Rabu, 03 April 2019

Cerita Cinta yang Benar-Benar Buta!

Mumpung sedang lowong, kali ini gue ingin bercerita tentang sepasang kawan yang kadar cintanya berlebihan.

Sebenarnya, gue pernah menceritakan pasangan ini di blog yang serba tidak jelas dan dibikin saat-saat masa galau dulu; di sini

Nah, ini masih membahas pasangan yang sama. Sebut saja nama mereka adalah Hani dan Bani. Hani si perempuan, dan Bani si lelaki.

Hani ini jurnalis ekonomi, kini sudah menikah dengan Bani dan memiliki putri yang lucu. Meski berkawan bertahun-tahun dengan Hani, kadang sampai sekarang gue gak ngerti bagaimana cara dia memandang dunia dan isinya.

Tiga tahun lalu, waktu kami masih hobi nonton drama Korea di Press Room Kementerian ESDM. Gue iseng bertanya pada Hani untuk menguji rasa cintanya dia pada Bani – yang waktu itu masih pacarnya.

“Han, Lee Min Ho sama laki loe gantengan mana?”

Ini Lee Min Ho, pic courtesy @li_min_ho_official


Hani jelas menjawab pacarnya lebih ganteng. Tapi bukan itu yang membuat gue terkezut. Yang bikin gue shock adalah kalimat lanjutannya.

“Jelas Bani lah, Mbak. Lagian si Lee Min Ho kan mirip MS Hidayat!”

MS HIDAYAT, mohon maaf ini buat yang belum tahu Pak MS Hidayat, ini bapak mantan Menteri Perindustrian. Gue shock lah. 

MS HIDAYAT MIRIP LEE MIN HO DARI MANANYAAA????



(Gue sebenernya mau bilang ; MS Hidayat ganteng belah mananya?? Tapi takut kualat kan).

Singkat cerita, tiga tahun kemudian setelah pernyataan itu, saya pikir Hani sudah sembuh. Tapi ternyata enggak juga tuh.

Intinya, awal Maret lalu kami janjian untuk kondangan ke Padang karena salah satu kawan karib kami akhirnya menikah. Setelah memacari 13 anak gadis tanpa memberi kepastian. 

Waktu mau ke Padang, Hani ini ribet banget. Nanya-nanya mulu kaya wartawan. Ya, emang profesinya sih.

Mbak, lo ikut ga?”
“Ikut, kenapa emang?”
“Kalo lo ikut, gue pengen bawa anak gue. Kalo lo gak ikut gue jalan sendiri aja. Anak gue ama bapaknya.”
“Lah, ngapa bisa gitu? Gue entar jagain anak lo?”
“Kagak Mbak, kalo ada loe kan anak gue ada temen mainnya.”

Gue bingung ini, anak dia itu umurnya 3 taon. Gue 30 tahun. TEMEN MAIN DARI MANA, YA TUHANNNNN!

Jawaban dia simple;  “Ya kan lo berdua sama-sama suka Elsa Frozen!”

Ya kalo gitu caranya AKU BERTEMAN DENGAN SELURUH BOCAH DI PENJURU DUNIA DONG! Biarlah sudah LET IT GOOO!


Alhasil, ujungnya si Hani gak jadi bawa anaknya. Bukan karena gue gak mao nemenin dan maen frozen-frozenan, tapi karena tiket pesawat yang naiknya lebih cepat dan tinggi dibanding kenaikan gaji. 

Sampai di Padang, siang jelang sore. Kami memutuskan ke Bukit Tinggi dulu buat cari makan dan foto-foto. 

Perjalanan dari Bandara ke Bukit Tinggi ada kali sekitar 2 jam. Nah, sepanjang jalan ini lah gue rasanya mau muntah. Bukan karena jalanan di Padang naik turun dan meliuk-liuk, tapi karena kelakuan si Hani. 

Loe bayangin aja, saat mobil naik turun. Tiba-tiba Hani berceloteh. 

“Mbak, Hamish Daud ganteng ya.”

Gue Diemin.

“Hamish Daud ganteng ya, Mbak ya! Kaya lakik gue, Bani!”

