Selasa, 23 Juli 2013

Ramadan Day 14 : Bacaan Bagus!!

*sampe sekarang masih bingung ini Ramadhan hari ke berapa*
Teringat kejadian semalam yang biasa-biasa aja...tapi mengorek suatu kenangan dari sayah.
Seperti biasa, tiap malam sebelom tidur sayah cek semua akun jejaring sosial sayah..cari-cari yang menarik. Terus salah satu teman Kpop sayah yang juga bloger buku ngetwit soal give away di blognya.
Url demi Url saya klik karena penasaran, nyasar ke blog orang lalu ke akun sosial tempat orang biasa meresensi buku : goodreads.
Saya dulu punya akun ini dan cukup aktif sampe kelar kuliah. Dari Goodreads itu saya dapat beberapa kawan baik di Indonesia maupun di Ancol...zzz ya di luar negeri lah kamsudnya. Masa di ancol, dipikir saya bisa bahasa dugong haha.
Beberapa kawan itu bahkan berteman dengan saya di facebook, dan beberapa juga sering sms-an iseng *baca : saling menggebet*. Tapi itu duluu.
Alasan saya ikut Gudreads jelas, karena saya suka baca buku..bukan nonton tivi. Ya secara dulu baca buku itu sedikit banget distraksinya ga kaya sekarang. Kayanya hampir semua buku yang saya baca saya review atau setidaknya saya bintangi untuk dinilai. Makanya karena punya Gudreads itu sayah bisa dibilang hampir jarang nulis review buku di blog ini.
Terus tadi saya iseng buka akun lama sayah, email dan password alhamdulillah masih inget. Klik dan taunya masih bisa boook!! Seneng deh, poto disitu juga masih kurus hahahaa.
Tampaknya setelah ini saya bakal coba aktif lagi di jejaring sosial satu itu. Doakan saja yah (^_^) v

Senin, 22 Juli 2013

Ramadhan 13 : Seragam Sosial

Saya beli sepatu warrior itu, rok saya di bawah lutut dan kaos kaki tinggi. Kemeja putih dengan lambang OSIS warna kuning ukuran M saya masukan ke dalam rok agar ikat pinggang berlambang serupa kelihatan.

Itu, sesuai dengan petunjuk manual yang diserahkan oleh sekolah pada Papa saya. Bagaimana menggunakan seragam dengan baik dan benar. Padahal, saya lebih suka pakai kemeja ukuran L dengan kancing terbuka semua dan kaos fido dido saya keliatan dari luar.

Ketimbang pakai warrior warna hitam dengan karet kaku, kalo ada duit saya lebih pilih pake sepatu Nike Ninja yang lagi tren. Tapi Papa saya kekeuh, pake seragam ya sesuai aturan katanya.

Lalu saya tanya, kenapa mesti pakai seragam sih di Indonesia. Toh saya lihat anak sekolah di luar negeri seperti yang ada di opera-opera sabun layar kaca, mereka ke sekolah pakai baju bebas.

Papa saya cuman bilang, "Emang kamu punya baju banyak ? Kalo pakai baju bebas nanti kamu yang malu. Bajunya itu-itu aja, yang bagus cuman sedikit."

Benar juga, beli seragam sekolah saja saya harus ke Pasar Bendungan Hilir setidaknya dua tahun sekali. Papa saya nawar mati-matian ke Uda penjual seragam supaya bisa beli seragam agak banyak. Biasanya sekali beli itu tiga pasang saja, buat Senin putih-putih sisanya seragam kemeja putih dan bawahan biru atau abu-abu tergantung masa sekolah.

Saya adalah contoh nyata  panduan seragam yang baik dalam bentuk tiga dimensi. Semuanya baru dari atas sampai bawah, kalau kinclong begini, saya yakin gak ada yang tahu kalo saya berasal dari keluarga biasa aja yang berhasil masuk ke sekolah unggulan yang terkenal mewah di Jakarta.

