Jumat, 17 Maret 2017

Treatment Jerawat di Euro Skin Lab

Awal pekan lalu, saya menerima panggilan telepon dari Euro Skin Lab yang menawari perawatan dan konsultasi kulit wajah secara cuma-cuma. Semula saya pikir ini tawaran palsu, seperti tawaran telemarketing bank-bank biasa. Untung mbak yang menelepon saya bisa menjelaskan dengan sabar, sampai akhirnya saya menyanggupi penawaran mereka dan mengatur janji untuk perawatan di pekan berikutnya.

Usai menutup telepon, lalu saya gugling lah apa itu Euro Skin Lab. Hasilnya masih sedikit yang mereview, meskipun klinik kecantikan/aesthatic centre  ini cukup lumayan lama ada di Indonesia. Tepatnya sejak tahun 2008.

Pencarian kemudian mengarahkan saya untuk mengunjungi situs mereka di  euroskinlab.com, di situ baru saya tahu banyak juga orang femes yang jadi klien mereka. Wow, mugi-mugi saya ketularan deh yes.

foto brosur ESC :D



Senin, 20 Februari 2017

Konser The Moffatts dan Fans Yang Mulai Menua

Bob and Clint Moffats The Moffats Farewell Tour in Jakarta 

Sekitar 18 tahun yang lalu, yup benar 18 tahun lalu, lagu “I’ll be there for you” merupakan salah satu lagu hits di kawula muda saat itu (ehem, maklum 90an).

Lagu ini dipopulerkan oleh grup band yang semula saya kira kembar empat-empatnya, tahunya yang kembar cuma tiga (tapi yang mukanya mirip cuma dua, bingung kan?) yakni The Moffatts. Band ABG asal Kanada , negeri yang dikenal dengan orang-orang ganteng dan baek hati lalu jadi perdana menteri, ini mampu mencuri hati penggemar remaja (dan baru beranjak remaja) wanita karena lagu-lagunya yang enak didengar dan personel bandnya yang enak dilihat.

Saya sendiri baru jatuh hati sama band ini ketika lagu “Miss You Like Crazy” mereka keluar, gak tahu kenapa di video klip mereka yang itu gantengnya pada maksimal. Saking sukanya, sampai dibela-belain nabung duit jajan buat beli kaset mereka. Waktu itu kebetulan masih SMP, jadi kalau sampai beli kaset sendiri itu udah prestasi luar biasa. Harga kaset biasanya kisaran Rp 18.000 sampai Rp 23.000, buat anak sekolah yang jajannya Rp 3000-an sehari, butuh 1 atau 2 minggu buat bisa beli kaset. Perjuangan!

Setelah kaset terbeli, hampir tiap hari itu album saya puter di radio tape SIMBA yang ada di rumah nenek. Anak jaman dulu pasti tahu SIMBA lah, Arman Maulana juga pasti tahu. Dilalah, suatu saat temen sekolah saya pengen pinjem, kebetulan doi rumahnya deket jadi saya pinjemin tanpa curiga. Terus, DIA GAK BALIKIN DONG! SAMPE SEKARANG! Tcih, dikira gue lupa apah.

Untung begitu beranjak dewasa saya jadi wanita karir (Uhuk!), jadi cukup mampu beli lagu digital dan kemungkinan dipinjem terus hilang pun semakin menipis, ibarat isi rekening di tengah bulan.
Lama tak terdengar, terus saya sudah mulai beralih ke musik-musik Korea, tiba-tiba jelang akhir tahun lalu ada berita bahwa The Moffatts bakal konser di Jakarta, Farewell Tour katanya. Sebagai orang yang pernah baper sama lagu-lagunya dan demi nostalgia masa kecil, wajib hukumnya untuk hadir di konser mereka.

Bersama kawan saya, Wilda, kami memutuskan untuk menonton konser di Hard Rock Cafe Jakarta tanggal 19 Februari 2017. Tadinya kami mau sok-sokan nonton yang di Bali, biar kelas menengah ngeheknya total abis. Tapi rencana ke Bali sulit direalisasikan karena Wilda yang single, harus mengalah dengan kawan duetnya yang bakal cuti melahirkan. Kalo Wilda cuti juga, kantor berita kapitalis asal Inggris tempat doi kerja gak ada pemasok berita energinya.

