Kamis, 03 November 2016

Jabatan, Kelamin, dan Agama

Kejadiannya belasan tahun lalu dan belasan kilogram lalu. Saya masih duduk di kelas 2 SMA dengan bentuk tubuh yang masih masuk kategori ideal (penting untuk disampaikan).

Usai mengikuti program Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK), beberapa hari atau pekan kemudian saya dipanggil oleh Kakak Ketua Osis. Namanya Kak Cintya, perempuan yang kini menjadi polwan dan sering mumcul di layar televisi karena kasus-kasus yang ditanganinya.

Kak Cintya memberi tahu saya waktu itu bahwa saya terpilih menjadi kandidat Ketua OSIS. Saya lupa ada berapa kandidat tepatnya, tapi saat itu yang saya ingat menjadi kompetitor saya adalah sebut saja I dan A.  I perempuan dan A adalah laki-laki. Saya diberi waktu selama sepekan untuk menyiapkan diri, membuat poster, jargon, visi misi dan lainnya.

Dibanding dua lawan saya, saya tidak punya pengalaman di OSIS sebelumnya. Saya lebih aktif di teater sekolah dan jadi guest star di ekskul-ekskul lainnya. Guest star ini maksudnya kalo ada kegiatan ekskul apa saja saya ikut, supaya itu ekskul kelihatan ramai gitu.

Saya sempat bimbang, namun Kak Cintya dan beberapa kakak OSIS lainnya meyakinkan saya. Mereka mengatakan memilih nama saya bukan sembarangan, intinya mereka percaya dengan kapabilitas dan jejak rekam saya. “Nama kamu muncul itu bukan sembarangan, yang pasti kami dukung kamu,” begitu kata si kakak.

Akhirnya saya maju, saya siapkan visi misi dan memajang foto saya di selembar karton yang kemudian saya pampang di mading sekolah. Begitu karton ditempel, dukungan awal jelas datang dari ibu ibu kantin dan penjaga sekolah. Sebagai wujud dukungan riil, di hari saya harus sampaikan visi misi di aula sekolah, pagi-pagi sekali si Imeh (orang kantin), memberi saya sarapan gratis mie goreng sebagai bonus. “Biar lo lancar,” kata doi.

Dukungan juga datang dari teman-teman dekat , adik kelas, dan kawan-kawan lain yang sering saya klaim sebagai fans. Ada yang bilang pasti memilih saya, ada juga yang khawatir kalau saya sibuk dengan OSIS, saya akan meninggalkan ekskul lainnya.

Hari H pun tiba, dan saya memberikan yang terbaik. Termasuk dalam sesi tanya jawab, saya pikir jawaban-jawaban saya memuaskan kalau didengar dari gaung sorakan dan tepukan tangan (ehem). Tidak semua murid berada dalam aula, yang bisa ikut memilih hanyalah perwakilan ekskul, anggota OSIS, dan perwakilan pengurus kelas. Saat pemilihan kami semua diungsikan dari ruangan, karena pemilihan dilakukan dengan voting.

Dari kedua kompetitor saat itu, secara kapabilitas yang saya anggap saingan berat adalah I. Dia sekelas dengan saya dan hubungan kami panas dingin. Kadang berantem kadang nonton meteor garden barengan. Karena sama-sama berjiwa kompetitif dan sering cari panggung di dalam kelas, kawan-kawan tampaknya sering mengartikan hubungan kami sebagai kompetisi tanpa henti. Tapi kalau saya memang harus memilih lawan, I sebagai lawan adalah hal yang saya perlu banggakan. Kita butuh kompetitor seperti itu supaya sekolah makin seru.

Padahal, meski orang sering melihat saya dan I punya banyak kesamaan ada perbedaan mendasar dalam diri kami. I, yang saya lihat, adalah perempuan dengan mimpi dan cita-cita. Sementara saya, perempuan dengan passion, fantasi, dan idealisme. Satu kandidat lagi, yakni A, satu satunya kandidat lelaki yang saat itu belum saya kenal dekat.

Spekulasi yang tersebar di sekolah saat itu untuk duduk sebagai Ketua Osis adalah antara saya dan I. Menurut saya, I bahkan lebih unggul dengan bekal pengalamannya sebagai Wakil Ketua Osis II.
Pintu aula dibuka dan panitia pun menyuruh kami masuk untuk mengumumkan siapa yang terpilih. Tanpa diduga, A yang memenangkan suara terbanyak. Saya ada di peringkat dua, kalah hanya beberapa suara.

Sebenarnya saya tidak masalah dengan kekalahan, yang menjadi masalah adalah salah satu penyebab (dan jadi penyebab penting) mengapa saya bisa kalah yang diungkap oleh seorang kakak OSIS kepada saya. Kakak inilah yang mengusulkan nama saya masuk kandidat dan meyakinkan orang-orang, bahkan perang argumen di dalam aula. “Kamu kalah cuma karena kamu perempuan,” kata dia, dan saya hampir tidak percaya mendengarnya.

