Selasa, 05 April 2022

Review Kdrama 2521 : Ribut aja yok, tvN!

 


Udah lama banget gue gak menulis review soal K-drama, karena biasanyya gue ulas singkat aja di Instagram story. 

 

Tapi, drama 2521 ini wajib banget-banget gue tulis untuk kembali mengingatkan diri gue betapa bahanya mengikuti drama on going yang diproduksi oleh Tvn. 

 

Sebab, bisa berujung :




 

Kdrama selama pandemi makin happening, dan semakin banyak pilihan. Sampai gue bingung mau nonton yang mana, biasanya gw tonton setelah episodenya banyak. 

 

Semakin jarang drama yang membuat gue menggebu-gebu menontonnya setiap episode, sampai akhirnya drama 2521 ini hadir dan menyuguhkan kita tema drama remaja bernuansa 90-an. 

 

Sebagai anak 90-an, wajib banget dong ditonton!

 

Okay, review ini pastinya akan penuh; spoiler, pujian, tangisan, dan makian.

 

Gue akan menulis review drama 2521 dari dua sudut pandang berbeda dan campur aduk, yakni sebagai penikmat drama Korea professional dan elegan… dan sebagai penonton barbar!

 

Sebagai penikmat drama Korea professional dan elegan, berikut adalah review gue:

 

Sewaktu trailer 2521 hadir, menjanjikan actor Nam Joo Hyuk dan Kim Tae Ri serta wajah-wajah baru dan tema 90-an, sudah sangat mencuri hati ini. 

 

Apalagi waktu tahu yang garap adalag tvN dan Studio Dragon, duet maut ini gak pernah kaleng-kaleng kalo produksi drama. Kalo udah ada Studio Dragon bisa dipastikan hasilnya sangat sangat sinematik level berlian. Produksinya di antaranya; Goblin, The King Eternal Monarch, Kingdom.. kebayang kan?

Opening 2521 dibikin dengan ukuran square ala-ala tv tahun 90an, semuanya sangat rinci. Produk-produk yang dipakai para aktor dan aktris, tren fesyen dan riasannya. 

 

Contohnya di episode terakhir, saat adegan Yi Jin dan Na Hee Do di terowongan, tas Prada yang dipakai Na Hee Do ya emang seri yang ada di tahun 2000an itu. Segitu detailnya lah..

 

Dari sisi soundtrack pun, disadarin apa enggak, beat dan iramanya disesuaikan dengan musik era 90-2000an. 

 

Selama 16 episode, cerita yang dikemas pun cukup lengkap. 

 

Berkali-kali episode di serial ini sukses membuat tersenyum, ketawa, gemas, dan bahkan menangis. 




 

Karakter 5 sahabat yakni Na Hee Do, Yu Rim, Baek Yi Jin, Seung Wan, dan Ji Woong berkembang cukup rinci di setiap episodenya. 

 

Bahkan ya, perkembangan karakter dan fisik ini bisa tertangkap secara apik dari penampilan Na Hee Do di usia 18 tahun yang berubah ketika dia berusia 21 tahun. Se..ba..gus.. itu!

 

Memang drama ini wajib banget dipuji. 

 

Gue suka bagaimana drama ini menggambarkan persahabatan Na Hee Do dan Go Yu Rim. Bermula dari penggemar dan idola, perkawanan online via chatting, competitor, enemy to lovers, dan love fools. 


adegan rujuk yang bikin terharu 


 

Adegan-adegan pertandingan anggar dikemas dramatic dan sinematik, sampai kita ikut tegang. 

 

Persahabatan Na Hee Do dan Go Yu Rim bener-bener menyentuh, mereka memang ditakdirkan untuk bersama. 

 

Episode lain yang menyentuh dan bikin gue menangis adalah saat Seung Wan dan Ibunya memutuskan untuk melawan pihak sekolah. Wowww.. you go girl!

 

Tentunya, kita harus masuk mengulas si kisah utama yakni Na Hee Do dan Baek Yi Jin. 




 

Serial ini menyajikan kisah cinta pertama yang manis, passionate, dan realistis. 

 

Di akhir episode, meskipun endingnya tidak sesuai harapan, ini adalah drama yang gue kasih tepuk tangan karena ceritanya yang begitu kuat dan manis. 