Tahun pertama saya gaya pakai jasa antar jemput, kebetulan yang punya usaha mobil jemputan masih tetangga sama saya. Jadi urusan Papa yang melobi tarif, kalau ga salah di tahun 90an itu sekitar Rp 150ribu per bulan, sama dengan bayaran sekolah. Padahal gaji Papa saya saat iti belum sampai Rp 2 juta. Dahsyat memang biaya buat jadi warga ibukota. Keringat dikucur tak sepadan dengan uang yang dibuang.

Begitu masuk mobil jemputan, saya takjub. Ada sekitar 7 anak di dalam, sama-sama siswa baru di sekolah serupa tapi seragamnya tak sama dengan saya. Beda-beda. Setiap anak beda.

Ikat pinggangnya tak tampak, atau sekilas saya lihat pakai bahan kulit. Sepatunya hitam, tapi ada yang bisa pakai Nike Ninja, Gosh pantofel,dan Bee Bop kalau gak salah. Rok-nya, ada yang di atas lutut. Ada yang birunya beda dan lebih gelap. Kemejanya, ada yang hobi pakai yang lebih sempit. Ada juga yang lengannya di gulung.

Sampai sekolah, parade adi busana variasi seragam jauh lebih dahsyat. Meski pakai seragam, dengan gaya dan jenis yang beda kita bisa tahu perbedaan status sosialnya. Dari semua murid, saya lihat cuma anak laki-laki yang hobi pakai ikat pinggang osis berpangkal besi itu. Yang setelah sekian lama, saya baru tahu itu buat tawuran. Haish!

Benar kata Papa, kalau pakai baju bebas pasti saya terlihat gamblang berasal dari kasta mana. Pikir saya yang bodoh waktu itu, seragam sekolah ternyata ide yang tidak terlalu buruk buat mengurangi budaya pamer masyarakat kita.

Kalau seragam sekolah gunanya menyamarkan status sosial, ada satu seragam yang sangat saya benci tapi digandrungi oleh masyarakat kelas atas di sini. Yaitu seragam Baby Sitter, bisa kita jumpai dengan mudah kalau kita ada di pusat perbelanjaan.

Dari dulu, saya risih kalau ada orang kaya yang menyuruh pengurus anak mereka mengenakan seragam. Menurut saya itu gak manusiawi. Menunjukkan perbedaan kelas dan batasan bagi manusia yang sehari-harinya lebih banyak habiskan waktu untuk mengurus si anak ketimbang ibunya sendiri. Apa sih susahnya melihat asisten rumah tangga pakai baju biasa, kenapa mesti diseragam-in?

Gak cuman itu, kadang saya lihat kalau para kaum berlebih itu makan di restoran, si mbaknya cuma bisa lihatin aja atau suapin anaknya makan.

Pernah saya kerja sama orang Korea di Semarang. Mr. Kim namanya. Dia bilang dia juga ga suka kebiasaan itu. "Itu sudah jadi budaya ya di Indonesia ?" Tanya dia.
Saya jawab, bukan. Itu hanya dilakukan oleh mereka yang punya harta berlebih tapi serba kurang dari sisi nurani dan dangkal dalam berpikir. Biarin deh, saya emang ga suka.

Lalu Mr Kim bilang, dia pernah melabrak orang seperti itu di sebuah restoran karena si mbaknya tidak diajak makan. Mr Kim bilang ke mereka, kalau uang mereka tidak cukup buat bayar makan si mbaknya, biar pakai uang Mr Kim saja. Dahsyat!!

Dari semua kejadian itu, saya berpikir kayaknya seragam di Indonesia itu justru menunjukkan kelas sosial ya. Apalagi seragam yang dikenakan aparat, mulai dari hansip sampai jenderal. Siapapun pasti bisa lihat kan, begitu seseorang gunakan seragam yang menunjukkan pangkatnya. Udah deh tingkahnya selangit, petantang petenteng bagai jagoan.

Pun ya, ada seragam yang ga dimacem-macemin dan dipatuhi gayanya atau berfungsi untuk samarkan status sosial. Diantaranya itu seragam pemadam kebakaran dan seragam buat kunjungi area tambang mineral atau migas. Ya habis gimana kan, kalau gak nurut nyawa melayang. Emang mau ke lokasi tambang pakai high heels ?