Bersiap nonton The Moffats 
Memasuki awal tahun, saya cuma inget bakal nonton konser The Moffats bulan Februari bareng Wilda. Masalah tanggal ? Wah lupanya kacrut, kayaknya saya ampe nanya berkali-kali ke Wilda kapan nonton The Moffats dan berkali-kali juga Wilda jawab sambil kudu cek tiketnya dulu (pelupa). Ingatan yang tak sekuat dulu, akhirnya membuat kami saling berjanji untuk mengingatkan kalo tanggal konser sudah dekat. Ketika orang-orang beriman saling mengingatkan dalam kebaikan, saya sama Wilda malah saling mengingatkan dalam urusan ke-duniawi-an. Sungguh tak berfaedah.

Kamis, 12 Januari 2017

Terbang Bersama Gita Wirjawan

Ini bukan slogan baru maskapai penerbangan. Ini cuma cerita seorang bekas wartawan yang kegirangan bisa terbang bareng – satu pesawat – sama salah satu mantan menteri yang dikenal karena berparas rupawan. Bapak Gita Wirjawan atau #GantengWirjawan.

Di zaman SBY jadi presiden, entah kebetulan atau tidak, alhamdulillah ada beberapa pejabat yang wajahnya lumayan enak dilihat dan diperhatikan. Dulu, saya menyebutnya sebagai Ministers over Flowers (biar kaya Boys over Flower gitu). Mereka adalah ; Gita Wirjawan, Marty Natalegawa, dan Julian Aldrin Pasha. Oke, yang terakhir bukan menteri...tapi kan ada di lingkungan istana dan cakep juga, jadi tetep dihitung.

Kadang-kadang, biar genap jadi 4 dan dimirip2in sama F4, saya suka nambahin Ganjar Pranowo yang waktu itu masih di DPR. (Untuk bahasan Pak #GantengPranowo bisa dibaca di sini )
Nah, kalau liputan, apalagi para wartawan perempuan, lumayan lah kalo nara sumber yang ditemuinya ada salah satu dari pejabat F4 itu. Biar kata deadline ketat, isu berat, tetap ada setitik nikmat yang masih bisa kita icip-icip hanya dengan memandang mereka.

Sebagai wartawan ekonomi, yang paling sering saya lihat waktu itu adalah Pak Gita Wirjawan. Saya beberapa kali meliput beliau sejak jadi Kepala BKPM sampai Menteri Perdagangan. Inget banget pertama kali liputan beliau itu untuk liput capaian investasi kuartal iii , tahun berapa gitu. Saya yang waktu itu masih cupu, kerap terpana tiap kali beliau konpers.

#GantengWirjawan pic cr to google

Saat sesi tanya jawab, tiba tiba seorang wartawan ekonomi yang sangat senior dan fenomenal mengacungkan jarinya dan hendak mengajukan pertanyaan. Semula saya biasa aja, tapi kata pertama yang diucapkan si kakak wartawan untuk bertanya membuat saya khilaf, sampai merobek-robek rilis yang masih jauh dari syarat pressklaar itu.

Si kakak wartawan tiba-tiba menyapa Pak Gita dengan asiknya dengan sapaan, “Mas Gita, nanya dong.” MAS!! MAS!!!

Dekat kali si Kakak dengan bapak tampan ini, pikirku (ngapa tiba-tiba Batak?).

Ujungnya, saya pun mengetik berita sambil terus kepikiran dan diiringi api cemburu. Untung masih diiringi api cemburu, coba kalo sampai diiringi rombongan qasidah, pasti gak kelar tuh berita.


Selang beberapa tahun waktu terus berjalan, saya tetap meliput seperti biasa sambil curi-curi memuji ketampanan si bapak. Akhirnya, si bapak selesai jadi menteri, saya pun selesai menjadi wartawan. Hingga, pada tanggal 11 Januari 2017 sebuah keajaiban terjadi.

