Selasa, 25 Februari 2020

Review Crash Landing On You: Masya Allah, Hyun Bin Oppa!





Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih dan penyayang, yang telah menciptakan makhluknya dengan begitu sempurna dan membuat wanita se-Asia Timur Raya berbahagia, mari kita mulai review drama Korea ter-ku tak sudi sudah berakhir- di awal tahun ini.

Well sebenarnya udah tayang dari akhir-akhir 2019 sih. Tapi apa sih artinya tahun ketika waktu seakan membeku saat melihat wajah tamvan Oppa Hyun Bin.



Okay… (fokus Gus!)

Mari kita mulai dari sisi cerita, Crash Landing On You bercerita tentang kisah cinta antara pengusaha wanita kaya super cantik asal Korea Selatan yang jatuh hati dengan tentara super tampan dari Korea Utara.

Hmm sebenarnya bukan kali ini Korea membuat drama percintaan mustahil antara dua insan beda ideologi negara. Udah banyak drama yang mengangkat soal percintaan penduduk Korea Selatan dan Korea Utara.

Tapi, di drama ini cara dua insan super sempurna ini bertemu lah yang super super ajaib.

Sumpah ya, kalau kalian menonton ini dengan akal sehat tentu tidak bisa menerima alasan kenapa si perempuan bertemu dengan si pria.

Jadi si perempuan, yang bernama Yoon Se Ri (diperankan oleh Son Ye Jin yang tampaknya tak menua berkat pilates) bertemu dengan Ri Jong Hyuk (diperankan oleh Hyun Bin) karena suatu musibah.

Musibah apakah itu?

Yakni, angin topan. Di mana Yoon Se Ri yang punya hobi paragliding tiba-tiba terbawa angina topan terussssss sampai ke perbatasan Korea Utara dan nyangkut di pohon!



SUNGGUH MUSTAHIL BUKAN??!!!

INI SAMA MUSTAHILNYA DENGAN PEREMPUAN BISA HAMIL KALO BERENANG DI KOLAM RENANG CAMPURAN.

SAMA-SAMA MUSTAHIL.

RASANYA AKU INGIN BERKATA...



Sayang KPAI yang ngomong bukan Hyun Bin. Coba deh, dari episode awal aja udah mustahil dan gak masuk akal.. tapi karena yang main Hyun Bin… ya kita semua menerima dengan ikhlas. Namanya juga hati (sama nafsu yang bicara).

Di sini baru kita sadari previlage orang cakep dan ganteng itu riil.


Balik lagi.

Yoon Se Ri nyangkut di pohon dan ditemukan oleh Captain Ri Jong Hyuk. Lalu dari pandangan pertama itu, keduanya udah sama-sama naksir.

Yoon Se Ri bilang bahwa Ri Jong Hyuk adalah tipenya.

Maaf nih Mbak Se Ri kalo boleh nyelak dikit soal Ri Jong Hyuk adalah tipemu.. dalam hal ini..





Perawakan dan wajah kaya Ri Jong Hyuk mah tipe idamannya SEMUA WANITA, bukan kamuh doang mbakk! AKUH JUGA TIPENYA KAYA GITU!

Tapi kan ya, Ri Jong Hyuk aka Hyun Bin itu ibarat Rumah di Pondok Indah yang hanya bisa dibeli cash.

Sementara kemampuanku cuma sanggup nyicil rumah tipe sangat sederhana, dicicil dengan sisa umur, dan di pinggiran sisa-sisa Jakarta. Kasih tak sampai lah.

Mas Ri Jong Hyuk juga karena ngeliat yang nyangkut di pohon secakep Mbak Yoon Se Ri makanya dibawa pulang untuk diselamatin.

Kalo yang nyangkut perempuan pas-pasan kaya gue, kemungkinannya dibawa ke taman safari karena disangka hewan liar atau didiemin aja, sampai akuh menua, mati, jadi fosil, lalu jadi bahan bakar minyak buat bensin oplosan. Astagfirulloh.

"Sadar Gus, Kamu bukan siapa-siapa!" 

