnya punya komputer sendiri, nulisnya juga masih ga penting.

Kalo dirunut, berarti saya udah tujuh tahun jadi blogger. Yeayyyy.

Terus gimana hasilnya 7 tahun ngeblog ?

Selama tujuh tahun ngeblog saya ga pernah ikut komunitas blogger apapun dan manapun. Bukannya sombong, tapi emang gak tahu harus kemana dan gimana..hehe. Kalopun ada komunitas yang sesuai buat saya itu kayanya #komunitasbloggerkecetapibokekdankesepian. Sukar ditemukan pastinya.

Awal-awal ngeblog, tulisan saya itu berantakan banget. Malu kalo liat-liat dan baca lagi, hehe. Sampe sekarang juga masih berantakan, tapi udah agak lumayan. Kalo mao liat tulisan saya yang rapi jali mah baca koran ama majalah kantor saya aja sonoh (blogger jutek).

Selain tulisan yang makin rapi, saya juga dapat banyak dari blog ini. Alhamdulillah. Utamanya banyak tambahan kenalan dan temen. Terus nambah jadi ada fans. Eciyeeee.

Dari blog ini, saya juga pernah dapat duit sama menang kuis. Dan paling menggemberikan adalah tawaran untuk menulis buku dari penerbit. Semoga bukunya cepet terbit dan laris nanti. Aminnnn.

Tapi paling seneng itu dengan menulis di blog ini adalah bisa berbagi informasi dan menghibur kawan-kawan semua.  Seneng banget rasanya kalo ada yang komen atau bilang tulisan di blog saya  (yang serba gak jelas ini) bisa bikin senyum-senyum sendiri waktu dibaca. Seneng juga kalau isi blog ini ternyata cukup informative buat kawan-kawan.

Isi blog ini sangat absurd, mulai dari khayalan gak jelas sampe informasi gak penting. Tapi ternyata banyak yang baca juga, baik suka secara terbuka maupun diam-diam suka…(colek para silent readers).

Ngeblog buat saya itu penting, setidaknya ini jadi tempat belajar kita beropini dan mengemukakan pendapat. Tidak semua orang suka atau setuju pastinya, tapi selemah-lemahnya iman dalam menjadi warga negara itu adalah ketika memiliki opini untuk masalah bangsa ini kita cuma pendam aja dalam hati. Sadaaaap.

Semoga ke depannya blog ini tetap bermanfaat, baik dari sisi wawasan maupun sekedar mengisi sepinya hidup para pembaca yang kesepian.

Selamat menulis ^^


Senin, 27 Oktober 2014

Cerita Tentang Susi


Nama Susi menjadi tren sekitar tahun 80-90 an. Hampir dua dari enam orang yang saya kenal waktu itu, kayaknya bernama Susi. Kesannya ngarang ya ? tapi enggak kok.

Temen SD sebangku saya namanya Susi, guru kelas 4 SD saya namanya juga Susi. Bahkan atlet badminton yang berhasil menggondol emas olimpiade waktu itu pun, namanya Susi.

Masuk 2000-an, kalau masih ada orang tua kasih nama Susi pada anaknya pasti diketawain. Kesannya kok ndeso banget. Susi tak lagi jadi nama orang kota. Susi itu nama orang desa yang ingin kekota-kotaan. Soalnya nama orang kota saat itu sudah berbau kebarat-baratan, ketimur-timuran, wis pokoke gitu lah.

Sekarang, nama Susi lagi hangat diperbincangkan. Gara-garanya Susi sekarang jadi menteri. Menteri Perikanan dan Kelautan di Kabinet Kerja ala Pak Jokowi.

Orang ramai ngomongin Susi gara-gara latar belakangnya ; tidak tamat sekolah, punya tato, hobi ngerokok, dan hal lain-lain soal urusan personalnya.

Bu Susi memang benar punya tato di kakinya. Saya sendiri pernah lihat tato itu waktu ketemu dengan dia di rumahnya yang ada di Pangandaran sekitar 3 tahun lalu. Sampe sekarang aja saya masih gak nyangka, perempuan yang saya temui waktu itu sekarang bisa jadi menteri. Gayanya juga masih begitu-begitu aja dari dulu. Serampangan.