 

Iya, gue paham, si penulis menginginkan kita mengapresiasi romansa yang realistis di mana dua sejoli lebih memilih jalan hidup masing-masing dan saling menguatkan dari jauh. 

Sehingga, endingnya menjadi bitter sweet. 

 

BITTER SWEET BITTER SWEET! MAKAN NOH KUE BITTER SWEET BY NAJLA!!!!!!!!!

 

Mohon maaf nih ya penulis dan tvN, kita bukannya gak paham. PAHAM BANGET KITA, TAPI KITA GAK MAOOOOOOOOOO!

 

Bisa aje gue berpikir elegan bla bla bla, tapi gue KAGA MAO!




 

Enak aja lu menyuguhkan kami drama yang realistis, ketika realita kehidupan kami malah seperti drama!

 

Kalo berita aja bisa bohongin kita, MASA DRAMA YANG MESTI KASIH KITA KENYATAAN?!!!!

 

Lu kalo mao bikin film yang realistis, bikin documenter sono jangan bikin drama Korea!

 

Lu perlu tahu ya, film documenter di Indonesia aja yang berjudul G-30s PKI sampai sekarang malah dipertanyakan kebenarannya! Berani-beraninya lo tvN ngasih kita drama yang sok sok realistis. 


Minggu, 16 Januari 2022

Tentang Self Reward dengan Barang-barang Branded

Ladies, 


Apa kalian pernah bimbang saat ingin membeli tas atau sepatu dengan merk tertentu sebagai self reward? Untuk membantu menjawabnya, saya mau bercerita agak panjang untuk kalian simpulkan. 


--

Delapan atau sembilan tahun lalu, saya lupa persisnya. Saya dan seorang sahabat pernah berjanji, bahwa suatu hari kelak kami akan sama-sama membeli jam Tag Heuer. Merek jam tangan yang sampai saat ini kami susah menyebutnya dengan benar. 


Saat itu, saya dan kawan masih sama-sama hidup sebagai jurnalis ibu kota. Saya dengan gaji Rp 3 jutaan per bulan, sementara kawan saya agak lebih banyak karena dia dari media berbahasa asing. 


Bukan Rolex, bukan juga Audemars Piguet. Dua merek jam tangan yang biasa kami lihat dikenakan oleh para bapak-bapak pejabat tambang. Jam lapis emas bertahta berlian. Cukup Tag Heuer saja, karena bagi kami itu sudah cukup mahal. 


Janji itu kami sebut, bahkan kami tulis di email. Tadinya, kawan saya menyarankan agar dicetak, lalu dipajang biar selalu diingat. 


Pertanyaannya adalah, kenapa harus Tag Heuer?


Alasannya receh, keren aja. Apalagi waktu itu model si jam tangan masih Chris Hemsworth (sekarang udah jadi Brand Ambassador Boss). Waktu itu, kami sering jalan-jalan ke Grand Indonesia. Begitu masuk pintu West Mall, menengok di sebelah kita langsung disambut foto Chris Hemsworth yang super keren sedang memakai Tag Heuer. 





“Behhhh, kita mesti beli ini, biar keren kaya Chris Hemsworth,” begitu kami berkali-kali mengucap tiap melihat gambarnya. Bahkan, kadang saya foto kalau bertemu gerai Tag Heuer dan mengirimnya ke kawan saya, “Kapan ini bakal kebeli?”.


Buat kami, kala itu, kalau kami sudah bisa beli jam tangan Tag Heuer tanpa nyicil dan tanpa mikirin tabungan, berarti kami sudah sukses secara karir. Berarti, separuh mimpi kami sudah tergapai. 


Jadi, kalaupun beli emang buat keren-kerenan aja. Buat self reward, kalo kata istilah anak zaman sekarang. Bukan kebutuhan fungsional. Soalnya percuma, pakai jam tangan juga kalo janjian datangnya tetap ngaret sampe 2 jam, hehe. 


Sekarang, kami sudah berganti profesi dan gaji kami sudah tentu bertambah dari delapan tahun lalu. Apalagi kawan saya, sudah pernah mencicipi kursi direksi.


Tapi, Tag Heuer masih berada di keranjang impian kami. Belum sempat dicheck out. 


Belum sempat, bukan belum bisa.


Bisa sih bisa aja kalau memang kami niat. Tapi, seiring waktu berjalan dan naiknya pendapatan, beban kami juga bertambah. 