Sabtu, 22 Februari 2020

Habibie, SBY, dan Ashraff

pic cr to Tribun 


Tiga pria ini sukses bikin air mata wanita se-Indonesia Raya menetes tanpa henti selama berhari-hari. 

SBY dan Habibie sama-sama pernah jadi presiden. Sementara Bunga Citra Lestari (istri Ashraf), pernah berperan menjadi Ainun dalam film Habibie & Ainun.

Selain irisan kisah hidup karena profesi yang mereka jalani, ketiga pria ini punya satu kesamaan yang disoroti oleh public: cerita cinta yang luar biasa.

Mereka, bisa dibilang kini menjadi sosok pria yang akan (atau sudah) menjadi benchmark nasional untuk lelaki idaman. 

Saat Pak Habibie meninggal, hampir seluruh perempuan mengingatnya sebagai suami yang menangis tersedu di samping makam sang istri. Tangisan dan rautnya saat itu, mutlak menyentuh hati seluruh wanita yang menonton momen pemakaman di layar tv nasional. 

Yah, kita ingat sih bahwa Pak Habibie pernah sukses menciptakan pesawat, menjadi presiden, dan membuat rupiah perkasa melawan dolar.

Tapi bagi kami, segala prestasinya (dan kontroversinya) tetap tak sekuat dan tak sebanding dengan tangisnya yang luruh saat Ibu Ainun tiada. 

Rasa kehilangan Habibie atas kepergian belahan jiwanya seakan menggema. Pak Habibie tidak perlu berkata-kata, saat dia menangis kami semua ikut menitikkan air mata. 

Sesuatu yang tulus, memang tak perlu dibungkus apapun untuk dapat terlihat indah dan diterima kita semua. 

Hal yang sama juga bisa kita lihat saat Pak SBY kehilangan Ibu Ani Yudhoyono. Lepas dari bagaimana dia pernah memimpin negeri ini, semua orang (atau wanita tepatnya) ikut simpatik melihat raut dukanya ketika Ibu Ani pergi.

pic cr to detik


Kita semua tahu, Pak SBY sama sekali tidak beranjak dari sisi Bu Ani selama beliau sakit. Begitu juga Pak Habibie kepada Bu Ainun.

Momen saat Pak Habibie dan Pak SBY bertemu, pesan gambar-gambar yang terjepret kamera pewarta atas dua pria ini sudah cukup terbaca tanpa perlu ditulis.

Habibie kepada SBY saat itu, seakan berkata.. “I Feel You, Bro” 

Dua presiden, dua laki-laki yang pernah memimpin ratusan juta penduduk se-nusantara. Tak malu menangis terisak saat kehilangan belahan jiwanya. Bu Ainun dan Bu Ani mungkin tak bisa menatap wajah suami mereka ketika pergi, tapi kita semua melihatnya. 

Bu, kami semua sangat berterima kasih karena telah menunjukkan bahwa cinta sejati itu masih ada.

Kita sering membaca berita bahwa betapa Pak Habibie tak pernah absen mengunjungi makam Bu Ainun, begitu juga Pak SBY.

Keduanya, jika bercerita tentang mendiang istri mereka juga tak sanggup menahan laju air mata. Siapapun pasti bakal tersentuh dengan kisah mereka. 

Rabu, 25 Desember 2019

Selamat Ulang Tahun, Sutji Decilya!





Saya orang yang percaya, jodoh itu bukan cuma urusan percintaan dengan lawan jenis. Tapi juga pekerjaan, pertemanan, dan juga sesuatu yang tidak pintar (itu BODOH, Gus!).

Nah, di hari istimewa ini, saya mau ucapkan selamat ulang tahun buat salah satu sahabat saya yang paling berarti: Sutji Decilya!

Mungkin sudah banyak yang tahu (ah, sok tenar lau Gus!), saya dan Sutji berkawan sejak kami sama-sama jadi calon reporter Tempo tahun 2009. Awalnya mah kami gak dekat-dekat banget, Sutji lebih karib dengan satu kawan lagi yang sekarang jadi seleb di dunia maya. 