Saya ketemu dia gara-gara waktu itu ada pesawatnya yang jatuh di Papua. Menuruti perintah kantor, akhirnya saya harus berangkat dan ketemu beliau di rumahnya.  Saya sih oke-oke aja, toh Pangandaran masih deket jaraknya.

Kaget juga pas lihat undangan mesti kumpul di Bandara Halim Perdana Kusuma. Setelah diusut ternyata bener dong, saya ke Pangandaran mesti naik pesawat yang tipe dan jenisnya persis sama yang mengalami kecelakaan di Papua, sehari sebelumnya. Waduh.

Waktu saya minta ke humas pakai jalur darat aja, si humas menjawab dengan enteng. “Gak bisa, Mbak. Ini biar sekalian buktiin bahwa pesawat kita aman.”

Situ aman, sini deg-degan.

Pengalaman pertama naik Susi Air..ini sih pas pulang, udah gak pucet lagi hehe

Kamis, 23 Oktober 2014

Saudara

Saudara

“Jangan padam obor,” begitu Papa selalu menasehati. Buat Papa, menguatkan tali silaturahmi dengan sanak saudara itu penting. Tetangga dan kawan memang dekat. Tapi, saudara yang dasarnya sudah jauh, jangan sampai jadi asing.

Berkembangnya teknologi dan jasa mayantara jelas membuat soal jadi enteng. Kapanpun , setiap saat, kita bisa tahu kabar terkini keluarga kita. Tapi tetap saja kurang nendang. Papa berhasil meyakini saya bahwa cara mengikat tali silaturahmi paling kuat itu adalah bertatap muka, sering-sering bertandang, dan langsung bercakap-cakap.

Sayang, semakin bertambah usia, waktu tampak semakin kurang. Sebenarnya waktu berjalan biasa saja. 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, 12 bulan dalam setahun. Dari sebagian waktu itu, berapa lama untuk bekerja ? Berapa lama untuk bercengkrama dengan rekan, kerabat, atau apapun kita memanggil mereka ? Sisanya baru sanak saudara.

Biasanya pas lebaran. Kadang, tapi ini sangat jarang, pas hari raya lainnya. Pokoknya pas ada niat dan ada waktu, yang setelah diatur sana-sini, baru bisa buat ketemu. Waktu sisa.

Papa bahkan bilang untuk mengumpulkan saudara itu ada dua momen penting. Dua momen ini pasti membuat mereka yang paling jauh sekalipun, mendekat untuk bertemu. Yakni, pernikahan dan kematian. Satunya berita bahagia, satu lagi penuh duka.

Saya tidak suka yang kedua. Yang pertama jarang hadir juga. Masalah klasik manusia modern ibukota. Makin dekat dengan hal fana, makin jauh dari asalnya.
Empat tahun ini, saya belum pernah berkunjung lagi ke Semarang. Tempat saya menuntut ilmu dan menjadi bagian dari  keluarga di sana. Mustahil untuk lupa keluarga di sana, tapi ya itu, saya terlena dengan berbagai alasan. Biasanya alasan berjuang. Berjuang kumpulkan uang, sisihkan waktu, dan alasan lainnya. Klasik.

Tapi Alhamdulillah, saudara saya baik semua. Udah paham kelakuan saudaranya yang satu ini. Meski jarang bertemu, sekalinya jumpa tetap punya banyak hal untuk dibagi. Kadang rezeki, tapi lebih sering cerita. Ya cerita aja, karena memang dasarnya saya hobi cerita. Nanti yang lebih tua kasih petuah, yang muda sumbang tawa.

Selasa, 14 Oktober 2014

Modus-Modus Copet Metromini

28 Tahun gue hidup di Jakarta, baru kali ini gue kecopetan di metromini. Kalo hilang barang karena ketinggalan atau selebor emang sering, tapi copet…..akhirnya gue kena juga.

