Senin, 22 Desember 2014

Cerita si Lembah Angin (Fanfiction dari Pendekar Tongkat Emas)

Warning : Layaknya The Raid yang filmnya memang bagus banget. Gak tahan aja buat bikin versi parodi filmnya itu. Hati-hati spoiler buat yang belom nonton. Setiap film itu sempurna....makanya kita perlu sedikit bercanda ^^

Namaku Lembah Angin. Aku murid paling bontot dari Guru Cempaka, pendekar yang suka masuk angin. Gara-gara penyakitnya itu, Guru Cempaka tak bisa lepas dariku. Sebab aku mewarisi ilmu pengobatan dari ayahku yang sangat sakti, yaitu Pendekar Tolak Angin.

pic cr to : kapanlagi,com


Sudah bertahun-tahun aku belajar sekaligus diurus oleh Guru Cempaka di padepokan silatnya yang terkemuka, yakni Padepokan Pendekar Tongkat Emas. Padepokan yang aku yakin begitu masuk abad 21 nanti bakal berganti nama jadi Padepokan Tongsis Emas.

Pendekar di zaman kami terkenal hobi saling membunuh untuk diakui eksistensinya. Jargon hidup mereka adalah : dibunuh atau membunuh. Kalau nanti jadi Padepokan Tongsis Emas, mungkin akan agak beda. Pendekar yang paling eksis adalah pendekar dengan paling banyak di tag di facebook, instagram, maupun path. Jargon hidupnya : difoto…..atau...cari celah biar bisa kepoto. (pokoknya mesti eksis!)

Selain aku, Guru Cempaka memiliki tiga murid lainnya. Kami semua bernasib sama, yatim piatu karena orang tua kami dibunuh oleh Guru Cempaka demi eksistensi tadi.
Murid paling tua adalah Biru. Nama lengkapnya : Tenda Biru Bin Janur Kuning. (Ini pendekar apa panitia kawinan ??!!)

Dia satu-satunya murid lelaki di perguruan dan paling jago. Pepatah “Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari” tak bisa berlaku baginya..sebab guru kami kencingnya jongkok. Kan…perempuan. 

Akibatnya, Biru pun harus kencing dengan jongkok. Begitu juga buang air besar. Sebab kami memegang prinsip : pipis sama rendah, boker sama aja.
Itulah akibatnya Biru tak bisa lebih sakti dari Guru Cempaka.

Murid kedua adalah Gerhana. Anak dari pendekar Golok Wangi dan ibu bernama Pisau Dapur. Mereka adalah pendekar sakti dari perguruan Senjata Tajam.
Dulu, Gerhana memiliki kakak laki-laki yang bernama Kapak Merah.  Tapi Kapak Merah menjadi buron polisi karena hobi merampok di jalan raya. Akibat ulah kakaknya itu, perguruan senjata tajam jadi tercemar. Sang Ibu pun meruwat nama anak keduanya agar tak berbau senjata tajam…menjadi Gerhana. Yang sebenernya itu singkatan juga dari “Gergaji Hanyalah Nama”….Gerhana.

Murid ketiga adalah Merah Dara. Dia diurus oleh Guru Cempaka karena kasihan. Soalnya sejak ayahnya dibunuh oleh guru, ibunya sibuk pacaran dengan anggota band.

Merah Dara adalah putri dari Pendekar Putih Tulang. Dara juga punya kakak laki-laki yang bernama Ingus Ijo dan kakak perempuan bernama Pipis Koneng. Namun kedua kakaknya itu tak berniat jadi pendekar. Alih-alih ikut audisi pendekar sakti, kedua orang itu justru bikin grup buat audisi d’terong show.

Jumat, 19 Desember 2014

Sarapan dan Curhat Bareng Raditya Dika

Bukan. Raditya Dika bukan gantiin Mama Dedeh buat isi tausiyah dan dengerin curhat emak-emak saban subuh itu.

Di acara yang ini, kita semua sarapan bareng sambil ngobrol-ngobrol sama Raditya Dika soal dunia tulis menulis dan peluncuran buku barunya yang berjudul : Koala Kumal.

Acara ini sendiri rangkaian dari acara Kumpul PenulisPembaca 2014 oleh Gagas Media Group yang berlangsung tanggal 13 dan 14 Desember kemarin.



Nah, kebetulan dan Alhamdulillah banget, editor gue yang baik hati si Kakak Ry mengundang gue untuk hadir di acara “Breakfast with Author” di Soeryo CafĂ©. Selain ada Raditya Dika (yang emang udah ngetop banget), ada juga si Bene Dion. Penulis buku ‘Ngeri-Ngeri Sedap’ dan Stand Up Comedian itu.

Kalo dilihat di situsnya, acara ini sebenernya pake tiket seharga Rp 200 ribu. Berhubung dapat undangan gratis, tanpa ragu berangkatlah gue ke lokasi untuk mendapat ilmu dari para senior di bidang penulisan komedi ini.

Sampai sana sekitar jam 10, Raditya Dika udah duduk di depan dan berceloteh soal pengalamannya. Jujur gue bukan penggemar berat Raditya Dika (soalnya gue setia banget sama Super Junior  Iwan Fals) , tapi begitu mendengar cerita Bang Radit…rasa kagum gue kepada dia mulai tumbuh. Seiring dengan tumbuhnya rasa lapar di perut gue.

Dulu, gue berpikir mukanya Raditya Dika itu biasa aja. Pas lihat langsung untuk pertama kalinya, ternyata pikiran gue itu bener. Hahaha.