Saya yang kini bukan wartawan mendapat tugas untuk dinas ke Bali dengan seorang kawan. Yah, namanya pegawai biasa kami juga pasti naek pesawat biasa-biasa aja dong ya. Yang penting bisa terbang. Tanpa disangka, ketika mau antri masuk pesawat, tertangkaplah oleh mata ini kilasan wajah tampan yang familiar...(tsahh).

Beliau sedang duduk dan menatap hapenya dengan khusyuk, mungkin sedang hapalan doa atau surat pendek. Lalu, dengan sok dramatisnya, saya pun (sok) memberanikan diri untuk menyapa. “Pak Gitahhh?” kata saya , dengan intonasi aktris telenovela.

Cara menyapa Pak #GantengWirjawan


Pak Gita pun mengangkat kepalanya, reaksi normal kalau disapa. Yang gak normal itu kalo disapa terus angkat tangan, emang sini makhluk jadi-jadian. Kami pun lanjut bertukar sapa dan saling (tepatnya saya sih yang mengingatkan diri siapa saya sebelumnya) memperbarui kabar apa yang sekarang lagi dikerjakan.

Lalu, saya mohon diri untuk masuk pesawat duluan. Sambil masuk pesawat, saya jelas ga bisa nahan nyengir. Saya dan kawan saya dapat kursi di barisan lumayan depan, meskipun tetap di belakang pilot (ya iyalah). Kawan saya paling pojok, saya di tengah, kursi sebelah saya masih kosong.

Jeng-jeng, masuklah si bapak tampan dalam pesawat. Tiba-tiba dia berhenti di baris depan kursi saya. Ah, pikir saya, sayang amat. Coba aja si bapak duduk di sebelah saya, doa saya dalam hati.
E mamake, tau-tau si bapak ternyata beneran duduk di sebelah saya!! AH!!! Cepat kali kau kabulkan doa hambamu, Tuhan!! Sayang kali rupanya kau pada hamba satu ini.

Si bapak pun tersenyum dan menyapa kembali. Saya balas dengan senyum. Lalu sibuk untuk membuka hape lagi, sementara saya sibuk kasih tau kawan-kawan kalo saya duduk sebelahan ama orang ganteng. Karena saya rata-rata berteman sama wartawan, kalau kita mau cerita biasanya mereka minta bukti dulu baru percaya. Bingung juga saya sebenarnya, mereka itu kawan atau polisi, minta bukti muluuu.

Pesawat take off, saya deg-degan. Apa yang harus saya lakukan kalo duduk sebelahan ama bekas menteri yang masih tampan begini. Pastinya ngobrol dong ya, ya masa saya ajak mancing di pesawat.
Untungnya, pengetahuan saya seluas badan saya (ehem).

Sesekali si bapak membuka bukunya yang bertemakan ekonomi, dan mencoret-coret dengan pulpennya. Duh, pikir saya, tadinya saya kepikiran mau nonton drama sambil tunggu pesawat landing, tapi malu lah ya. Sebelah saya buka buku, masa saya nonton drama.

Biar gak kelihatan sebagai perempuan yang kebingungan, saya mencari buku di dalam tas saya, yang Alhamdulillah ada yang kebawa. Buku yang lagi saya bawa adalah karya penulis Jepang bernama Hiromi Kawakami berjudul “Strange Weather in Tokyo”.
Buku yang entah mengapa tiba-tiba jadi menarik saat duduk bareng Pak #GantengWirjawan

Buku ini sebenarnya udah dua bulan gak tamat-tamat saya baca, karena alurnya yang lambat dan topiknya yang aneh. Tau kenapa ? Karena ceritanya berkisah tentang perempuan umur 30 an yang jatuh hati dengan pria paruh baya.

Kok Ya saat itu tiba-tiba tema buku itu jadi menarik!!! Kok ya kayanya ngepasss atau dipas-pasin gitu. Somehow, saya merasa sangat terikat dengan cerita di buku itu, kayaknya bisa bayangin gitu dan udah dapat visualnya. Somehow.

Minggu, 08 Januari 2017

Apalah Arti Sebuah Nama ?