Begitulah manusia dan hobi pamernya yang luar biasa.

Minggu, 21 Juli 2013

Ramadhan Day 12 : Absen Minded!!

Sebenarnya, sayah agak kesulitan menghitung ini Ramadhan hari ke berapa..ya maksud saya untuk Ahad tanggal 21 Juli, bukan untuk senin dini hari sebagaimana saya menulis postingan ini.

Kalau ini hari ke-12, postingan sayah soal the conjuring mestinya diitung untuk hari ke 11 dan soal EXO masuk di hari 10. Tapi saya sudah ling lung bedakan waktu, apalagi tau-tau sudah sampe tengah ramadhan. *sigh*

Ling Lung-nya sayah ini mungkin karena tenggat yang menggila, saya seperti gila mendadak karena dikejar oleh belasan ribu karakter yang harus selesai pada pekan ini bahkan besok, ya Senin ini. Tapi bukannya menyegerakan  proses perampungan saya memilih membuang ratusan karakter untuk mengisi blog ini dulu.

Menulis, saat ini, menjadi hal yang paling memuakkan karena sayah menulis hampir seperti robot. Menulis tanpa imajinasi dan rasa...dan itu membuat otak dan hidup saya agak ngaco belakangan ini..(well, pembenaran ajah sih).

Mari kita lihat seberapa sukses yang bisa saya capai pada pekan ini.

Sabtu, 20 Juli 2013

The Conjuring , Horor Sampai Akhir

Honestly, watching horor movies is not my hobby.
Selama ini film-film horor yang pernah gue tonton di bioskop bisa diitung pake jari. Film horor pertama yang gue tonton adalah Tusuk Jelangkung , karena saat itu heboh banget.
Horor disini tuh bener-bener yang versi ada setannya ya, pokoknya enggak banget deh.
Film horor terakhir yang gw tonton adalah Insidious kalo ga salah, nonton itupun karena dipaksana nemenin sohib waktu itu. Dan setelah nonton, dia pun menyesal mengajak gue nonton horor karena kasihan....huhu
Sebelumnya adalah gw sempet tengil-tengilan ama si Vitri buat nonton paranormal activy 4 sepulang piket malam. Kelar nonton jam 1 lewatan, naik taksi pulang ke rumah turun depan gang. Dari depan gang ke rumah kulalui dengan berlari sekencang mungkin musabab sepinya gang saat itu.
Nah baruuuu aja si Mb Ira nantangin gue nonton The Conjuring yang katanya based on the true story, jangankan kisah nyata ..yang fiksi aja gue udah ketakutan. Bersama Mb Fenny, kami pun sepakat nonton The Conjuring edisi midnight di bioskop kisaran rumah gue aja hahahah.
The Conjuring ini, sebagai orang yang paling ketakutan nonton pilm horor, adalah pilem horor terhoror yang pernah gue tonton. Umur gue berkurang satu dasawarsa kayaknya akibat kejutan-kejutan dan efek sialan di film ini. Jantung gue berdetak layaknya gue lari di atas tritmill selama 3 jam. Ngos-ngosann!!
Ceritanya gimanah? Jangan tanya!! Soalnya sepanjang pilem gue tutupin muka pake pashmina dan cuma teriak-teriak aja kalo efeknya udah macem-macem. Si Mb Fenny gue liat udah nemplok palanya di bahu Mb Ira.
Selama sejam, sutradara ga berhenti suguhkan kengerian pada penonton. Sampe akhirnya si Mb Ira yang mencoba tegar, mulai menonton dari balik bajunya. Zzzzzzzzz....
Film ini adalah gabungan paranormal activity dan insiduous, ada ritual exorcismenya segala dan ada adegan makhluk halus yang ngamuk-ngamuk.
Dari sisi cerita, kalian bisa cari tokoh-tokohnya di wikipedia karena memang hal ini terjadi. Terutama si pasangan demonologist itu, huooo itu bakal menambah rasa horornya.
Pulang nonton jam 2 dini hari, kami pun jalan kaki pulang ke rumah eike dulu. Dan sepanjang jalan itu si Mb Fenny malah cerita soal pengalaman serupa tapi tak sama yang pernah dia alami waktu kuliah dulu, persis kaya di pilem *ini apadah bahasa gue, serupa tapi tak sama tapi persis*
Buat penyuka pilem horor, ini wajib ditonton. Buat yang ga suka, kalian wajib ngingetin kawan kalian supaya ga ngajakin nonton ini pilem..karena horornya ada dari awal sampe akhir.