Dia emang biasa saja. Tapi begitu dia bicara, gue baru paham kenapa karya dia bisa laris manis dan digandrungi banyak orang.

Soalnya, dia emang seperti orang kebanyakan. Seperti temen-temen kita yang kalo lagi kumpul sukanya celain orang atau malah jadi bahan celaan. Seperti temen yang kalo dia gak datang, acara kumpul-kumpul jadi kurang riuh. Layaknya temen yang bisa diajak gila bareng dan sering ketimpa apes. Dia itu dekat.

Raditya Dika emang dekat, tapi gue lebih dekat ke piring-sendok-dan makanan


Lebih menarik lagi karena gue bisa melihat langsung bagaimana seseorang berkarya sesuai passionnya. Begitulah Raditya Dika…aura positifnya terpancar..sepaket sama aura apesnya.
Pasti kalian berpikir, apa sih ilmu yang bisa dipetik dari penulis komedi ? Mereka kan kerjaannya bercanda doang, kayak gak pernah mikir serius gitu.

Eits, jangan salah. Biarpun cuma satu jam setengah bersama Raditya Dika, ternyata percaya atau gak percaya dia banyak kasih inspirasi ke kita-kita.

Lalu dia bilang, “Lingkaran inspirasi itu gak pernah putus.”

Selasa, 09 Desember 2014

Review Buku : Attachments (By Rainbow Rowell)

“Do you believe in love at first sight?" she asked

He made himself look at her face, at her wide-open eyes and earnest forehead. At her unbearably sweet mouth.

"I don't know," he said. "Do you believe in love before that?”




Rainbow Rowell punya ciri khas dalam setiap karyanya : “manis”

“Manis”-nya itu seperti puding coklat dengan siraman sesendok fla vanilla. Pas dan ngangenin. 

Itulah yang saya rasakan setiap membaca buku karya Rainbow Rowell. Sejak baca “Eleanor dan Park”, saya sudah bersumpah tidak akan melewatkan karya-karya dia berikutnya. (lebay yes).

Cerita yang Rowell sajikan sebenarnya sederhana, namun menyihir. Ya seperti puding coklat, yang sekenyang apapun dan penuhnya perut sehabis menyantap nasi padang, jika ditawarkan puding untuk menutup hidangan …pasti sulit untuk ditolak.

Nah, tahu-tahu saat jalan-jalan ganjen di toko buku…saya ngelihat karya baru pengarang favorit saya ini. Judulnya “Attachments”.

Sinopsis di balik buku tertulis, buku ini bercerita soal kehidupan seorang pegawai IT yang diam-diam jatuh hati pada salah satu jurnalis wanita. Mereka bekerja di satu kantor, sebuah harian lokal. Dia jatuh hati lantaran kerjaannya ‘memaksa’ dia untuk mengintip email-email pribadi pegawai kantor tersebut.

Beth, nama si Jurnalis Wanita. Sehari-hari menulis untuk kolom review film di harian itu. Ia juga intens berkomunikasi dengan sahabatnya,  Jennifer, seorang copy editor yang tengah menyiapkan diri untuk bisa menjadi ibu. Mereka berkomunikasi di sela-sela jam kerja dengan menggunakan email kantor. Bergosip macam-macam;  kehidupan percintaan, berburu diskonan, pekerjaan, keluh kesah soal kantor, dan sebagainya yang sangat khas perempuan.

Lincoln, nama si pegawai IT, semula hanya iseng memantau dan membaca percakapan kedua sahabat gengges itu. Sekedar mengisi waktunya yang sangat luang kala harus berjaga malam. Percakapan Beth dan Jennifer selalu masuk folder ‘flag’ Lincoln, karena penyalahgunaan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi.

Semestinya Lincoln memberi mereka peringatan, tapi tidak dilakukan. Ia terlalu asik membaca dan menyimak kisah mereka. Terutama gaya bercerita Beth. Ia suka diksi-diksi yang digunakan oleh Beth dalam menulis surat. Ia takjub dengan sudut pandang Beth dalam melihat sesuatu. Ia kagum dengan selera humor Beth yang menggambarkan kecerdasannya.

Ia jatuh cinta pada Beth. Meski belum bertemu dengannya.

Ah!

Jumat, 28 November 2014

Komisi

Seporsi salmon panggang dan kentang tumbuk yang hambar sebenarnya cukup untuk mengisi perut ini. Tapi, irisan pizza yang kadung disodorkan oleh si Bapak, tak mungkin saya tolak.

Bapak itu asyik bercerita, sementara saya sibuk memotong irisan pizza dan menyeruput jus yang katanya alami.

Ceritanya panjang lebar, sepanjang karirnya dan selebar pengetahuannya. Sambil makan, saya terus mendengarkan. Ia tahu banyak soal seluk beluk dunia yang konon banyak mafianya. Tapi ia juga banyak tidak tahu, karena si mafia-mafia itu bekerja begitu rapi dan tertutup. Sehingga hasilnya seperti kentut, ada bau tapi tak ada wujud.

Karir yang begitu lama, pastilah ingin suatu saat ada di posisi puncak. Posisi yang prestisius, yang bisa membuat namanya muncul di koran. Dikutip sebagai pejabat publik, punya peranan penting dalam membuat kebijakan.

Si Bapak sebenarnya sadar, keinginannya itu bukan tak ada harga. Jabatan di negeri ini laksana jodoh yang hendak dipinang. Ada mahar yang harus diberi, sebelum bisa dinikmati.