ASTAGFIRULLOH, “SITU RAISA YA?” -> spontan gue teriak. Intinya gue berargumen, dilihat dari sisi mana sih suaminya itu mirip Hamish Daud. Kan Kelen tahu lah seganteng apa Hamish Daud. 

Mohon maaf ya para penggemar Hamish Daud


Hani masih kekeuh, “Ya Mbak, coba lo liat deh. Laki gue sekarang agak gemukan Mbak, kalo dilihat-lihat bisa mirip Hamish Daud.”

Gue tantang untuk cek Instagram Hamish Daud. 

Lalu, dia scroll sampai bawah. “Iya Mbak, kok gak ada ya. Perasaan kalo gue liat muka Bani mirip kok.”

JADI INI RAISA KW PAKE PERASAAN SAJAH SODARA-SODARA.

TIAP LIHAT MUKA SUAMINYA DIA PIKIR MIRIP HAMISH DAUD. TAPI DIA TIDAK PERNAH CEK DAN KONFIRMASI DENGAN FOTO HAMISH DAUD SENDIRI.

guling-guling dulu biar sehat jiwa inih


Lelah hamba. 

Sabtu, 19 Januari 2019

Pertemanan (Ceritanya) Kepingin Sehat

Seperti orang kebanyakan, setiap awal tahun pasti dimulai dengan resolusi. Apa yang mau dicapai tahun ini?

Dan seperti tahun-tahun, atau bahkan dekade, sebelumnya. Resolusi 2019 pastinya masih tetap mainstream; pengen kurus, pengen sehat, pengen hemat, pengen kawin, pengen kawin lagi..eh. Gitulah.

Nah, menurut penelitian orang-orang yang kerjanya meneliti dan kami tinggal baca, agar suatu impian atau resolusi bisa terwujud ada baiknya dilakukan secara berkelompok. 

Sama toh seperti kerja kelompok, mau tidak mau pasti kelar, meskipun yang kerja akhirnya cuma seorang. Mungkin itu alasannya, kenapa berkelompok selalu sukses. Meski ada yang dikorbankan. 

Kebetulan, saya punya geng yang sangat-sangat tidak jelas. Isinya orang-orang yang punya keinginan fisik warbyasa dengan nafsu makan dan jajan yang tak kalah juara. Sebut saja nama sebenarnya; Gue, Rangga, Iwan, Abud, Maik. 

5 sekawan ini mulai resah dengan bentukan badannya, dan ingin sehat di tahun ini. Kami ingin punya pertemanan sehat seperti Dian Sastro dan kawan-kawan. Pertemanan yang kalo janjian lari bareng di Jerman, atau buka restoran diet di mal. 

Kek gini loh contoh pertemanan sehat. Pic by Hitts via Google


Bukan pertemanan yang kalo janjian buat; males datang pagi ke kantor, mabur nonton, bagi donlotan, atau janjian nirfaedah lainnya. Kami ingin jadi #Pertemanansehat.

Tapi, berhubung kami masih sebatas kepingin sehat, jadilah saat dilontarkan ide-ide hidup sehat banyak terjadi tawar menawar dan persengketaan di grup BBM. 

Oh iya, kami pake BBM Group, soalnya buat cari duit di #groupwar!  Mayan buat nonton gratis kalo dapat uang di DANA wkwkwkw. 

Ajakan pertama adalah sepekan tanpa gorengan, reaksinya adalah sebagai berikut. Penolakan yang terjadi adalah penolakan kelas berat, ini ibarat tawaran untuk memilih Jokowi sebagai presiden ke kaum kampret atau sebaliknya, tawaran memilih Prabowo ke kaum cebong. Mustahil disepakati. 

Seminggu Tanpa Gorengan, Berat!

Minggu, 13 Januari 2019

Review K Drama Memories of The Alhambra; Duda, Granada, dan Cinta!

Akhirnya, setelah sekian lama bisa juga menulis blog ini. Kali ini gue bakal bahas drama terbarunya Oppa (kesayangan kita semuah) Hyun Bin…..!!