Jumat, 19 Juli 2013

Ramadhan Day 11 : EXO !!

Its been few days i didn't update my blog, i blame all the things called as a deadline!!! I owed my self like for almost thirthy something thousand characters to type..still i didn't finish it yet!!!

Mari lupakan segala sumber kejenuhan itu sementara.

Di tengah-tengah kesibukan aaya selama Ramadhan ini, alih-alih menambah hapalan surat-surat pendek..saya malah baruu aja berhasil ngapalin muka boyben yang anggotanya segambreng *lagi* yaitu EXO.

EXO sebenernya udah debut  sekitar taon lalu, CMIIW. Nah dari sejak debut, sayah cuman apal satu personel yaitu Kai. Begimanah kagak apal, secara EXO bisa dibilang artis yutub dengan teasernya yang bejibun dan dikuasai oleh penampakan Kai yang mirip Taemin SHINee ituh.

EXO juga sempet mampir ke Indonesiah dua kali, pertama pas Konser Suju taon lalu dan SM Town..saat itu sayah ga peduli hahahaha.

Waktu itu selain Kai saya cuman hapal personel EXO-M si Kris karena tingginya yang mencolok dan kemampuan bahasa inggrisnya yang aduhai. Jadi selama hampir setaon lebih dari 12 personel EXO saya cuman kenal dua Kris dan Kai. Sisanya karena saya rasa mukanya pada mirip agak susah dikenalin.

Sayah kan udah pernah bilang ya, waktu ngapalin personel SUJU aja saya butuh 3 hari 2 malam mantengin komputer, ngeliat klipnya ampe gila, di stop terus cocokin gambar..secara waktu itu teknologi internet belom sedahsyat sekarang.

Nah buat EXO saya butuh waktu seminggu non stop, itu juga karena dihajar gambar-gambar personelnya ama kpopper laen. Sampe akhirnya saya hapal. Tantangan terberat saat itu adalah membedakan luhan, baekhyun dan sehun. Beda gaya langsung ilang lagi apalannya.

Perlahan tapi pasti saya apal mulai dari personel EXO M dulu ; ada Kris, Tao, Lay, Luhan, Chen, Xiumin.
Lalu personel EXO K ; Kai, Chanyeol, Sehun, Baekhyun, Do, Suho.

Setelah apal adalah tentukan bias di grup ini.....yang setelah ditimbang2...saya jatuh hati sama Chanyeol.

Sekian

XOXO!!

Selasa, 16 Juli 2013

Ramadhan Day 7 : Saung

Saung biasanya ada di sawah, kalo Saung yang ini adanya di gang di sempilan gedung-gedung ibukota di Tanah Abang.

Kalo kalian ada di Grand Indonesia, misalnya mau check-in 4square ato nge-Path...pas cari lokasi ketemu namanya : Saung G atau Wealth Society apalah gitu. Nah itu saung yang sayah kamsud.

Ini saung ada di lapangan, tempat anak-anak gang biasanya nongkrong bareng. Bercanda, cela-celaan, dagang, nonton bola, kawinan, begadang,padang-padangan, nyetrika, rapat..ngapain ajalah.

Sayah mah jarang-jarang nongkrong di saung kecuali lagi pengen aja buat bersosialisasi, berhubung saya satu-satunya cewek dimarih jadi berasa kayak bidadari di tengah boyband...*padahal gak dianggap bidadari jugaaa, kalopun iya..gue adalah bidadari yang terpalak..alias jadi korban palakan mulu hahaha*

Nah, pas saya nulis ini saya lagi di Saung. Kenapa? Soalnya dari saung bisa akses wifi gedung sekitar, hahahhahaha. Wallohu alam bis Showab gimana cara para bocah-bocah dimarih buka itu akses wifi dan bisa disedot dari nih kampung. Saya nikmatin aja.