Rabu, 12 Oktober 2016

Terkena Demam Moon Lovers


Bukan ini mah bukan nama penyakit, ini nama serangan yang lagi banyak menyerang perempuan yang ketagihan drama Moon Lovers. Nama panjang dramanya sebenarnya Moon Lovers : Scarlet Heart Ryeo, tapi kalau di judul ditulis lengkap tak enak dipandang rasanya.

Yup, seperti biasa ini adalah drama korea, dan drama korea yang kesekian kalinya yang menggunakan “Moon” sebagai judul ; Moon Lovers, Moon embraces the Sun, Moonlight drawn by clouds, dan lainnya. (Yah sementara di Korea bulan jadi judul drama, di sini bulan paling banyak jadi martabak).

Balik lagi ke dramanya, setelah berbulan-bulan nonton drama tanpa emosi, baru kali ini sayah merasa daya tarik yang kuat lagi untuk nonton drama. Drama terakhir yang begini kuat jelas DOTS. 

Terus kenapa bisa tergila-gila ? Berikut adalah alasannya 

1. Ada 7 Aktor Ganteng Dikasih Sekaligus 

7 lakik begini.....


Satu atau dua aktor aja udah pengsan. Ini dikasih 7.. Dahsyat



2. Episode pertama langsung dikasih adegan mandi 

emang cuma bidadari doang yang boleh mandi bareng ? jejaka juga boleh kelesss
BIAR JELAS!!!


Liat yang kaya begini...pengen banget gw reinkarnasi ke jaman goryeo....terus berubah jadi handuk.

APA COBA KATA BAPAK GUE KALO TAHU ANAKNYA PUNYA CITA-CITA JADI HANDUK DI ZAMAN GORYEO!!



3. Bonus adegan Lee Jun Ki mandi sendiri 

Tiati Bintitan Neng kalo liat badan Abang buka-bukaan

Kalo kaya yang begini ada di kolam mah......sayah kalo jadi IU juga kalau tenggelam gak akan bisa bangkit lagi. Aku terjatuh dalam lautan.....dosa terlarang

NENG GERAH BANG...GERAHHHHH!!!

Minggu, 04 September 2016

Ganti Nama!!

Setelah didiamkan dan dipelajari berbulan-bulan....akhirnya kembali posting di blog ini :D

Eh tapi ada yang sadar kalo ada yang beda, gak ? (sok-sok kasih sinyal minta diperhatiin).
Coba di lihat dong di paling atas, di samping tanda huruf B orens itu....Yup nama blognya berubah.

Semula nama blog ini adalah : gustidha.blogspot.co.id
Sekarang jadi : www.mbakgoes.com

Kenapa mesti diubah sih ? Dan kenapa namanya jadi mbakgoes gitu ?
Ada beberapa jawaban untuk dua pertanyaan di atas. Eyaaaa banget ya. Tapi yang paling penting adalah saya mau benahin blog yang sudah bertahun-tahun saya pakai ini.

Kenapa pengen saya benahin ?
Jawabnya simple, biar kekinian kaya Awkarin (gak nyambung sih jawabannya emang).
Saya mulai ngeblog di sini sejak tahun 2004 kayaknya atau 2005, berarti alamat blog ini sudah lebih dari satu dasawarsa saya pakai. Dari yang tampilannya cuma warna ungu biasa sesuai dengan template yang dikasih si blog, dan isinya tulisan doang. Terus berkembang sampai sempat dipasangin lagu, cursor yang bergerak-gerak, pokoknya sesuai tren yang berkembang.
Tapi saya gak pernah punya hosting sendiri!!! Begitu pula dengan lay out-nya....jelek banget , yang sekarang ini bisa dibilang mendingan lah ya.

Kekuatan blog ini selama bertahun-tahun ada di tulisan dan cerita-ceritanya (ehem), bukan gambar atau tata letak yang menarik. Alhamdulillah, biar kata tampilan acak adut masih ada aja yang mampir di blog ini. Jadi ya saya diemin aja bertahun-tahun.

Sabtu, 11 Juni 2016

Review Conjuring 2 : Mistis Yang Kelebihan Adegan Romantis


PS :  Spoiler ABIS, jangan baca sebelum menonton!!! (Tapi kalo penasaran banget, baca separoh aja)

Satu pekan lalu, gue dengan beberapa kawan sok-sokan nonton Ninja Turtle 2 bioskop dengan ambil studio yang bisa pake kasur. Berempat, dapatlah kita dua kasur besar untuk nonton.

Sebelum film dimulai, ada teaser film Conjuring 2. Baru teasernya aja, kami yang tadinya menyebar di dua kasur….merapat ke satu kasur!! Bayangin, padahal bobot kita dipastikan semuanya lebih dari separuh kuintal…saking traumanya sama film Conjuring pertama, liat teasernya aja kita udah ketakutan.

Jujur, sejak nonton Conjuring pertama..gue udah gak berani lagi maen petak umpet saking parnonya (dan saking udah tuanya). Masih ngeri aja gitu, pas lagi jaga…tau-tau ada yang nepok, tapi pas dicari ternyata gak ada orang…Jrit!! Kalian pasti inget adegan ini deh!