“Saya tahu saya tidak akan lolos, tapi saya coba saja. Penasaran,” kata dia.

Senyum saya pun mengembang. Penasaran yang saya tahu enak untuk dilanjutkan hanya ‘Penasaran’ milik Bang Haji Rhoma. Penasaran yang lain kalau dilanjutkan, buntutnya pasti tidak enak. Apalagi penasaran di wilayah begitu.

Benar saja, buntutnya bukan cuma tidak enak. Menurut si Bapak, buntutnya itu sudah gak enak, harganya mahal pula. Tak masuk akal.

Kebetulan jabatan yang dia incar perlu yang namanya restu dari gerombolan senayan. Ia bersaing dengan beberapa kandidat, menyiapkan bahan presentasai , menjawab pertanyaan, hingga sedia mahar. Semua ia lakoni supaya bisa lolos seleksi.

Tahap awal dilalui dengan lancar, namanya masuk ke dalam sekian besar. Saya lupa. Kalau tidak ada halangan, esok hari akan diumumkan siapa yang lolos dan layak duduk di kursi tersebut.

Malam sebelum pengumuman, ia dipanggil. Menghadap ketua gerombolan, yang katanya pimpinan geng dari kubu berkuasa. Waktu itu.

“Saya diminta setor dua puluh lima juta,” sebut si Bapak.

“Dua puluh lima juta dolar ?” pikir saya, wah mahal sekali kalau begitu. Padahal itu jabatan yang menurut saya…tidak ada kerjaannya.

“Bukan, Rp 25 juta,” jawabnya.

Lah, ini kecil sekali. Apa saking tidak pentingnya ini badan. Masa iya harganya cuma segitu. Mahal bingung, terlalu murah juga bingung.

Tampaknya si Bapak tahu saya kebingungan, soalnya kalau lagi bingung saya nambah porsi makan.
“Rp 25 juta per orang,” tambahnya.

Alamak! Gerombolan itu jumlahnya berkodi-kodi. Kalau seorang dapat segitu dari satu calon, gila benar uang yang ditransaksikan di sana.

Saya pun bertanya lagi. “Itu untuk semuanya ? Semuanya tanpa kecuali ? ”

Harus saya tanya begitu. Soalnya suka banyak yang mengaku-ngaku bersih kalau sudah duduk di sana. 

Si Bapak mengangguk. Yang kaya begini, kata dia, bukan urusan cere-cere semacam staf. Kalau sudah begini, si tuan-tuan yang maju sendiri.

Dia masih lanjut cerita, cerita soal tarif yang tak pasti. Sebab rekan yang turut melamar posisi serupa, kena tarif lebih tinggi. Konon rekannya itu punya peluang tinggi untuk lolos.

Gerombolan yang dulu sih sudah pergi, sekarang sudah ganti gerombolan baru. Tapi tampaknya cuma ganti baju. Dalamnya masih sama.

Lalu saya mencari apa istilah lain yang bisa digunakan untuk menikmati uang selain dari gaji. Jawabannya adalah komisi. Mungkin itu sebabnya juga mereka dinamakan komisi, supaya segala sesuatu yang mereka harus kerjakan atau setujui bisa memberi mereka masukan tambahan selain dari gaji mereka.

Saya menatap nasi padang berhias tunjang di hadapan saya. Kembali ke kenyataan.

Semoga salmon panggang dan segala ceritanya tadi hanya mimpi.


Semoga itu bukan di negeri ini.

Rabu, 12 November 2014

Interstellar : Cinta Lima Dimensi, Galau Lintas Galaksi

Warning : spoiler abis, kalo belom nonton disarankan jangan baca. Tapi kalo tetep penasaran, gue udah ingetin loh ya….

Kicauan, review, serta komentar orang-orang di sosial media soal film garapan Christopher Nolan dalam beberapa hari ini ternyata ampuh membuat kami penasaran.

Tanpa rencana apapun dan dalam kondisi lazimnya para karyawan di tengah bulan (baca : bokek) , gue dan Rangga berhasil membujuk Ayu untuk menggesek kartu kreditnya dan nonton bareng film Hollywood yang bertema masa depan ini.

Demi menonton film yang kata orang-orang ;  luar biasa, dahsyat, mengagumkan, mengharu biru, penuh pesan tersirat, dan segala pujian lainnya itu…kami bertiga sampai lari-lari dari Grand Indonesia ke Plaza Indonesia sekitar jam 19.07 demi mengejar jam tayang sesi 19.15 waktu setempat. Drama abis.

Yah kan namanya mendadak, terus kami gak mau nonton terlalu larut. Gak baik perawan pulang malam-malam kata orang tua (sok iye). Kecuali Rangga ya, soalnya dia bukan perawan. Dia perjaka.
Sampai sana, ternyata jam 19.15 sudah habis tiket. Tayang lagi jam 20.15, akhirnya kami sepakat nonton jam segitu dan menyesal…..ngapain tadi mesti lari-larian dari GI segala kalo nontonnya masih lama. Namanya juga geng gak jelas.

pic cr to hollywoodreporter.com

Film diputar selama kurang lebih 3 jam, gak kalah ama film India. Bedanya, kalau dalam Film India banyak adegan sedih berlatar belakang hujan air, di Interstellar latar belakangnya hujan debu. Anti mainstream abis. Sayang lagu “Suci Dalam Debu” gak kepilih buat jadi sontrek nih film.