Sayah baru tau barusan pas di Grup Whats App anak-anak sekampung yang terdiri dari berbagai profesi, sadiskan nih geng pake Whats App jadi kalo rapat karang taruna pake conference, kalo lagi pada di saung nge-Wifi.

Mereka sih ngewifi pake hape masing-masing, nah kalo guah mah niat mau lanjutin donlotan drama hahahhaa sambil tenteng-tenteng laptop. Dengan pedenya bawa laptop, sampe saung disorakin."Woyyy yang laen bawa hape yang ini bawa nampan teh manis!!!"

Sayah mah cuek aja, langsung duduk di saung..mojok ngeblog dan nyedot wifi yang kecepatannya kalo lagi oke bisa sampe 100kb/s. Mantap!!!!

Senin, 15 Juli 2013

Ramadhan Day 6 : Failed!!! (?)

Semua bakal dipermudah oleh Tuhan, kalau kita punya niat baik untuk ibadah. Buat urusan satu itu, saya gak pernah ragu.

Dulu waktu kuliah, mungkin saya pernah cerita ini ke beberapa kawan saya. Saya tengah berpuasa sunah, tapi hari itu harus presentasi pagi-pagi mewakili pikiran puluhan kawan saya untuk mata kuliah PTUN kalau tidak salah.

Kelas mulai jam 7 pagi, jam setengah 7 saya kena serangan perut masuk angin. Tapi memutuskan tetap puasa. Kira2 jam 7 kurang seperapat saya baru jalan ke kampus. Mestinya sih mustahil sampe kampus jam 7 teng. Belum jalan dan nunggu angkotnya bla bla bla. Izin sakit juga ga mungkin dengan beban tugas yang aduhai. Jadilah saya bismillah aja.

Begitu keluar rumah bude tempat saya tinggal selama kuliah, baru jalan sedikit, tiba2 ada seorang ibu bawa motor menawarkan boncengan untuk sampai ke kampus. Demi Alloh, kenalpun enggak ama ibu itu. Tapi ibu itu baik banget nganter saya sampe kampus dan saya bisa sampe kampus pas jam 7 lewat dua menit.

Begitu saya tanya si ibu kenapa tawarkan saya boncengan, ibu ktu cuma bilang dia liat saya jalan dari belakang kayanya buru2 dan kaya ada yang gerakkan hatinya untuk bantu saya. Meski arah tujuan dia beda sama saya. Subhanalloh!

Nikmat Tuhan yang mana yang kamu dustakan ?

Alhamdulillah semua urusan lancar pada hari itu dan berakhir dengan baik, Alloh bantu semuanya. Setelah saya ingat-ingat, bantuan yang Dia beri itu benar-benar datang saat kita butuhkan meski kita tidak memintanya.

Lalu saya evaluasi diri, ah waktu kuliah dulu saya emang lumayan rajin ibadahnya ketimbang sekarang. Jadi Tuhan punya banyak cara memperlancar urusan saya di dunia, ya kan saya ga mungkin juga subuh-subuh berdoa sama Tuhan supaya turunkan tebengan gratis buat sampe kampus.

Balik ke waktu sekarang, ternyata Tuhan masih sayang meski saya kadang cuek. Saya rasakan belakangan ketika saya selalu luruskan niat dalam ibadah, tarawih misalnya. Ada rasa khawatir ketinggalan jamaah dan lainnnya karena urusan pekerjaan. Tapi bismillah aja, eh semua diperlancar dan kesempatan selalu ada buat ibadah dari awal sampe akhir kumplit.

Begitu saya ambil wudhu dan masuk shaf, sang Imam pun melantunkan ayat-ayat yang memang bagian dari Surat Favorit saya dalam Quran. Surat Ar-Rahman.

Sang Imam pun melantunkan ayat itu, Nikmat Tuhan yang mana yang kamu dustakan ?
Dilantunkan begitu syahdu hingga membuat saya gemetar. Tanpa sadar air mata saya menetes, mensyukuri segala nikmat yang telah diberikanNya. Ah, sudah lama tak merasa begini.