Bukannya gak ikhlas ya, tapi emang sulit pasrah dan senyum kalo barang lo diambil orang secara kupret gitu. Beda rasanya saat kena musibah atau memang harus memberi yang butuh, kalo dicopet itu …..rasanya…kzl abs (bahasa gaul).

Yang bikin gue lebih kesel lagi adalah lamanya pelayanan mand*ri call, izh! Hampir satu jam tidak diangkat…..cepetan malingnya nguras atm gue ketimbang permintaan blokir.
Okeh , gak usah lama-lama…gue rasa gue harus berbagi modus-modus ini supaya yang lain bisa lebih waspada. Soalnya waktu gue cerita, beberapa kawan yang pernah kecopetan dan hampir kecopetan ternyata mengalami hal serupa. So, begini ceritanya.

Minggu, 12 Oktober 2014

Pak Boed Terbahak-Bahak

Kalau ada penghargaan pejabat yang paling kalem, saya berani bertaruh Pak Boediono adalah pemenangnya.

Orangnya memang begitu, kalem. Tapi sekali dia bicara langsung nge-‘lead’. Istilah kami, para pewarta, untuk omongan yang mempunyai bobot berita. Tidak seperti si RI 1 yang ‘lead’nya mesti dicari, karena dia hobi bicara memutar. Pak Boed itu bicara langsung ke isinya. Ke kontennya, meminjam istilah seorang kawan di facebook.

Saya beberapa kali bertemu Pak Boed, tentu untuk urusan pekerjaan. Bukan bertemu juga sih, tepatnya mungkin mengejar. Pertama kali di acara asosiasi pengusaha migas asing, terakhir kali di sidang tipikor saat beliau dipanggil sebagai saksi.

Tenang. Saya tidak akan menulis untuk membela Pak Boed ataupun menyudutkannya untuk kasus tertentu. Soal begitu-begitu kalian baca dan cari di media saja. Di sini, saya hanya mau menulis apa yang tidak ada di berita.

Foto terakhir bersama Pak Boed sebagai Wakil Presiden ^^

Kamis, 09 Oktober 2014

Mercy Hitam

Sepanjang jalan si bapak mengoceh. Sebagian isinya istilah teknis yang tidak saya kenal. Kadang saya mengangguk dan mengiyakan, sebagai tanda saya masih mendengarkan. Atau sekedar tanda sopan santun saja. Tidak ada orang bicara tapi tidak ingin didengar. Apalagi oleh orang yang sedang numpang di dalam mobilnya. Seperti saya.

Bapak itu bicara lagi, kali ini benar-benar soal masalah yang tidak saya ketahui. Belum saya kuasai tepatnya. Tapi saya tetap menunjukkan mimik serius, peduli setan meski saya tak mengerti omongannya. Yang penting semua sudah direkam, masalah paham urusan belakangan.

Saya bertanya macam-macam, menggali informasi sebanyak mungkin. Kadang jawabannya melebar, sampai perlu saya ulang pertanyaan. Kalau sudah kepepet dan sedang tega, biasanya saya potong di tengah-tengah. Tapi tidak untuk hari ini, saya lagi baik hati.

Di mercy hitam itu, si bapak tidak hanya menjawab pertanyaan. Dia juga bercerita. Tentang film, tentang masalah negara ini, tentang banyak hal yang harus dibenahi, tentang suramnya sektor yang ia geluti.

“Blood Diamond. Kamu sudah pernah nonton filmnya ?” Tanya si bapak.

Saya jawab, belum.

Kamis, 02 Oktober 2014

Parade Kebaya di Pelantikan DPR

Beberapa jam sebelum Ceu Popong kehilangan palu dan anggota dewan rusuh, gedung dewan sudah gonjang-ganjing karena para penghuni barunya.

Bukan karena rapat, siasat buat memperebutkan kursi pimpinan, bukan. Tapi karena penampilan perdana para anggota dewan, terutama para selebrita dan perempuan, sebelum pelantikan.

Bak ajang penghargaan film, semua kamera menyorot pakaian-pakaian para anggota dewan saat itu. Rancangan siapa ? Berapa harganya ? Bagaimana modenya ? Coco atau tidak ? Warnanya sesuai kah ?