Tapi, entah kenapa nasib mempertemukan kami terus. Waktu itu carep Tempo ada 19 orang ditambah 1 mahkluk jadi-jadian dari Depok bernama Sutji. 


Waktu pelatihan carep, ada 3 orang yang kayaknya sangat kompetitif dan semangat buat jadi reporter Tempo. Satu laki-laki dan dua perempuan, salah satunya Sutji. Paling semangat buat nanya, paling kenceng kalo ketawa.

Anwil, Sutji, Gusti zaman dahulu kala, masih pada kurus kurus anjay


Mana dulu gigi dia belom dipasang behel, jadi kalo ketawa kencengnya bukan main. Kuntilanak kalo denger Sutji ketawa juga jiper, asli. Itu kuntilanak pasti langsung nabung buat kursus vokal biar ketawanya gak kalah sama Sutji. 

Inti cerita, usai pelatihan kami masuk satu kelompok. Isi kelompok itu ada beberapa orang; Saya, Sutji Decilya, Dwika, Rosalina, Evana Dewi, Febriana, dan Anton William. 

sutji, gusti, anwil, ocha, febro, eva, dwika di taman safari

Baca petualangan kami di taman safari di sini ya!


Pos pertama kali kami desk nasional, Sutji jaga pos Polri. Ini bocah tiap hari pulang-pergi Depok-Jakarta naik motor, cewek. Berangkat pagi, pulang malam dan mampu membobol para senior. Dahsyat lah, kaya acara musik pagi-pagi di RCTI dulu!

Untung cuma 3 bulan dia di sana, kalau sampai setahun udah jadi koordinator lapangan pasti. Saking jagonya dan terkenalnya Sutji jagain pos kepolisian, polisi tidur kalo ketemu dia sampai bangun terus beri salam. 

Habis itu kami pindah ke kompartemen ekonomi, di sini kami mulai jadi dekat banget. Sebenernya sebelumnya udah dekat, toh kita abis liputan juga janjian nongkrong terus rame-rame. Maklum darah muda. 


Anwil, Sutji, Gusti, Eva, Dwika ..luphhh!


Tapi di ekonomi ini kami jadi makin dekat, karena pos kami dekatan. Kami sama-sama di sektor riil. Sutji di perhubungan, saya di Kementerian Energi. Kalau saya gak masuk, Sutji yang gantiin. Kalau Sutji gak masuk, saya cari-cari alasan biar gak gantiin dia. 

Travelling pertama duo bocah edan ke luar negeri tahun 2012, berangkat sebelum subuh berkumandang


Jalan 4 atau 5 tahun persahabatan kami, ciyeee, ada satu momen yang bikin kami merasa bahwa kami itu ternyata emang jodoh sedari dulu. 

Saya lupa persis apa awal obrolan kami saat itu, tapi yang pasti kami sama-sama sedang bahas Goenawan Mohamad, dedengkot Tempo. 

Intinya saya bahas obrolan soal dulu waktu zaman kuliah, saya baca Tempo kayak baca Quran. 

“Gue baca belakangnya dulu, Cay. Gue baca catatan pinggir GM dulu, gue coba-coba cerna dan resapi maknanya. Gilak, dalam banget waktu itu pikir gue, padahal cuma sehalaman.” 

Jadi dulu saya emang baca Tempo dari halaman catatan pinggir di belakang terus baru ke depan, dari kanan ke kiri jadinya kaya kitab suci. Kalau sekarang mah, kadang itu catatan kaga kebaca saking males mikirnya.

Terus kami bercerita, sejak kapan tahu soal sosok Goenawan Mohamad. Dari cerita itu terungkap, kami sudah tahu Goenawan Mohamad sejak kami duduk di bangku SMP. 

BANGGA GAK LU, ANAK SMP TAHON 2000-an UDAH KENAL GM SEBAGAI JURNALIS, BUKAN SEBAGAI BAKMI?!!!!

Sungguh tidak lazim bukan?? Ternyata setelah ditelusuri lebih dalam, kami sama-sama kenal GM sejak SMP karena pernah ikut lomba puisi yang sama dulu sewaktu SMP!