Saya, kini menjadi tulang punggung keluarga. Teman saya, juga sudah menjadi ayah dan beranak dua. Kebutuhan kami makin banyak, hidup kami makin kompleks. 


Alih-alih membeli jam tangan, kalau ada uang kami gunakan untuk barang-barang yang fungsional seperti kendaraan, tempat tinggal, atau modal usaha. Ada prioritas-prioritas yang membuat kami mengalah dan menunda untuk bisa sekeren Chris Hemsworth. 


Ketimbang membeli jam tangan seharga Rp 30 juta sampai Rp 50 juta, self reward kami sementara nilainya dikecilkan dulu untuk membeli; sepatu, tas, mainan, dan lainnya yang jadi tren. Di mana kalau dikumpulkan nilainya bisa lebih dari harga jam tangan Tag Heuer, haha. 


Bicara soal self reward dengan membeli barang-barang bermerk, menurut saya sah-sah saja. Apalagi kalau penghasilan sudah mencukupi, asal jangan memaksakan ya. 


Tentunya kan saat penghasilan sudah jauh lebih baik, lingkungan dunia kerja dan orang-orang yang kita temui juga level-nya berbeda. Membeli barang branded, juga bisa bertujuan untuk memberi kesan yang baik pada pemangku kepentingan yang akan kita jumpai. Kesan baik ya, bukan pamer. 


Di sini konteksnya adalah memantaskan diri, sehingga barang mewah yang dikenakan memang sesuai dengan tempat dan orang yang akan kita jumpai.


Misalnya tadi, kawan saya menjabat sebagai direktur. Tidak mungkin dong dia bertemu  pemegang saham dengan gaya seperti sewaktu masih menjadi wartawan. Apalagi direktur merupakan representasi dari perusahaan, penampilannya adalah citra perusahaan.


Self reward dengan membeli barang-barang bermerk ini, bagi sebagian orang masih dinilai negatif. Sebabnya, karena mereka yang menilai melihat dari kacamata mereka sendiri, bukan dari kacamata orang tersebut. 


Padahal kalau dari kacamata orang tersebut, ya sah – sah saja dia membeli tas atau perhiasan, atau baju bermerk. Jabatannya sudah tinggi, ia sudah bekerja sangat keras, dan ia ingin memantaskan diri.


Tak jarang, orang yang menilai negative self reward ini adalah orang-orang terdekat kita. Bisa teman, keluarga, pacar, atau suami/istri. Kalo tetangga mah, diemin aja. Sebab tetangga adalah dekat di tembok, mulut tak digembok. 


Pernah, saya punya pacar yang terheran-heran saat saya membeli baju di Zara seharga ratusan ribu rupiah. Buat dia, itu berlebihan. “Aku tuh pakai baju dari matahari aja, kemeja aku paling mahal cuma Rp 150 ribu,” katanya. 


Saat itu, dia bekerja sebagai manager di sebuah perusahaan IT. Sementara saya, media relations di BUMN pertambangan. 


Sah-sah saja dia menilai seperti itu, tapi gak bisa sembarangan terapkan standarnya pada saya.


Buat saya yang sering bertemu pemangku kepentingan, dengan pendapatan yang cukup, nilai baju Zara itu tidak ada apa-apanya. Toh, ketika saya membeli pakaian itu saya sudah menunaikan segala kewajiban finansial saya. 


Saya kesal, dan menjawab. “Ya gak apa-apa dong, aku beli baju agak mahal karena kan aku tiap hari ketemu orang penting. Kamu pake kaos aja juga gak apa-apa, soalnya ketemunya cuma sama komputer sama abang kantin.”


Gak lama setelah itu, kami putus. Gak mungkin rasanya bersama dengan orang yang bahkan tidak tahu nilai dari pasangannya sendiri. 


Betul, buat saya membeli barang berharga untuk self reward itu artinya bicara soal value. Valuenya, bukan berada pada benda yang kita beli. Bukan pada tas yang seharga jutaan atau ratusan juta rupiah. 


Valuenya, ada di diri kita sendiri, yang memakainya. Bagaimana kita bekerja keras, mencari uang yang halal, skill yang semakin terasah, networking yang lebih luas, dan membuat kehidupan yang lebih baik bagi diri kita sendiri maupun bagi orang banyak. Sehingga akhirnya layak untuk membeli tas atau sepatu tersebut. 