Pastinya, busana yang desye-desye kenakan juga jadi bahan omongan sama perempuan-perempuan jelataaaa macam gue dan kawan-kawan. Penasaran aja, gimana sih para wakil rakyat kita menampilkan dirinya ? Gak pelu mahal, tapi yang penting enak dilihat.

Hasilnyaaaaa……jeng-jeng, tampilan perdana para wakil rakyat dari gender kitah ini sangat menakzubkan! Ada yang anggun, ada yang kalem, ada yang wah, ada yang gonjrenggg….ada juga yang….udah lah ya.

Sebenernya gak cuma yang wakil rakyat sih, beberapa seleb perempuan yang kebetulan hadir juga ga lepas dari pantauan kita…terutama Ashanty dan Loli…. Yah, maklum Pipi-nya Loli kan sekarang udah jadi anggota DPR.

Berikut adalah kebaya dan para seleb-seleb perempuan yang bakal kita bahas.

Menurut gue, kebaya dan penampilan paling ciamik di pelantikan DPR kali ini dipersembahkan oleh putri dari Hashim Djojohadikusumo : Rahayu Saraswati

pic cr to instagram Rahayu



Warna kebayanya kalem dan cocok sama kulitnya, kainnya juga pas. Clutchnya dan hiasan anting mutiaranya pilihan yang tepat. Bros di tengah kebaya menambah aksen anggun tanpa harus terlihat tampil terlalu mewah. Tatanan rambut klasik gak menghapus kesan modern dari penampilan Saras. From head to toe, it was perfect!

Peringkat berikutnya diisi oleh Desy Ratnasari dan Rieke Diah Pitaloka.

Pic cr to Bintang Online (btw ini kalo ga pake blitz sebenernya warna kebayanya ga seterang ini loh)

Yuk bahas dari Si Oneng dulu.
Awalnya gue gak paham kenapa Si Oneng ini berani bener pake warna merah—merah banget. Belakangan baru tahu, memang ada instruksi dari PDI – Perjuangan menggunakan pakaian berwarna merah hitam sebagai dress code. Duileee…
Tapi pilihan kebaya Rieke ini menarik, mengingatkan gue akan bangkitnya Nyai Dasima…… eh Nyai Dasima itu cantik ya..FYI.

Kebaya lengan separuh itu , beda dan gak ada yang nyamain. Dalaman berupa bustier hitam, membuat bordiran di kebaya tergambar indah. Kainnya, nah ini yang menarik….ada yang sadar ada dua ayam jago di kain yang dipake Rieke. Mungkin tadinya dia mau cari gambar banteng, tapi gak dapet..lagian kalo pake banteng , entar kebayanya diseruduk mulu ama tuh banteng.

Kalung dan anting emas, menambah hidup kesan klasiknya. Rieke bener-bener membangkitkan semangat Nyai Dasima di DPR….hajar itu semua kompenih!!
Kalau boleh gue simpulkan, pakaian yang dipake oleh Rieke ini sudah sangat mencerminkan karakternya. Sophisticated!

Teteh Desy…
Pic cr to Bintang Online

aduh si teteh anggun pisan. Pilihan gamis kebaya berwarna ungu muda dengan motif kembang  udah cocok banget dipake sama pelantun tembang Tenda Biru ini. Kebayanya pun agak longgar, jadi ga ngetat dan tetap sopan. Kain dan clutch-nya pun oke.

Tapi, dalemannya juga bermotif serupa..bahkan sampe ke ciput-ciputnya pun ikut dibordir. Jadi si Teteh cuman pake kerudung warna polos dan berhias sedikit manik-manik dan bordiran yang kesannya cuma ditempel dan digerai begitu aja. Sayang banget. Warnanya jadi terlalu seragam untuk bagian atas, sampe-sampe bros yang ada di tengah baju pun jadi kurang menonjol. Eh itu entah bros, kalung, atau emang tempelan dari sononya sih…tapi itu penuh warna dan jadi gak keluar warnanya.
Tenang Teh, secara keseluruhan….kamu tetap anggun! We like it!