“Lah, lombanya di Gramedia Matraman bukan?”
“Lah iyak, puisinya yang judulnya Yap Thiam Hien itu kan yang wajib?” 
“Iyak, judul bukunya Asmaradana!” 

Kata kami bersahut-sahutan, lalu kami sama-sama membawakan satu bait puisi yang kami masih ingat sampai sekarang.

“Kyai Bisri, Di manakah kau Kyai!”

Lalu kami ketawa-ketawa, kebayang kan? Anak SMP, udah disuruh hapalan surat-surat pendek Quran dan doa solat jenazah buat ujian, pakai acara disuruh hapalin puisi-puisi Goenawan Mohamad juga waktu dulu. 

“Lu menang gak, Cay, waktu itu?” tanya Saya. 
“Menang gue, Gustay. Gila kali lu ya, bacot kita udah kenceng gini, pasti jago baca puisi,” jawab Sutci.
“Oh iyak juga, juara berapa lau?” Saya gak mau kalah.
“Lupa gue, tapi harapan I apa II yak,” kata Sutci. 
“Lah sama, gue paling ujung Cay berdirinya di panggung. Berarti gue harapan II, lau I. KITA SEBELAHAN WAKTU ITU BERARTI Di PANGGUNG” 
“LAH…LAH…BISA BEGITU YAK.” 

Lalu kami berdua ketawa gak berhenti, memang cara Tuhan bekerja untuk mempertemukan insannya itu suka tak terbayang. 

Sutji dan Gusti sudah jadi wanita post modern, asoyy


Rabu, 23 Oktober 2019

Parade Batik Kece di Pengumuman Kabinet Indonesia Maju

Kalian pasti udah muak kan baca berita soal kabinet Indonesia Maju? Lepas dari pro-kontra menteri-menteri yang mengisi pos, perlu diakui pengenalan anggota kabinet kali ini cukup mencuri perhatian.

Terutama dari sisi batik yang dipakai para pejabat.. cakep cakep bangett. Jadi penasaran kan sebenarnya mereka itu beli di mana?

Gak usah banyak cincong lah ya, kita kupas aja satu satu di bawah ini




Okay, Sebelum Bahas soal batiknya, harus diakui bahwa konsep duduk lesehan di tangga istana ini sangat kreatif! (Meski pastinya panas banget!)

Ini bakal bikin susah presiden di 2024 loh Pak Jokowi, gimana nanti dia harus ngenalin kabinet menterinya. Berdiri biasa, duduk udah.... mungkin 2024 kita bakal liat pengenalan calon menteri dengan gaya kayang atau koprol. Halah!

Baik kita masuk ke pembahasan utama, kita bedah dari yang perempuan dulu ya. 

Sayang sekali di Kabinet Indonesia Maju kali ini ada satu kemunduran, yakni jumlah porsi menteri wanita yang menurun. Dulu di Indonesia Kerja kita punya 7 menteri wanita, sekarang cuma 5. 


Menteri yang dulu bukanlah yang sekarang~~~~~ (jangan nyanyi)
Tapi, tak ada bedanya seperti dulu kala.. untuk urusan batik, jawaranya masih dipegang oleh ibu menteri keuangan kitaaa, Ibu Sri Mulyani. 


sengaja gue gedein banget ini fotonya


Nah bisa dilihat ya, kali ini ibu Sri Mulyani memilih batik semi dress berwarna hitam. Menggunakan celana panjang warna serupa, meski warna dasarnya sama-sama hitam, batik yang dikenakan Sri Mulyani ini keliatan menonjol dan keluar auranya karena kontras dengan warna karpet yang dia injak. Mantul!

(Mohon maaf ini ya, berhubung saya bukan pakar fesyen, jadi kaga bisa banding-bandingin sama yang lain atau ngomongin filosofinya. Soalnya mata kuliah filosofi aja waktu kuliah saya ngulang sampe 2 kali!)

Kalau kalian sering liat Ibu Sri Mulyani, batik-batik yang dia punya emang kece-kece. Bahkan jarang gue lihat dia pake batik yang sama berkali-kali untuk momen penting. 