Merasa ndak sih, setelah Secret Garden tahun 2010 lalu, Oppa tamvan kita ini agak kurang beruntung mendapat drama atau film yang ditawarkan kepada dia. Habis Secret Garden, si Oppa kan wamil tuh (dan sempat visit ke Indonesia!), terus habis itu dia comeback gak ada yang greget banget gitu. 

the unforgetabble scene from Secret Garden, huhuhuu


Drama terakhirnya 2015; Hyde, Jekyll, and Me kurang begitu sukses. Meski di situ dia meranin dua karakter sekaligus, tapi naskahnya gak bangettt…jadi nda begitu sukses. Tapi tenang Oppa, aku fans abadimu..sejele apapund dramamu tak mengurangi ketamvananmu…eh..loh. 

Tapi dari sisi film, karakter si Oppa mayan ngembang kaya adonan roti didiemin sejam. Kecuali yang zombie-zombie terakhir itu, gue sih paling suka si Oppa Hyun Bin ini pas di The Swindlers yak..jadi pencuri dan penipu ulung gitu. CURI HATIKU DONG, OPPA!

Hyun Bin and the gang di The Swindlers!


Beklah, kita masuk ke drama barunya yakni Memories of The Alhambra. Sebelum gue review lebih jauh, gue mau bilang di awal dulu:

THIS IS SUCH A BEAUTIFUL DRAMA EVER………!!! LOVE LOVE LOVE!



Beautiful places, beautiful actress, beautiful Hyun Bin, beautiful story, dan gara-gara drama ini…aku mao ke Granada, Plisss!

Okay, kita masuk ke Beautiful Story dulu ya:

Beautiful Story
Duh TvN mesti banget diakui paling andal menyajikan drama yang storynya tidak biasa. Ndak mainstream seperti tv lain yang hobi sajikan tema; adzab dan mistis (LOH INI MAH TV LOKAL). 

Kali ini TvN lagi lagi mengangkat tema yang gak biasa, soal dunia games. Meskipun soal percintaannya masih manusia dengan manusia, gak kaya Goblin di mana yang satu manusia satu lagi makhluk halus. 

Untung yang bikin orang Korea itu drama Goblin, kalo dibikin sutradara lokal sini pasti udah dihujat jadi drama musyrik! 

Nah, Hyun Bin di sini menjadi Yoo Jin Woo CEO perusahaan gamers terkemuka yah ibarat kata di bosnya Mobile Legend atau PUBG yang lagi naek daun itu. Dan tiba-tiba dia dapat email dari seorang pemuda bernama Jung Se Ju (tamvan juga) soal games AR-nya yang dia ciptakan dengan lokasi di Granada, tempat ia bermukim.

Duh aku lagi main game, jatuh, tapi tetap tamvan!


Memainkannya kaya main pokemon Go gitu, jadi pemainnya mesti jalan-jalan buat kalahin musuh, dapat senjata, dan lainnya. Dan games ini masih uji coba, dan tentunya dicoba oleh Hyun Bin. 

Dilalah, pencipta games ini tidak diketahui keberadaannya, Yoo Jin Woo sambangi ke Granada dan hanya bertemu dengan kakaknya, yakni Jung Hee Ju (diperankan Park Shin Hye). Jin Woo pun mendekati Hee Ju secara bisnis untuk beli hak cipta game yang dirancang adiknya itu, dan sukses. 

WHY U TAMVAN BANGET


Jadi selama beberapa episode awal, kalian tidak akan dapat adegan cinta-cintaan! Sabar! Cinta di dunia nyata aja lebih lama datangnya, di drama boleh dong tarik ulur dikit. 


Sabtu, 01 Desember 2018

Review: Staycation di Novus Giri Puncak, Serasa di Bali!

Novus Giri Puncak, model dadakan; Ira Wardany




Dulu nih, sewaktu gue masih muda-singset-dan banyak gaya, gue selalu heran sama orang-orang Jakarta yang hobi banget ke Puncak, Bogor, saban akhir pekan. 

Laporan radio selalu sebut macet, jalur buka tutup. Bahkan kalau ada outing kantor ke Puncak, ku selalu pura pura ga enak badan. Itu karena, menurut gue di Puncak orang-orang cuma mau dapat cuaca yang beda sama Jakarta, dingin, pemandangan, sama di villa. 

Udah gitu aja. Dan memang cuma di Puncak waktu itu cuma ada; villa, villa, villa, wisma kementerian/pemerentah, villa, villa, kebon teh, villa, wisma, gitu doang.

Apa coba yang menarik? Pikir gue saat itu. 