Tapi fatal, bukan apa-apa. Sebab setiap saya menangis selalu berujung dengan lapar luar biasa. Itu dari dulu, dari kecil. Padahal kan tahu sendiri kalau saya lagi diet. Walhasil usai tarawih, pantangan makan nasi saya kandas. Gak cuma itu, saya malah makan dua potong ayam junkfood itu saking laparnya.

Ya wis lah, nikmatin aja
..meski gagal sudah diet nasi pada hari ke-enam. Failed....tapi bukan berakhir, karena diet ini masih bersambung heheheheheh.
Soalnya apa, meski udah makan ayam beserta nasinya..begitu saya timbang berat badan udah masuk angka 59 tuh, artinya tetap turun hohohoho....

57 bisa!!

Sabtu, 13 Juli 2013

Ramadhan Day 4 : Buka Bersama



Beberapa hari lalu, guru les sayah bertanya apa saya punya rencana untuk menghabiskan waktu di akhir pekan ini ?
Dan sayah pun menjawab, "Nope, i have not. Because i want to have my breakfasting, first breakfasting actually, with my family."

Yup, akhirnya di hari ke-4 ini saya berhasil buka puasa bersama keluarga saya...di rumah. Hal sederhana, yang saya rasa sudah menjadi barang istimewa bagi para PKI alias Pekerja Keras Ibukota.

Sejak sahur, Mama sudah sibuk nanya hari ini kerja apa libur ? Udah dijawab libur, masih nanya lagi buka di rumah apa diluar ? Dan saya bilang, di rumah.
Sorenya pas saya mandi, gantian Papa yang nanya. "Mau kemana, Mbak ? Buka diluar ya? Gak buka disini?"
Wajar sih klo Papa nanya gitu soalnya tumben anaknya mandi sore pas libur-libur. Saya pun kembali menegaskan, kalo saya bakal buka di rumah.

Meski tak ada kata terucap, sadaaaappp, saya rasa soal ingin buka bersama bareng-bareng sekeluarga di rumah ini bukan cuma keinginan saya. Orang tua saya pasti juga.
Ternyata hari ini buka bersamanya gak cuman sama saya aja, soalnya ada keluarga tante, adik mamah, beserta suami dan anak-anaknya yang juga pengen buka di rumah bareng-bareng.
Walhasil, Mama sibuk seharian bermusik dengan piring, gelas dan panci tapi sambil senyum-senyum. Saya rasa doi diam-diam girang keluarganya kumpul.

Cuman adik sayah aja, yang emang gaul banget, ga bisa buka di rumah. Mama gak seneng tuh, buktinya pas adik saya pamit dia kena sompret dan omelan Mama yang aduhai panjang tanpa akhir itu..hihihihi

Berbagai makanan pun disajikan di meja, dan ditiker. Bergelas-gelas teh manis, cake red velvet sisa ulang tahun Papa,setoples kurma, lontong, pastel, sebaskom es cincau lidah buaya, kue-kue kering. Subhanalloh nikmatnya, tapi saya cuma bisa meneguk teh dan makan ubi aja hahahahahha kan lagi diet.

Begitu bedug magrib bertabuh, semua duduk meriung di tikar dan tukar obrolan. Apalagi ada si bocah-bocah yang baru belajar puasa...ngelafalin doa berbukanya masih tebolak-balik. Bukannya Allohumma Lakasumtu malah jadi Allohumma Lakatumsu, tawa pun meledak di rumah yang sempit dan sederhana banget ituh.

Ini, menurut sayah, salah satu nikmat Ramadhan yang jarang kita temui di waktu-waktu lain. Berkumpul bareng keluarga, sesibuk apapun kita..kehangatan itu selalu bisa dijumpai di rumah. Mungkin dengan kesibukan kita, yang mengaku generasi muda, kita berpikir banyak soal masa depan, bangsa, negara, pekerjaan atau apapun lah. Tapi, orang tua kita itu cuman ingin lihat satu sebenarnya, anaknya ada untuk menemani mereka.

Tabik.