Usai film diputar, kami lelah. Sepanjang film bermain, kami pusing. Tenang, itu bukan karena salah filmnya. Kesalahan lebih kepada kapasitas otak kami yang gak bisa diajak mikir di luar jam kerja dan kondisi hati yang hobi nyama-nyamain setiap adegan dengan nasib diri sendiri.

Alhasil, sejak film mulai tayang sampai akhir, kami gak berhenti ngoceh, ngikik, dan komentar sana-sini. Gagal sedih dan terharu seperti yang orang-orang rasakan. Makanya, banyak yang gak kuat nonton bareng sama kami. Takut gagal paham atas pesan yang coba disampaikan film sesungguhnya (dan khawatir yang terngiang-ngiang justru komentar gak jelas dari bibir kami).

Nah, begini kira-kira interpretasi, komentar, dan reaksi kami terhadap film Interstellar :

Selasa, 28 Oktober 2014

7 Tahun Menjadi Blogger

Kemarin katanya hari blogger nasional. Terus saya malah posting soal Susi (dan postingannya ngehitz abees).

Sekarang, akhirnya saya mau cerita sedikit soal pengalaman jadi blogger. Eh btw, istilah blogger kalo diganti ke bahasa Indonesia yang lebih enak ada gak ya ? Biar lebih nasionalis dan tetap kepegang sumpah pemudanya. Ciyeee.

Saya lupa kapan tepatnya saya mulai nge-blog. Yang saya ingat, waktu itu saya mau beli buku diary yang ada gemboknya tapi udah kehabisan stok di warung-warung setempat.

Saya gak suka nulis di Orgy (bener gak ya nulisnya ?), kertas file apalagi. Terus lama-lama kapalan di tangan makin gede gara-gara kebanyakan nulis pakai pulpen di buku tulis. Khawatir jari semakin bengkak dan sulit dimasukkan cincin yang akan mengikat hati kita pada orang yang istimewa di masa depan, akhirnya saya memilih untuk menggunakan teknologi.

Sekitar 2007, waktu itu jajal bikin blog pake komputer Kakak Sepupu di Semarang. Awal nulis itu isinya serba ga penting, sampe sekarang juga sih. Sampai akhirnya punya komputer sendiri, nulisnya juga masih ga penting.

Kalo dirunut, berarti saya udah tujuh tahun jadi blogger. Yeayyyy.

Terus gimana hasilnya 7 tahun ngeblog ?

Selama tujuh tahun ngeblog saya ga pernah ikut komunitas blogger apapun dan manapun. Bukannya sombong, tapi emang gak tahu harus kemana dan gimana..hehe. Kalopun ada komunitas yang sesuai buat saya itu kayanya #komunitasbloggerkecetapibokekdankesepian. Sukar ditemukan pastinya.

Awal-awal ngeblog, tulisan saya itu berantakan banget. Malu kalo liat-liat dan baca lagi, hehe. Sampe sekarang juga masih berantakan, tapi udah agak lumayan. Kalo mao liat tulisan saya yang rapi jali mah baca koran ama majalah kantor saya aja sonoh (blogger jutek).

Selain tulisan yang makin rapi, saya juga dapat banyak dari blog ini. Alhamdulillah. Utamanya banyak tambahan kenalan dan temen. Terus nambah jadi ada fans. Eciyeeee.

Dari blog ini, saya juga pernah dapat duit sama menang kuis. Dan paling menggemberikan adalah tawaran untuk menulis buku dari penerbit. Semoga bukunya cepet terbit dan laris nanti. Aminnnn.

Tapi paling seneng itu dengan menulis di blog ini adalah bisa berbagi informasi dan menghibur kawan-kawan semua.  Seneng banget rasanya kalo ada yang komen atau bilang tulisan di blog saya  (yang serba gak jelas ini) bisa bikin senyum-senyum sendiri waktu dibaca. Seneng juga kalau isi blog ini ternyata cukup informative buat kawan-kawan.

Isi blog ini sangat absurd, mulai dari khayalan gak jelas sampe informasi gak penting. Tapi ternyata banyak yang baca juga, baik suka secara terbuka maupun diam-diam suka…(colek para silent readers).

Ngeblog buat saya itu penting, setidaknya ini jadi tempat belajar kita beropini dan mengemukakan pendapat. Tidak semua orang suka atau setuju pastinya, tapi selemah-lemahnya iman dalam menjadi warga negara itu adalah ketika memiliki opini untuk masalah bangsa ini kita cuma pendam aja dalam hati. Sadaaaap.

Semoga ke depannya blog ini tetap bermanfaat, baik dari sisi wawasan maupun sekedar mengisi sepinya hidup para pembaca yang kesepian.

Selamat menulis ^^


Senin, 27 Oktober 2014

Cerita Tentang Susi


Nama Susi menjadi tren sekitar tahun 80-90 an. Hampir dua dari enam orang yang saya kenal waktu itu, kayaknya bernama Susi. Kesannya ngarang ya ? tapi enggak kok.

Temen SD sebangku saya namanya Susi, guru kelas 4 SD saya namanya juga Susi. Bahkan atlet badminton yang berhasil menggondol emas olimpiade waktu itu pun, namanya Susi.

Masuk 2000-an, kalau masih ada orang tua kasih nama Susi pada anaknya pasti diketawain. Kesannya kok ndeso banget. Susi tak lagi jadi nama orang kota. Susi itu nama orang desa yang ingin kekota-kotaan. Soalnya nama orang kota saat itu sudah berbau kebarat-baratan, ketimur-timuran, wis pokoke gitu lah.