Inget dong ini dari drama apa ? pic cr to melissaleavesthevillage

Begitu kata William Shakespeare. Gampang sih buat Mbah Shakespeare bilang begitu, soalnya doi gak lahir di Indonesia. Di Indonesia, nama itu perkara penting dan sakral. Apalagi kalau si yang punya nama punya gelar bertingkat, kaya rumah susun, atau punya gelar yang membuktikan dia keturunan (bukan ke tanjakan apalagi ke belokan) bangsawan. Wajib hukumnya buat dicantumkan.

Selain buat pamer, nama di negeri ini juga kadang-kadang memiliki kode tertentu. Kadang kodenya berupa doa, singkatan peristiwa tertentu, rumus matematika, kode benda atau tumbuhan kesayangan, artis favorit,  dan bahkan kode produksi (apa inih!!).

Tapi itu hanya dilakukan orang-orang zaman dulu, kalau generasi sekarang hobi banget namain anaknya dengan nama yang susah dieja. Mungkin, ini karena mereka gak mau nama anak mereka sama kaya nama yang diberikan oleh kakek nenek ke ibu bapaknya.

Meskipun gak semua kaya gitu, masih ada beberapa kawan saya yang begitu punya anak namanya sangat bagus dan terdengar Indonesia (maksudnya ga kebarat2an atau kearab2an gitu). Mereka memilih nama dari bahasa daerahnya, sansekerta, atau bahkan alam sekitar.

Nah, ngomong-ngomong soal nama ini, kebetulan beberapa pekan lalu seorang kawan yang gabung di kumpulan perkawanan wartawan dan bekas wartawan yang mulai renta ada yang baru dianugerahi seorang putri.

Kawan ini kemudian menamakan putrinya yang baru lahir : Kirana Segara Bening artinya cahaya yang terang dari lautan yang jernih. Nama yang bagus.
Terus, tante-tante dan om-nya di grup itu mulai ribut deh soal nama masing-masing  dan rahasia di balik penamaan mereka.

Retno Ayuningtyas misalnya, dia mengeluh karena nama dari orang tuanya itu artinya : cantik di dalam. Jadi selama hidupnya, penampakan luar orang ini jutek dan judes banget. Kecantikannya bener-bener tersembunyi di dalam ( di dalam limit kartu kreditnya yang luar biasa dan sering dioptimalkan kawan-kawannya, tepatnya).

Ada juga Ayu Primasandi yang bingung apa arti namanya, selain kata Ayu yang yang artinya cantik dan Prima yang bisa diartikan pertama atau ganjil, lalu apa manfaat kata Sandi di namanya ?
Waktu itu gue menebak, mungkin arti keseluruhan namanya adalah : Anak pertama yang cantik hasil kode-kodean bapak dan ibunya. (Kodenya bagaimana ? Bisa ditanya ke produsen terkait).

Soal nama, jelas kawan-kawan kita yang berasal dari Padang selalu punya nama yang nyentrik. Nama yang kalau dibaca terkesan kebarat-baratan, tapi ditulis dengan ejaan lokal. Misal, Michael yang bisa berubah jadi Maikel – dibaca sama, ditulis beda-. Coba ditelusuri kawan-kawan yang berdarah minang, pasti ketemu deh nama-nama kaya begini.

Beruntung Kanye West lahir di Amerika jadi namanya gak ribet. Coba doi lahir di Tebet, yang bisa terbagi dari Tebet Barat Timur Dalam, Tebet Timur Dalam, Tebet Nasuha (Itu Tobat!), dan laen laen 

Kamis, 03 November 2016

Jabatan, Kelamin, dan Agama

Kejadiannya belasan tahun lalu dan belasan kilogram lalu. Saya masih duduk di kelas 2 SMA dengan bentuk tubuh yang masih masuk kategori ideal (penting untuk disampaikan).

Usai mengikuti program Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK), beberapa hari atau pekan kemudian saya dipanggil oleh Kakak Ketua Osis. Namanya Kak Cintya, perempuan yang kini menjadi polwan dan sering mumcul di layar televisi karena kasus-kasus yang ditanganinya.

Kak Cintya memberi tahu saya waktu itu bahwa saya terpilih menjadi kandidat Ketua OSIS. Saya lupa ada berapa kandidat tepatnya, tapi saat itu yang saya ingat menjadi kompetitor saya adalah sebut saja I dan A.  I perempuan dan A adalah laki-laki. Saya diberi waktu selama sepekan untuk menyiapkan diri, membuat poster, jargon, visi misi dan lainnya.