Kamis, 11 Juli 2013

Ramadhan Day 2 : Papa's Day




Salah satu nikmat yang paling saya syukuri dalam hidup ini adalah memiliki Papa.
Ya, Papa saya bukanlah orang kaya atau pejabat terkemuka
Papa saya bukan saudagar atau selebritis ternama
Bukan ulama, apalagi atlit olahraga.
Papa saya itu bukan siapa-siapa.
Dia hanya mantan koki, yang jatuh bangun melindungi keluarganya.
Hanya pengangguran yang tak jemu menebarkan kasih sayang pada keluarganya.

Papa mengenal mama di usia 22, jatuh cinta lalu menikah. Begitu saja.
Lulus SMA dari kampungnya di Jawa, Papa langsung mengadu nasib di Jakarta.
Usia 23, Papa punya saya sebagai putri pertamanya. Dengan gajinya yang pas-pasan, Papa bercita-cita anaknya mesti duduk di bangku kuliah. Jangan sampai seperti dia.

Papa gak pernah ngeluh untuk mengurusi kedua putrinya dari dulu, mulai dari A sampai Z
Papa selalu sabar tiap dapat panggilan dari sekolah gara-gara ulah putri sulungnya yang ajaib ini. Berantemlah, boloslah, mukulin anak orang, dan lainnya.

Kalau dipanggil sekolah, sehari sebelumnya Papa bakal sibuk bikin kue buat diserahkan pada Ibu atau Bapak Guru. Lalu hati para guru luluh, dan saya dimaafkan.

Papa selalu izin untuk tidak bekerja, kalau saya sedang ikut lomba atau tampil di pentas sekolah. Kata Papa, menang kalah bukan yang utama. Tapi melihat anaknya beraksi, itu gak boleh dilewatkan.

Papa gak marah kalau saya bolos sekolah, tapi dia bisa mukul-mukul meja dan mendiamkan saya berhari-hari kalau saya ketahuan bolos ngaji.
Kalau anak perempuan biasanya dimasukkan ke les menari, Papa dan Eyang bersekongkol mendaftarkan saya ikut Kempo dan Taekwondo. Biar energinya yang berlebih lari ke hal yang tepat katanya.

Papa paham anaknya ajaib, cara belajarnya beda sama yang lain. Jadi Papa ngumpulin gajinya berbulan-bulan, lalu mendaftarkan saya ke kelas Quantum Study. Jadi kalau anak-anak lain belajar pakai merapal, saya belajar dengan menggambar dan membuat kode-kode yang sampe sekarang saya terapkan. Padahal saat itu saya sudah SMA, tapi belajarnya kaya anak TK.

Tapi, kata Papa, memang saya begitu sedari dulu. Papa selalu sabar mengajari saya belajar yang sambil jingkrak-jingkrakan, teriak-teriakan atau sambil banting-banting barang.

Supaya adik saya bisa kuliah, Papa rela menjual rumah yang sudah ia cicil bertahun-tahun buat diisi di masa mendatang. Papa bilang, masa depan itu adalah kami. Bukan rumah atau yang lainnya.

Papa gak pernah ngeluh untuk menjaga putri-putrinya yang terbaring di rumah sakit dan ga kenal capek. Kalau Mama sakit, Papa bagi tugas rata kepada putri-putrinya dan dia sendiri. Mencuci, menyetrika, Papa gak gengsi melakukannya. Mama gak pernah suruh-suruh Papa, Papa gak mau meributkan hal kecil macam begitu.

Papa kalau lagi tidur terus diganggu sama anak-anaknya ga pernah marah, anaknya minta pijitin lah. Mainin hapenya, atau minta macem-macem yang aneh kaya minta dimasakin ini itu. Papa ketawa-ketawa aja.

Papa itu cuma marah kalo kita gak solat, gak kasih kabar, atau gak mau nurutin nasihatnya untuk menjalin silaturahmi ke saudara-saudara.

Papa gak selamanya hebat, Papa udah pernah nunjukin titik terapuhnya di hadapan keluarga. Papa pernah difitnah, sakit dan depresi sampe berat badannya turun puluhan kilogram. Dimana saat itu, kita berganti peran jadi orang-orang yang coba menguatkan Papa hingga akhirnya perlahan keluarga kami pulih kembali.