Sekarang, nama Susi lagi hangat diperbincangkan. Gara-garanya Susi sekarang jadi menteri. Menteri Perikanan dan Kelautan di Kabinet Kerja ala Pak Jokowi.

Orang ramai ngomongin Susi gara-gara latar belakangnya ; tidak tamat sekolah, punya tato, hobi ngerokok, dan hal lain-lain soal urusan personalnya.

Bu Susi memang benar punya tato di kakinya. Saya sendiri pernah lihat tato itu waktu ketemu dengan dia di rumahnya yang ada di Pangandaran sekitar 3 tahun lalu. Sampe sekarang aja saya masih gak nyangka, perempuan yang saya temui waktu itu sekarang bisa jadi menteri. Gayanya juga masih begitu-begitu aja dari dulu. Serampangan.

Saya ketemu dia gara-gara waktu itu ada pesawatnya yang jatuh di Papua. Menuruti perintah kantor, akhirnya saya harus berangkat dan ketemu beliau di rumahnya.  Saya sih oke-oke aja, toh Pangandaran masih deket jaraknya.

Kaget juga pas lihat undangan mesti kumpul di Bandara Halim Perdana Kusuma. Setelah diusut ternyata bener dong, saya ke Pangandaran mesti naik pesawat yang tipe dan jenisnya persis sama yang mengalami kecelakaan di Papua, sehari sebelumnya. Waduh.

Waktu saya minta ke humas pakai jalur darat aja, si humas menjawab dengan enteng. “Gak bisa, Mbak. Ini biar sekalian buktiin bahwa pesawat kita aman.”

Situ aman, sini deg-degan.

Pengalaman pertama naik Susi Air..ini sih pas pulang, udah gak pucet lagi hehe

Kamis, 23 Oktober 2014

Saudara

Saudara

“Jangan padam obor,” begitu Papa selalu menasehati. Buat Papa, menguatkan tali silaturahmi dengan sanak saudara itu penting. Tetangga dan kawan memang dekat. Tapi, saudara yang dasarnya sudah jauh, jangan sampai jadi asing.

Berkembangnya teknologi dan jasa mayantara jelas membuat soal jadi enteng. Kapanpun , setiap saat, kita bisa tahu kabar terkini keluarga kita. Tapi tetap saja kurang nendang. Papa berhasil meyakini saya bahwa cara mengikat tali silaturahmi paling kuat itu adalah bertatap muka, sering-sering bertandang, dan langsung bercakap-cakap.

Sayang, semakin bertambah usia, waktu tampak semakin kurang. Sebenarnya waktu berjalan biasa saja. 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, 12 bulan dalam setahun. Dari sebagian waktu itu, berapa lama untuk bekerja ? Berapa lama untuk bercengkrama dengan rekan, kerabat, atau apapun kita memanggil mereka ? Sisanya baru sanak saudara.

Biasanya pas lebaran. Kadang, tapi ini sangat jarang, pas hari raya lainnya. Pokoknya pas ada niat dan ada waktu, yang setelah diatur sana-sini, baru bisa buat ketemu. Waktu sisa.

Papa bahkan bilang untuk mengumpulkan saudara itu ada dua momen penting. Dua momen ini pasti membuat mereka yang paling jauh sekalipun, mendekat untuk bertemu. Yakni, pernikahan dan kematian. Satunya berita bahagia, satu lagi penuh duka.

Saya tidak suka yang kedua. Yang pertama jarang hadir juga. Masalah klasik manusia modern ibukota. Makin dekat dengan hal fana, makin jauh dari asalnya.
Empat tahun ini, saya belum pernah berkunjung lagi ke Semarang. Tempat saya menuntut ilmu dan menjadi bagian dari  keluarga di sana. Mustahil untuk lupa keluarga di sana, tapi ya itu, saya terlena dengan berbagai alasan. Biasanya alasan berjuang. Berjuang kumpulkan uang, sisihkan waktu, dan alasan lainnya. Klasik.

Tapi Alhamdulillah, saudara saya baik semua. Udah paham kelakuan saudaranya yang satu ini. Meski jarang bertemu, sekalinya jumpa tetap punya banyak hal untuk dibagi. Kadang rezeki, tapi lebih sering cerita. Ya cerita aja, karena memang dasarnya saya hobi cerita. Nanti yang lebih tua kasih petuah, yang muda sumbang tawa.

Selasa, 14 Oktober 2014

Modus-Modus Copet Metromini

28 Tahun gue hidup di Jakarta, baru kali ini gue kecopetan di metromini. Kalo hilang barang karena ketinggalan atau selebor emang sering, tapi copet…..akhirnya gue kena juga.

Bukannya gak ikhlas ya, tapi emang sulit pasrah dan senyum kalo barang lo diambil orang secara kupret gitu. Beda rasanya saat kena musibah atau memang harus memberi yang butuh, kalo dicopet itu …..rasanya…kzl abs (bahasa gaul).

Yang bikin gue lebih kesel lagi adalah lamanya pelayanan mand*ri call, izh! Hampir satu jam tidak diangkat…..cepetan malingnya nguras atm gue ketimbang permintaan blokir.
Okeh , gak usah lama-lama…gue rasa gue harus berbagi modus-modus ini supaya yang lain bisa lebih waspada. Soalnya waktu gue cerita, beberapa kawan yang pernah kecopetan dan hampir kecopetan ternyata mengalami hal serupa. So, begini ceritanya.