Rachel Maryam……

Pc cr to Bintang Online

cantik dan imut. Gue suka pilihan warna kerudungnya dan riasan wajahnya . Cara menghias kerudungnya juga oke. Warna kainnya yang cerah juga menarik. Kebaya putih sebenarnya udah pas buat mengimbangi warna kainnya, bordiran dan hiasannya juga membuat penampilannya lebih dari sekedar sederhana.
Tapiiiii…..potongan lengannya itu loh, itu kan gaya 2008-an banget. Mending pake yang ¾ terus pakein manset dan tambah hiasan gelang biar lebih anggun. Dan jujur, gara-gara masalah lengan…hilang deh kesan anggunnya, itu jadi kaya busana mau nemenin kakak wisudaan.

Venna Melinda!!

Pic cr to Kompas

Duh, tante yang satu ini mungkin lupa pernah jadi None Betawi dan Putri Indonesia …dua puluh tahun lalu. Atau, mungkin doi stuck di mode era 90 dan 2000-an yak. Soalnya, setelah sekian lama….baru kali ini lagi gue lihat orang pake beludru buat jadi kebaya. Beludruuuu~~~~~~

Dia bilang sih biru itu emang dress code-nya partai di pelantikan. Okay, that I can accepted…tapi partainya gak minta pake PINK buat kainnya kan ? dan beige buat jadi selendang ? tabrakan warna yang luar biasa.

Oke lah, anggap pink-nya gak masalah (kalo menurut gue sih masalah)…tapi belahan kainnya ? emm...mungkin Ceu Popong bisa kasih solusi.

Tapi itu semua gue maafkan demi tas Louis Vuitton warna pink yang dia tenteng….its cute. I want it!!! (and I want your son!!)

Titi Prabowo

Pic cr to Detik

Setelah digosipkan bakal rujuk sama mantan suami karena soal politik……gue pikir ibu kita ini akan mengurung diri di dalam rumah karena kembali kena harapan palsu dari laki-laki yang sama.
Ternyata enggak, dia balik ke pentas politik …oh wait, tapi itu kayanya Bu Tien deh. Bener gak sih ? Apa gayanya aja ?

Ohhhh….ternyata itu Bu Titi cuma pake kebaya kaya Bu Tien. Eh bukan ? Jadi Titi Prabowo ke pelantikan DPR mengenakan kebaya Bu Tien…literally pake kebaya milik almarhumah. Gak ada yang salah sih pake kebaya ibu sendiri….tapi kan itu 80’s banget. I loved Bu Tien’s style…tapi itu semua ada masanya. Bu Titi could be better with her own style, I bet.

Ashanty

pic cr to DETIK

Apa karena dia hamil ya jadi kelihatan cantik banget ? Kebayanya pas, kainnya juga lucu kaya kain batik SD gitu tapi warna-warni. Payetnya juga cakep, warna merahnya cocok sama kulitnya. Sayangnyaaa……gaya pakaiannya gak menurun ke anaknya..Loli alias Aurel

Loli aja mau nangis pake bajunya ya ? (pic cr to Bintang Online)

Warna kebaya ama bustiernya Loli gak serasiiii T.T…

Okky Asokawati

pic cr to Detik

Untung ibu satu ini pernah jadi model, jadi pake apa aja cocok. Gue gak berani bayangin kalo baju yang dia pake dipake ama gue. Berasa gerobak sayur lagi jalan-jalan di DPR…ijo benerrrrr
Okky ini negesin apapun busananya….biar dari bungkus lemper juga…selama yang make model (ato bekas model), tetep keliatan okeeeh. Give up gue give up.

Nah…..dua di bawah ini adalah…yang menurut gue sesuatu banget…

Gue ga tahu namanya siapa, tapi…….apa kita hidup di wonderland ? Is She fairy ? Coz I can’t see her ears…I see only flowers…everywhere…

Your body  dress is wonderland



Dan yang paling bawah….

pic cr to @gitaputriid


Kita doain rame-rame ajah, mungkin dia ngefans berat ama Roro Kidul.

Sekian.....