Dibanding dua lawan saya, saya tidak punya pengalaman di OSIS sebelumnya. Saya lebih aktif di teater sekolah dan jadi guest star di ekskul-ekskul lainnya. Guest star ini maksudnya kalo ada kegiatan ekskul apa saja saya ikut, supaya itu ekskul kelihatan ramai gitu.

Saya sempat bimbang, namun Kak Cintya dan beberapa kakak OSIS lainnya meyakinkan saya. Mereka mengatakan memilih nama saya bukan sembarangan, intinya mereka percaya dengan kapabilitas dan jejak rekam saya. “Nama kamu muncul itu bukan sembarangan, yang pasti kami dukung kamu,” begitu kata si kakak.

Akhirnya saya maju, saya siapkan visi misi dan memajang foto saya di selembar karton yang kemudian saya pampang di mading sekolah. Begitu karton ditempel, dukungan awal jelas datang dari ibu ibu kantin dan penjaga sekolah. Sebagai wujud dukungan riil, di hari saya harus sampaikan visi misi di aula sekolah, pagi-pagi sekali si Imeh (orang kantin), memberi saya sarapan gratis mie goreng sebagai bonus. “Biar lo lancar,” kata doi.

Dukungan juga datang dari teman-teman dekat , adik kelas, dan kawan-kawan lain yang sering saya klaim sebagai fans. Ada yang bilang pasti memilih saya, ada juga yang khawatir kalau saya sibuk dengan OSIS, saya akan meninggalkan ekskul lainnya.

Hari H pun tiba, dan saya memberikan yang terbaik. Termasuk dalam sesi tanya jawab, saya pikir jawaban-jawaban saya memuaskan kalau didengar dari gaung sorakan dan tepukan tangan (ehem). Tidak semua murid berada dalam aula, yang bisa ikut memilih hanyalah perwakilan ekskul, anggota OSIS, dan perwakilan pengurus kelas. Saat pemilihan kami semua diungsikan dari ruangan, karena pemilihan dilakukan dengan voting.

Dari kedua kompetitor saat itu, secara kapabilitas yang saya anggap saingan berat adalah I. Dia sekelas dengan saya dan hubungan kami panas dingin. Kadang berantem kadang nonton meteor garden barengan. Karena sama-sama berjiwa kompetitif dan sering cari panggung di dalam kelas, kawan-kawan tampaknya sering mengartikan hubungan kami sebagai kompetisi tanpa henti. Tapi kalau saya memang harus memilih lawan, I sebagai lawan adalah hal yang saya perlu banggakan. Kita butuh kompetitor seperti itu supaya sekolah makin seru.

Padahal, meski orang sering melihat saya dan I punya banyak kesamaan ada perbedaan mendasar dalam diri kami. I, yang saya lihat, adalah perempuan dengan mimpi dan cita-cita. Sementara saya, perempuan dengan passion, fantasi, dan idealisme. Satu kandidat lagi, yakni A, satu satunya kandidat lelaki yang saat itu belum saya kenal dekat.

Spekulasi yang tersebar di sekolah saat itu untuk duduk sebagai Ketua Osis adalah antara saya dan I. Menurut saya, I bahkan lebih unggul dengan bekal pengalamannya sebagai Wakil Ketua Osis II.
Pintu aula dibuka dan panitia pun menyuruh kami masuk untuk mengumumkan siapa yang terpilih. Tanpa diduga, A yang memenangkan suara terbanyak. Saya ada di peringkat dua, kalah hanya beberapa suara.

Sebenarnya saya tidak masalah dengan kekalahan, yang menjadi masalah adalah salah satu penyebab (dan jadi penyebab penting) mengapa saya bisa kalah yang diungkap oleh seorang kakak OSIS kepada saya. Kakak inilah yang mengusulkan nama saya masuk kandidat dan meyakinkan orang-orang, bahkan perang argumen di dalam aula. “Kamu kalah cuma karena kamu perempuan,” kata dia, dan saya hampir tidak percaya mendengarnya.