Minggu, 12 Oktober 2014

Pak Boed Terbahak-Bahak

Kalau ada penghargaan pejabat yang paling kalem, saya berani bertaruh Pak Boediono adalah pemenangnya.

Orangnya memang begitu, kalem. Tapi sekali dia bicara langsung nge-‘lead’. Istilah kami, para pewarta, untuk omongan yang mempunyai bobot berita. Tidak seperti si RI 1 yang ‘lead’nya mesti dicari, karena dia hobi bicara memutar. Pak Boed itu bicara langsung ke isinya. Ke kontennya, meminjam istilah seorang kawan di facebook.

Saya beberapa kali bertemu Pak Boed, tentu untuk urusan pekerjaan. Bukan bertemu juga sih, tepatnya mungkin mengejar. Pertama kali di acara asosiasi pengusaha migas asing, terakhir kali di sidang tipikor saat beliau dipanggil sebagai saksi.

Tenang. Saya tidak akan menulis untuk membela Pak Boed ataupun menyudutkannya untuk kasus tertentu. Soal begitu-begitu kalian baca dan cari di media saja. Di sini, saya hanya mau menulis apa yang tidak ada di berita.

Foto terakhir bersama Pak Boed sebagai Wakil Presiden ^^

Kamis, 09 Oktober 2014

Mercy Hitam

Sepanjang jalan si bapak mengoceh. Sebagian isinya istilah teknis yang tidak saya kenal. Kadang saya mengangguk dan mengiyakan, sebagai tanda saya masih mendengarkan. Atau sekedar tanda sopan santun saja. Tidak ada orang bicara tapi tidak ingin didengar. Apalagi oleh orang yang sedang numpang di dalam mobilnya. Seperti saya.

Bapak itu bicara lagi, kali ini benar-benar soal masalah yang tidak saya ketahui. Belum saya kuasai tepatnya. Tapi saya tetap menunjukkan mimik serius, peduli setan meski saya tak mengerti omongannya. Yang penting semua sudah direkam, masalah paham urusan belakangan.

Saya bertanya macam-macam, menggali informasi sebanyak mungkin. Kadang jawabannya melebar, sampai perlu saya ulang pertanyaan. Kalau sudah kepepet dan sedang tega, biasanya saya potong di tengah-tengah. Tapi tidak untuk hari ini, saya lagi baik hati.

Di mercy hitam itu, si bapak tidak hanya menjawab pertanyaan. Dia juga bercerita. Tentang film, tentang masalah negara ini, tentang banyak hal yang harus dibenahi, tentang suramnya sektor yang ia geluti.

“Blood Diamond. Kamu sudah pernah nonton filmnya ?” Tanya si bapak.

Saya jawab, belum.

Kamis, 02 Oktober 2014

Parade Kebaya di Pelantikan DPR

Beberapa jam sebelum Ceu Popong kehilangan palu dan anggota dewan rusuh, gedung dewan sudah gonjang-ganjing karena para penghuni barunya.

Bukan karena rapat, siasat buat memperebutkan kursi pimpinan, bukan. Tapi karena penampilan perdana para anggota dewan, terutama para selebrita dan perempuan, sebelum pelantikan.

Bak ajang penghargaan film, semua kamera menyorot pakaian-pakaian para anggota dewan saat itu. Rancangan siapa ? Berapa harganya ? Bagaimana modenya ? Coco atau tidak ? Warnanya sesuai kah ?

Pastinya, busana yang desye-desye kenakan juga jadi bahan omongan sama perempuan-perempuan jelataaaa macam gue dan kawan-kawan. Penasaran aja, gimana sih para wakil rakyat kita menampilkan dirinya ? Gak pelu mahal, tapi yang penting enak dilihat.

Hasilnyaaaaa……jeng-jeng, tampilan perdana para wakil rakyat dari gender kitah ini sangat menakzubkan! Ada yang anggun, ada yang kalem, ada yang wah, ada yang gonjrenggg….ada juga yang….udah lah ya.

Sebenernya gak cuma yang wakil rakyat sih, beberapa seleb perempuan yang kebetulan hadir juga ga lepas dari pantauan kita…terutama Ashanty dan Loli…. Yah, maklum Pipi-nya Loli kan sekarang udah jadi anggota DPR.

Berikut adalah kebaya dan para seleb-seleb perempuan yang bakal kita bahas.

Menurut gue, kebaya dan penampilan paling ciamik di pelantikan DPR kali ini dipersembahkan oleh putri dari Hashim Djojohadikusumo : Rahayu Saraswati

pic cr to instagram Rahayu



Warna kebayanya kalem dan cocok sama kulitnya, kainnya juga pas. Clutchnya dan hiasan anting mutiaranya pilihan yang tepat. Bros di tengah kebaya menambah aksen anggun tanpa harus terlihat tampil terlalu mewah. Tatanan rambut klasik gak menghapus kesan modern dari penampilan Saras. From head to toe, it was perfect!

Peringkat berikutnya diisi oleh Desy Ratnasari dan Rieke Diah Pitaloka.

Pic cr to Bintang Online (btw ini kalo ga pake blitz sebenernya warna kebayanya ga seterang ini loh)

Yuk bahas dari Si Oneng dulu.
Awalnya gue gak paham kenapa Si Oneng ini berani bener pake warna merah—merah banget. Belakangan baru tahu, memang ada instruksi dari PDI – Perjuangan menggunakan pakaian berwarna merah hitam sebagai dress code. Duileee…
Tapi pilihan kebaya Rieke ini menarik, mengingatkan gue akan bangkitnya Nyai Dasima…… eh Nyai Dasima itu cantik ya..FYI.