Saking batiknya bagus-bagus dan banyak, gue curiga Ibu Sri Mulyani ini ngekos di sentra batik Thamrin City. Jadi, dia ga pulang ke rumah gitu. 

Coba buat kawan-kawan jurnalis yang ketemu Ibu Sri Mulyani, sesekali si ibu jangan ditanya soal CAD, defisit, inflasi, utang gitu.. tapi tanya "Bu, beli batiknya di mana? Kasih rekomendasi lah."

Dengan pilihan batik yang udah kece gitu, sayangnya aksesoris lengannya si ibu gak pas. Kudunya jangan jam yang agak sportif gitu karena jadi men-tone down penampilannya.

Biar lebih grande, mestinya si ibu pake jam gadang di tangannya. Pasti jadi pusat perhatian. 

Lanjut...






Selanjutnya adalah batik yang dikenakan Ibu Retno Marsudi. Bagus sih, tapi kok ada yang kurang gitu. Padahal ibunya udah cantik, disanggul, tapi batiknya kurang nendang.

Mungkin akan lebih baik kalau motif bunga-bunganya itu ga ada, karena nda masuk menurut mata saya. 

Tapi Bu Retno ini luar biasa, dia itu baru pulang dari Jepang malamnya menemani dinas Pak Kyai Ma'ruf. Mungkin aja gak sempet beli batik buat pengumuman.

Atau bisa jadi, sebenernya batiknya Bu Retno itu motif bunganya semula kuncup-kuncup. Cuman, karena Pak Jokowi ngenalin menterinya sambil dijemur... mekar lah itu kembang di batik Bu Retno. Sabar ya Bu....

Batik yang keren kedua setelah Bu Sri Mulyani, sebenarnya menurut gue adalah batik milik Ibu Puspayoga, yang warna putih di bawah ini. 




Ini gue mencari-cari foto si Ibu yang sendirian agak susah, jadi dapatnya yang ini. Tapi gue bingung, kenapa Pak Erick Thohir rukuk di foto atas ini?

Baik, kita balik ke Bu Puspayoga. Lengan panjang agak balon membuat kesan chic si ibu, mungkin karena sesuai dengan pos-nya yakni pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Jadi bajunya menampilkan kesan hangat.

Mungkin kalo Bu Puspayoga ditempatin di KKP, lengan bajunya akan jaring-jaring biar sesuai tema kementerian. 

Warna putihnya cakep sebenernya, cuma ibunya mungkin gak tahu kalo dia berujung bakal dijemur di tangga marmer ama Pak Jokowi. Ciyan. Alhasil meskipun masih pagi, sasakannya si ibu udah berantakan :(




Untuk batik Bu Ida Fauziyah (berjilbab atas), ini batik dengan mode yang sangat klasik. Bahkan sekilas sosok Bu Ida ini mengingatkan gue akan Kepala Sekolah jaman dulu. 

Saking keingetnya, gue gak berani untuk komentarin batik Bu Ida, takut kualat. Jadi kita sekip aja.

Terakhir adalah batik yang dikenakan Ibu Siti Nurbaya. Gambarnya ada di atas ya gaes, gue malas banget naroh di sini lagi :D

Ibu Siti Nurbaya tampak kelihatan bahagia sekali di pelantikan dan pengumuman kali ini. Ada dua alasan, pertama karena dia terpilih lagi jadi menteri, kedua karena dia akhirnya batal menikah dengan Datuk Maringgi.

(Yak... kalo lo paham, berarti kita seumuran).

Tapi ini sebenernya berhubungan, karena gagal menikah dengan Datuk Maringgi, Siti Nurbaya akhirnya bisa mengejar mimpi menjadi menteri. 

Dari sisi mode, sebenarnya batik yang dikenakan ibu hampir sama di setiap acara, cuma beda corak aja. Ya mungkin itu karena si ibu gak sempet lah jahit-jahit atau beli baju, soalnya kerjaan dan tanggung jawab dia kan banyak.. apalagi soal isu kebakaran hutan.

Jadi gak apa-apa kok Bu batiknya begitu aja, asal hutan kita nanti gak kebakar lagi :')

Berikutnya buat geng cowok!!!! (Duh Aing capek!)