Gara-gara adegan petak umpet dengan tepokan misterius gitu, gue untuk bedain kalo yang nepok itu orang atau setan selalu melakukan verifikasi. Kalo bener-bener dia orang/manusia, gue minta dia untuk tepok pramuka. Karena pramuka sejati selalu suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan..seperti tertuang dalam dasadarma. (APA DAH!)

Pekan ini, Conjuring 2 akhirnya tayang di layar bioskop nusantara. Kali ini gue menonton dengan geng nonton film horor yang menamakan diri sebagai horror chics…isinya perempuan-perempuan yang semula gue kira pada berani nonton film horor.

Geng Horror Chics yang ngumpul nonton bareng berharap ketemu lawan jenis...tapi malah banyakan ketemu yang lawan kodrat....Ciyan 


Kita ambil jam tayang yang dekati tengah malam dan layar lebih besar dengan efek suara lebih dahsyat. Bukan karena kepengen, tapi emang keabisan tiket yang biasa aje…dapetnye itu.

Pilih bangku paling atas dan pojok, begitu liat ke belakang…kita nyesel. Jrit !di belakang kita ada ruang sedikit dan kosong, begitu lampu mati…bikin kita berkhayal..khawatir ada yang ikut nimbrung mojok di belakang kita. Akibatnya, sepanjang film kita gak mao nengok ke belakang. Dan beruntung letak layar selalu di depan (YA IYALAH!).

Lampu padam, layar terkembang….TSAH!

Adegan dibuka dengan aksi Ed dan Lorraine menangani kasus Amityville yang legend itu. Lorraine dan suaminya berada di sebuah ruang makan dengan beberapa orang untuk memulai satu ritual, memecahkan dan mencari sebab segala kehororan di rumah berhantu itu.


Minggu, 15 Mei 2016

Jalan dan Jajan di Daebak Fan Cafe - Depok

Hah ? Depok ? Gak salah ? Jauh amat sampai maen ke Depok
Itu komen pertama kawan-kawan begitu tahu kalo saya sampe bela-belain ke Depok buat icip restoran (atau café?) ini.

Komen kedua mereka adalah : Ada apaan sih di sana ? Sampe lo jauh-jauh ke sana, pasti ada apa-apanya.

Yup!! Pasti ada apa-apanya..hehe

Sebenernya, saya udah lama banget denger soal restoran ini. Bahkan restoran ini kalo kalian gugling masuk dalam resto yang wajib dikunjungin kalo berada di area Depok. Sebagai anak gahul masa kinih, jelaslah saya masukin ini dalam daftar resto yang kapan-kapan kudu disambangin. Kapan-kapan tapi, soalnya waktu itu belom termotivasi banget

Sampe akhirnya…demam DOTS mewabah (maap yak masih nyangkut ke drama ini lagih :D ) dan restoran ini ikut-ikutan dengan memajang si doi :

Duh Mas, mao ambil hatiku yang jatuh karena memandangmu ya ???


Mulanya, saya tahu ada foto ini dari Ka Puti yang majang di Path…terus saya tanya, terus dia jawab. Kayak maen kuis gitu kitah. Hahahah

Berujung saya akhirnya gugling ada apa aja sih di restoran itu, terus nemu mereka punya menu Daehan Minguk Manse …Ya ampunnnn anak-anakkuuuuuuuuu (ngaku2). Makin gak tahan lah ya gue ke sana. Dan akhirnya memutuskan di long weekend kemaren untuk mampir ke Depok dan icip-icip di Daebak Fan Café.

Berhubung long weekend gak kemana-mana, ya kerjaan saya Cuma bolak-balik tempat makan buat icip-icip. Nah, kali ini saya melibatkan Ayu dan Sutji untuk nemenin. Kebetulan si Sutji rumahnya di Depok, dia bilang abis ngegym bisa mampir ke sana. Tadinya dia keberatan gitu buat nemenin, tapi saya iming-iming kalo saya punya gosip dahsyat…Sutji langsung oke buat ketemuan , haha! -> Gosip bisa mempererat silaturahmi.

Sutci bersedia janjian jam 1 siang di restoran, dan saya baru datang jam setengah 4 sore. HUAHAHAHHAHAHA!! (untung Sutci maha sabar temenan sama sayah). Berhubung datang lebih awal, Sutci pun cari tempat terlebih dulu dan pesen minum sampai kembung.

Jam 3 , Sutji mulai was-was, “Woi, lo di mane ? Gue udah disinisin sama dedek-dedek labil nih. Kesannya gue serakah tempat, duduk sendiri tapi kursi banyak.”

Sementara posisi saya dan Ayu lagi di terminal Depok yang gak tahu gimana ceritanya…angkot kita terjepit di antara bus dan angkot yang mangkal. Bagaimana cara angkot yang kita naikin bisa keluar terminal ? Itu sebuah keajaiban yang hanya terjadi di Depok.