Males banget kan dengerin orang ngomong. “Mending duitnya dipakai buat nabung, beli perhiasan, buat beli yang penting.”


Ya dikira itu semua gak kita lakukan, perkara baju Zara ratusan ribu aja jadi sewot. Padahal buat saya, itu gak seberapa. 





Ketika ada kawan atau orang di sekeliling kita sanggup untuk membeli barang berharga tertentu, kenapa sih mesti dinyinyirin dan di-ciye-in. Toh, selama itu duit mereka sendiri dan tidak ada hak-hak makhluk hidup lain yang terdzalimi, ya bukan urusan kalian. 


Beberapa hari lalu, saya ngobrol via whatsapp dengan beberapa kawan. 


Satunya ada yang bercerita, bahwa selama 10 tahun lebih bekerja belum pernah sekalipun beli tas bermerk. Tas bermerk di sini bukan level Gucci, Prada, atau Louis Vuitton ya. Tetapi di level Coach, Kate Spade, Tory Burch, Fossil dll.


Selama ini, sebagai self reward biasanya ia membeli makanan, tanaman, jalan-jalan dan pakaian sesekali. Kalau dilihat-lihat, itu pun dinikmati bersama-sama. Bukan yang khusus untuk dirinya sendiri.


Semula, dia ingin membeli tas bermerk di atas untuk hadiah ibu mertua atau ibunya. Tapi begitu lihat katalog, dia tergoda. 


Lalu saya bilang, kalau tabungan cukup, tidak menguras gaji, dan memang ingin untuk mempercantik tampilan, beli saja! “You earned it,” kata saya. Dia bilang, dia akan izin dengan suaminya terlebih. 


Please, untuk para suami yang membaca ini. Jika keuangan mencukupi dan apalagi itu diambil dari hasil kerja istri sendiri, izinkan istri kalian menghadiahi dirinya barang-barang untuk mempercantik diri. 


Saya tahu, banyak kawan saya yang mengalah dengan mengatakan, “Mending buat anak” “Mending buat ini, buat itu.” 


Girls, percaya deh, anak-anak bakal lebih bahagia kalau ibunya paham bagaimana membahagiakan dirinya terlebih dulu. Punya ibu dengan tingkat percaya diri tinggi dan tampilan super kece jauh lebih menyenangkan untuk mereka. 


Ada lagi, di sebuah grup whatsapp. Seorang kawan saya hanya iseng memposting gambar tas bermerk, “Duh cakep ya…”. 


Dengan latar belakang profesi dan pendapatannya, barang itu memang cocok dan pantas dibeli olehnya. Eh, tiba-tiba ada yang menyahut. “Duh sayang harga jutaan cuma buat tas, mending beli emas deh.”


Eh, Maemunah! Gak semua orang-orang ngoleksi emas kaya inang-inang di Monas yaaaa…


Kalau kalian Sukanya beli emas ya silakan kalau ada duit segitu mending beli emas, tapi jangan suruh yang lain menyamakan standar dengan kalian. 


Saya misalnya, tidak suka koleksi perhiasan emas. Saya lebih suka koleksi mainan, buku, dan merchandise Kpop. Untuk mainan dan buku, saya berniat akan mewariskan cerita-cerita ini ke anak-anak saya. Buat saya, itu lebih seru ketimbang memberikan anak saya nanti emas dan perhiasan lainnya. 


Ladies, balik lagi soal self reward dengan barang branded. Kalau kalian masih bimbang, coba pikirkan diri kalian dulu sekali-kali.


Kalau tidak sampai menguras tabungan atau gadai rumah, kalau semua kebutuhan pokok keluarga atau sendiri sudah terpenuhi, kalau semua kewajiban finansial sudah dituntaskan, dan jika barang ini bisa membuat kamu merasa lebih cantik dan kece, belilah!


Kalian sudah bekerja keras, jadi “You earned it!”


Buat para suami , jika istri kalian ingin membeli suatu barang untuk mempercantik dirinya tanpa menganggu atau mengguncang keuangan bersama. Izinkan!


Buat para pacar, diem aje diem! Kalian belum punya hak buat melarang-larang pasangan beli barang-barang tadi selama itu dibeli bukan pakai duit kalian.


Ingat ladies, you earned it!