Meski begitu, Papa selamanya adalah pahlawan kami dan orang yang paling kami banggakan.

Jadi Tuhan, di Ramadhan ini Papa sudah menunjukkan kerentaaannya. Beri dia kesehatan dan beri kami kesempatan untuk bisa terus membahagiakannya.
Kalau Papa semakin tua, ingatkan kami terus untuk tak lelah menjaganya. Berada di sampingnya seperti dia merawat dan membesarkan kami dulu.

Terima kasih Tuhan telah memberi kami Papa yang sangat menyayangi keluarganya.

Happy Milad Papa, we love you :)

Rabu, 10 Juli 2013

#30haringeblogramadhan Dahsyatnya Sahur Perdana

Assallammualaikum para bloggerwan dan bloggerwati yang dirahmati Alloh.

Begini, ceritanya saya dan beberapa kawan saya lagi punya proyek #30haringeblogRamadhan. Iseng aja sih, dan temanya bebas soal aktivitas sehari-hari apa aja yang kita lakuin. Intinya supaya kita semangat ngeblog..hahaha soalnya buru-buru sehari sekali nulis blog. Sebulan aja paling rajin cuman 6 kali.

Nah, postingan pertama ini saya mao cerita soal sahur dan puasa. Puasa, itu memang ibadah yang khusus buat Alloh. Pahalanya dan segala macamnya itu langsung Alloh yang atur, makanya niatnya mesti kesitu dulu.

Klo ditengah-tengah niat ada sisipan, boleh dongg..hehehe namanya juga manusia. Kata para ustadz, puasa itu sebenarnya menyehatkan. Begitu juga kata personal trainer yang terbebani target impian gue membentuk tubuh seperti personel SNSD. Yup, jadi ditengah-tengah Ramadhan ini gue menguatkan kembali niat diet gue yang selama ini kembang kempes kaya tabungan pribadi.

Sehari sebelom puasa dimulai, sayah ditelpon tempat pitness buat datang ketempat ngegym. Ternyata mereka udah tahu pas puasa beginih pasti saya makin jarang ngegymnya dan target membentuk badan akan membawa hasil yang terbalik.

Jadi saya dipanggil untuk membahas pola makan,"Jangan makan nasi kalo bisa. Ganti sama nasi merah, kentang ato umbi-umbian. Kalo emang ga tahan, makan nasinya dikit aja. Banyakin protein," begitu wanti-wanti sang pelatih.

Karena hari pertama, saya pun menurutinya. Jadilah saya saur dengan menu sangat dahsyat ini..semangkuk oat, sepiring sayur bayam, tempe, ayam goreng dan air mineral sebotol serta beberapa teguk teh manis hangat.

Konon, katanya dengan pola istiqomah begitu saya bisa turun 6-7 kilogram dalam sebulan. Well kita liat nanti.

Nah sebenarnya ga cuman dari makanan sahur aja, tapi juga makanan buka harus dikontrol. Si pelatih pastinya mengingatkan jangan kalap saat berbuka, bahkan ketimbang ngabuburit dia nyaranan sayah untuk cardio ato lari-lari di mesin selama 20 menit sebelom adzan magrib berkumandang. Dengan entengnya sayah pun menjawab,"Wah sorry Mas, itumah waktu buat saya tadarus."

Padahal yeeee kenyataaannyaaa jam segitu masih di depan laptop, riset buat berita...*gedubrak*

Saur sayah berhasil terkontrol, tapi menu buka puasa gimana? behhh, don't ask alias jangan tanya karena saya akan menjelaskan tanpa anda tanya..hahahaha *tengil*

Menu berbuka ini dipersembahkan oleh sajian kantor, ada segelas teh hangat, dua potong semangka, segelas kecil kolak dan es krim yang katanya pemberian dari anak Yap Thiam Hien. Es krimnya es krim jadul gitu, tapi enakk macam Ragusa ;)

Jadi mari kita pantau seberapa istiqomah saya menyantap sajian sahur nan dahsyat alias tanpa nasi itu hahahahah