Kebaya lengan separuh itu , beda dan gak ada yang nyamain. Dalaman berupa bustier hitam, membuat bordiran di kebaya tergambar indah. Kainnya, nah ini yang menarik….ada yang sadar ada dua ayam jago di kain yang dipake Rieke. Mungkin tadinya dia mau cari gambar banteng, tapi gak dapet..lagian kalo pake banteng , entar kebayanya diseruduk mulu ama tuh banteng.

Kalung dan anting emas, menambah hidup kesan klasiknya. Rieke bener-bener membangkitkan semangat Nyai Dasima di DPR….hajar itu semua kompenih!!
Kalau boleh gue simpulkan, pakaian yang dipake oleh Rieke ini sudah sangat mencerminkan karakternya. Sophisticated!

Teteh Desy…
Pic cr to Bintang Online

aduh si teteh anggun pisan. Pilihan gamis kebaya berwarna ungu muda dengan motif kembang  udah cocok banget dipake sama pelantun tembang Tenda Biru ini. Kebayanya pun agak longgar, jadi ga ngetat dan tetap sopan. Kain dan clutch-nya pun oke.

Tapi, dalemannya juga bermotif serupa..bahkan sampe ke ciput-ciputnya pun ikut dibordir. Jadi si Teteh cuman pake kerudung warna polos dan berhias sedikit manik-manik dan bordiran yang kesannya cuma ditempel dan digerai begitu aja. Sayang banget. Warnanya jadi terlalu seragam untuk bagian atas, sampe-sampe bros yang ada di tengah baju pun jadi kurang menonjol. Eh itu entah bros, kalung, atau emang tempelan dari sononya sih…tapi itu penuh warna dan jadi gak keluar warnanya.
Tenang Teh, secara keseluruhan….kamu tetap anggun! We like it!

Rachel Maryam……

Pc cr to Bintang Online

cantik dan imut. Gue suka pilihan warna kerudungnya dan riasan wajahnya . Cara menghias kerudungnya juga oke. Warna kainnya yang cerah juga menarik. Kebaya putih sebenarnya udah pas buat mengimbangi warna kainnya, bordiran dan hiasannya juga membuat penampilannya lebih dari sekedar sederhana.
Tapiiiii…..potongan lengannya itu loh, itu kan gaya 2008-an banget. Mending pake yang ¾ terus pakein manset dan tambah hiasan gelang biar lebih anggun. Dan jujur, gara-gara masalah lengan…hilang deh kesan anggunnya, itu jadi kaya busana mau nemenin kakak wisudaan.

Venna Melinda!!

Pic cr to Kompas

Duh, tante yang satu ini mungkin lupa pernah jadi None Betawi dan Putri Indonesia …dua puluh tahun lalu. Atau, mungkin doi stuck di mode era 90 dan 2000-an yak. Soalnya, setelah sekian lama….baru kali ini lagi gue lihat orang pake beludru buat jadi kebaya. Beludruuuu~~~~~~

Dia bilang sih biru itu emang dress code-nya partai di pelantikan. Okay, that I can accepted…tapi partainya gak minta pake PINK buat kainnya kan ? dan beige buat jadi selendang ? tabrakan warna yang luar biasa.

Oke lah, anggap pink-nya gak masalah (kalo menurut gue sih masalah)…tapi belahan kainnya ? emm...mungkin Ceu Popong bisa kasih solusi.

Tapi itu semua gue maafkan demi tas Louis Vuitton warna pink yang dia tenteng….its cute. I want it!!! (and I want your son!!)

Titi Prabowo

Pic cr to Detik

Setelah digosipkan bakal rujuk sama mantan suami karena soal politik……gue pikir ibu kita ini akan mengurung diri di dalam rumah karena kembali kena harapan palsu dari laki-laki yang sama.
Ternyata enggak, dia balik ke pentas politik …oh wait, tapi itu kayanya Bu Tien deh. Bener gak sih ? Apa gayanya aja ?

Ohhhh….ternyata itu Bu Titi cuma pake kebaya kaya Bu Tien. Eh bukan ? Jadi Titi Prabowo ke pelantikan DPR mengenakan kebaya Bu Tien…literally pake kebaya milik almarhumah. Gak ada yang salah sih pake kebaya ibu sendiri….tapi kan itu 80’s banget. I loved Bu Tien’s style…tapi itu semua ada masanya. Bu Titi could be better with her own style, I bet.

Ashanty

pic cr to DETIK

Apa karena dia hamil ya jadi kelihatan cantik banget ? Kebayanya pas, kainnya juga lucu kaya kain batik SD gitu tapi warna-warni. Payetnya juga cakep, warna merahnya cocok sama kulitnya. Sayangnyaaa……gaya pakaiannya gak menurun ke anaknya..Loli alias Aurel

Loli aja mau nangis pake bajunya ya ? (pic cr to Bintang Online)

Warna kebaya ama bustiernya Loli gak serasiiii T.T…

Okky Asokawati

pic cr to Detik

Untung ibu satu ini pernah jadi model, jadi pake apa aja cocok. Gue gak berani bayangin kalo baju yang dia pake dipake ama gue. Berasa gerobak sayur lagi jalan-jalan di DPR…ijo benerrrrr
Okky ini negesin apapun busananya….biar dari bungkus lemper juga…selama yang make model (ato bekas model), tetep keliatan okeeeh. Give up gue give up.