Tapi nih, seiring bertambahnya usia-berat badan-dan kekayaan (yang tak seberapa), akhirnya gue paham kenapa orang Jakarta pada berbondong bondong ke Puncak pada akhir pekan. 

Memang segala sesuatu yang kita tidak pahami, tidak serta merta bisa dijawab. Kadang butuh waktu lama sampai kita mendapat jawabnya sendiri.
 (TSAH! Gilak filosofis abis Mbak Goes!)

Nah, seiring bertambah-tambahnya hal yang disebut tadi, dalam hidup kaum urban selalu ada yang berkurang, yakni waktu. 

Kadang, kita tertelan dengan segala kesibukan pekerjaan dan ingin melarikan diri dengan liburan (yang panjang), tapi waktu untuk liburnya susah ditemukan. Sehingga cuma bisa liburan singkat barang 2-3 hari. 

Untuk liburan singkat itu, gak mungkin juga ke luar pulau atau luar negeri karena Senin kita kembali bekerja, dan harga serta tekanan darah juga naik!

Kita butuh liburan singkat untuk refreshing aja, dan Bogor-Bandung akhirnya jadi pilihan warga Jakarta. Now I Know. 

Kedua, keinginan untuk melarikan diri dari Jakarta meski sebentar itu gak bisa dihindari, terutama buat yang tiap hari lihat kemacetan, padatnya orang dan gedung-gedung. Ugh!

Kami butuh mencari ketenangan lahir dan batin, untuk seimbangkan yin dan yang. 

Kami ingin Zen seperti tante Sophia Latjuba!


Apalagi sebagai jurnalis di tahun politik ya, udah lah. Nulis bener tetep disalahin kedua kubu, berita kaga ada yang positif, gemes sama pemerentah, kesel juga sama oposisi. Belum kalo baca komen netizen, ya Alloh rasanya ingin jadi jimbot (gimbot) jaman dulu yang bisa ngomong. 

Lalu ku ingin ngomong  “Begok lu, begok lu, begok lu” ke semua orang yang hobi mencet asal-asalan sebelum posting komen. 

Di tengahhhh segala keruwetan dan stress hidup itu, pengennya sih yah ke Bali yang aman-damai-jauh, tapi kesibukan kadang tak mengizinkan. 

Sampe akhirnya, gue coba cari aja itu di Instagram dan aplikasi travel, serta google soal tempat-tempat staycation di Bogor yang direkomendasikan. Sampe gak tahu gimana, ketemulah Novus Giri Hotel ini. 

Begitu lihat gambar-gambar hotelnya, mupeng. Kok kayaknya zen banget ya, asri, dan kaya Bali! Gue paling tergiur pas lihat kamar yang ada private hot pool-nya. Duileeee.. mao..mao…mao (tapi mihil).

Dari lihat-lihat dan mupeng itu, gw tawarin lah ke beberapa kawan dekat yang sama sibuknya. 

Kami sempet bolak-balik liat situs travel juga, ternyata di Bogor atau Puncak itu diam-diam udah banyak hotel yang nawarin ‘kedamaian’ a la Bali. Latar pemandangan yang indah atau infinity pool. 

Tapi hati kami memutuskan, kayaknya Novus Giri menggoda deh apalagi yang pakai private pool itu. Hati kami mauu itu, tapi dompet kami tak mampu. 

Ujungnya kami pilih kamar superior garden aja,  yang cuma lihat kebon. Dan tahu kami pesan hotel ini bulan apa? SEPTEMBER! 

Yes Indeed, we’re too busy sampe sampe liburan ke Puncak aja kudu disiapin dua bulan sebelomnya. 

Kami pesan untuk 3 hari 2 malam, jadi dari Jumat ke Minggu. Dan akhirnya, pekan lalu, tibalah waktu yang kami nantikan. LIBURAN!

Kami sengaja pilih Jumat untuk hindari kemacetan, tapi kami salah. 

Kami belajar macet bukan hal yang bisa dihindari, macet itu adalah pasti seperti kita menghadapi kematian. Yang jadi masalahnya adalah apakah kita punya bekal dan persiapan yang cukup untuk hadapi kemacetan. 
(Filosofis Mbak Goes nomor dua di tulisan ini).