Nah…..dua di bawah ini adalah…yang menurut gue sesuatu banget…

Gue ga tahu namanya siapa, tapi…….apa kita hidup di wonderland ? Is She fairy ? Coz I can’t see her ears…I see only flowers…everywhere…

Your body  dress is wonderland



Dan yang paling bawah….

pic cr to @gitaputriid


Kita doain rame-rame ajah, mungkin dia ngefans berat ama Roro Kidul.

Sekian.....

Jumat, 12 September 2014

Iseng-Iseng Mikir Pilkada

Tadinya saya mau kasih judul “Menakar Pilkada” , tapi kok kayaknya serius bener. Kalo dikasih judul itu, seakan-akan saya lagi nulis di kolom opini sebuah harian ternama. Sebut saja Harian Kiamat, bukan harian yang sebenarnya.

(Seru juga ya bikin Koran dengan nama Harian Kiamat, jargonnya : Harian Kiamat, Kabarnya Ditakuti Sejuta Umat!)

Seperti perempuan kebanyakan, sambil sibuk kerja buat beli kosmetik sehari-hari, kadang isu-isu politik dan nasional yang lagi panas di pemberitaan juga saya simak. Biar kelihatan sedikit tanggung jawabnya buat mikirin negara.

Belakangan lagi hangat perdebatan soal Pilkada langsung atau tidak langsung. Gerombolan yang belum berkesempatan jadi pemenang di Pilpres kemarin (soalnya masih banyak yang sakit hati kalau disebut kalah), tau-tau menggagas ide untuk mengembalikan Pilkada seperti semula. Yakni, dipilih melalui DPRD.

Ide yang menarik, dan mengundang banyak komentar pastinya. Ada yang pro dan kontra. Pendapat setuju pastinya datang dari partai-partai yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih. Sementara yang kontra datang dari para penikmat Bubur Merah Putih, dan diantara penikmat itu ya pasti terdapat si para pemimpin daerah hasil pemilihan langsung. Bahkan para pimpinan hasil Pilkada langsung yang partainya ada di koalisi Merah Putih itu.

Ada yang demo, debat di tivi, sampai mengajukan surat pengunduran diri karena suara mereka bersebrangan dengan partainya. Ada yang mencaci, tapi tak sedikit pula yang memuji.

Kalau sudah begini, biasanya lini masa jejaring sosial bakal panas. Semua mengupas Pilkada langsung dari sisi manfaat dan mudharat. Status-status dengan tema Pilkada mulai bermunculan, link-link berita yang mengutip para ahli politik, hukum, bahkan nujum pun bertebaran.

Semua berusaha mengkooptasi pikiran siapapun yang membaca ketika mengintip laman facebook mereka. Ada juga yang memposting dengan maksud nyinyir atau menghina salah satu pihak. Semakin disebar dan dipajang, semakin menunjukkan bahwa pendapat mereka lah yang paling benar. Tanpa sadar, mereka mencoba mengubah pendapat mereka menjadi firman yang harus diterima.

Kalau sudah panas begitu, biasanya saya mampir aja ke blog-blog fashion atau kecantikan dulu sebentar. Soalnya apapun yang terjadi, mereka tetap istiqomah buat tampil gaya. Perdebatan paling panas di sana juga paling banter soal mana yang harus dipakai lebih dulu di wajah, essence atau toner ? itu penting.

Jumat, 22 Agustus 2014

My First Slumber Party Ever

Sebenernya bukan yang pertama banget sih. Dulu waktu SMA sama Kuliah juga lumayan sering nginep bareng temen-temen cewek, bedanya waktu itu istilah dan tujuannya beda. Sama temen –temen SMA atau kuliah itu biasanya karena ada kerja kelompok, atau mabit (makan, bincang-bincang, tidur), atau ada masalah yang harus kita selesaikan secara personal sebagai sesama perempuan hahaha.

Kali ini spesial, karena banyak hal-hal baru dan beda di dalamya. Teman-teman baru, baru pertama kali sewa apartemen, baru masak sendiri, dan pas ulang tahun.

Peserta pestanya adalah Geng Perawan Tunggal Ika, iyaaa itu loh geng yang kebentuk gara-gara sama-sama suka Kpop dan isinya kebetulan perawan single semua.

Persiapannya hampir sebulan, kita sengaja pengen ngegelar pesta ini buat kumpul bareng dan berbagi cerita untuk makin mengikat silaturahmi. Rencananya akan kita isi sama fashion parade, marathon nonton drama bareng, dan sesi curhat. Tapi semua rencana tidak berjalan lancar! Haha.

Sewaktu awal rencana, kami juga berjanji bahwa selama nginep tidak ada yang namanya makan di mal/restoran/pesan delivery dan penanggung jawab untuk belanja konsumsi selama menginap pun kami serahkan pada kawan yang berparas paling Timur Tengah. Tapi, seperti diduga, satu hari jelang hari H……doi lupa.

 Walhasil…semua repot belanja buat persiapan konsumsi..dan walhasil lagi, makanannya jadi sangat berlebihan. Alhamdulillah, nginep sehari kayak mau arisan seminggu.

Bahan makanan yang sangat-sangat-sangat-berlebihan


Gue dan Ayu didaulat untuk belanja bahan makanan sebagian. Niatnya makanan sederhana yang tinggal goreng atau tumis gitu, macam sosis, nugget, tahu, tempe. Udah lengkap bahan buat digorengnya, tapi kita lupa beli minyak gorengnya. LAHHHH!! Masak pakai apa ? (Makanya jangan suruh Dumb and Dumber belanja sembako).