Senin, 27 Oktober 2014

Cerita Tentang Susi


Nama Susi menjadi tren sekitar tahun 80-90 an. Hampir dua dari enam orang yang saya kenal waktu itu, kayaknya bernama Susi. Kesannya ngarang ya ? tapi enggak kok.

Temen SD sebangku saya namanya Susi, guru kelas 4 SD saya namanya juga Susi. Bahkan atlet badminton yang berhasil menggondol emas olimpiade waktu itu pun, namanya Susi.

Masuk 2000-an, kalau masih ada orang tua kasih nama Susi pada anaknya pasti diketawain. Kesannya kok ndeso banget. Susi tak lagi jadi nama orang kota. Susi itu nama orang desa yang ingin kekota-kotaan. Soalnya nama orang kota saat itu sudah berbau kebarat-baratan, ketimur-timuran, wis pokoke gitu lah.

Sekarang, nama Susi lagi hangat diperbincangkan. Gara-garanya Susi sekarang jadi menteri. Menteri Perikanan dan Kelautan di Kabinet Kerja ala Pak Jokowi.

Orang ramai ngomongin Susi gara-gara latar belakangnya ; tidak tamat sekolah, punya tato, hobi ngerokok, dan hal lain-lain soal urusan personalnya.

Bu Susi memang benar punya tato di kakinya. Saya sendiri pernah lihat tato itu waktu ketemu dengan dia di rumahnya yang ada di Pangandaran sekitar 3 tahun lalu. Sampe sekarang aja saya masih gak nyangka, perempuan yang saya temui waktu itu sekarang bisa jadi menteri. Gayanya juga masih begitu-begitu aja dari dulu. Serampangan.

Saya ketemu dia gara-gara waktu itu ada pesawatnya yang jatuh di Papua. Menuruti perintah kantor, akhirnya saya harus berangkat dan ketemu beliau di rumahnya.  Saya sih oke-oke aja, toh Pangandaran masih deket jaraknya.

Kaget juga pas lihat undangan mesti kumpul di Bandara Halim Perdana Kusuma. Setelah diusut ternyata bener dong, saya ke Pangandaran mesti naik pesawat yang tipe dan jenisnya persis sama yang mengalami kecelakaan di Papua, sehari sebelumnya. Waduh.

Waktu saya minta ke humas pakai jalur darat aja, si humas menjawab dengan enteng. “Gak bisa, Mbak. Ini biar sekalian buktiin bahwa pesawat kita aman.”

Situ aman, sini deg-degan.

Pengalaman pertama naik Susi Air..ini sih pas pulang, udah gak pucet lagi hehe



Sampai halim, saya datang paling awal tapi kebagian rombongan paling akhir. Dikasih tahu bahwa saya dapat pesawat yang isinya cuma 8 orang termasuk pilot dan co-pilot. Waktu itu saya denger-denger kabar bahwa pesawat yang kecelakaan di Papua itu jatuh karena kelebihan beban. Alhasil, meski belum sarapan, saya gak berani isi perut lagi. Bener-bener takut kelebihan beban.

Apalagi saya mesti bareng dengan kru-kru media televisi yang bawaannya berondong petong alias ribet dan banyak bener. Berat kamera dan perlengkapannya itu kalo ditimbang sendiri bisa nambah bobot dua orang. Makanya waktu jam makan di bandara saya sampe berkali-kali bilang ke mas-mas dari tv-tv itu makannya jangan banyak-banyak. “Nanti kelebihan beban pesawatnya,” kata saya. Parno.

Berangkatlah kami semua naik pesawat ukuran kecil itu, pas lagi naik tangganya tiba-tiba Mas humasnya nyolek saya. “Mbak, pilot-pilot kami di sini masih muda-muda. Yang ini masih sekitar 20 tahunan lah.”

Mungkin maksud si Mas-nya itu membanggakan diri, tapi sumpah saya makin jiper!!! Dari sisi umur aja tuaan sayah itu ..huhu

Pilotnya bule. Cakep sih….tapi tetap kurang bisa menghibur diri yang ketakutan kalo tiba-tiba maut menjemput. Lah, kalo kenapa-kenapa kan yang ditanya itu amal ibadah kita di dunia, bukan gimana rasanya terbang ama pilot tampan ?

Akhirnya, satu jam perjalanan di pesawat terbang itu menjadi waktu paling optimal selama hidup saya dalam berdzikir. Baru tuh namanya ngerasain yang setiap hembusan nafas kita gunakan untuk mengingat Tuhan. Gak ada yang sia-sia.

Ya gimana enggak, setiap pesawat kena angin…..kita oleng ke kanan dan ke kiri. Mana si mas-mas TV pake bercanda kalo pesawat yang kita tumpangi itu jatuh gimana nanti ? Bawah laut semua gitu. Gak lucu, Mas….gak lucu, huhu :/

Sampai juga di Pangandaran, langsung masuk jam makan siang. Boro-boro ada nafsu makan, itu yang namanya darah kayanya udah ketarik ke laut semua. Gak lagi-lagi naik pesawat perintis begini. Sebenernya gak kenapa-kenapa sih pesawatnya, cuma paranoid karena ada pesawat serupa yang habis kena kecelakaannya itu yang bikin kenapa-kenapa.

Sebelumnya, kita diajak keliling rumah Bu Susi yang luasnya…..minta ampun. Mungkin lebih cocok disebut istana kali ya, soalnya di dalamnya kaya ada semacam hotel gitu. Ya memang kan rumahnya dipakai oleh para pilot asing itu untuk latihan.

Saat ketemu Bu Susi, dia cuma mengenakan kaos hitam potongan rendah dan rok selutut warna serupa. Matanya sembab dan masih merah karena dia habis kehilangan awak pesawatnya. Saat diwawancara, mas-mas dari TV minta si Ibu Susi untuk naikkan kaosnya supaya dadanya tidak terlalu tampak. Bu Susi oke-oke aja. Semua pertanyaan pun dijawab, dari sisi bisnis juga.

Sewaktu dia menjawab pertanyaan soal bisnisnya itu saya tersentak, orang ini di balik sifat serampangannya ternyata luar biasa. Ya begitu, kita akan tahu kapasitas seseorang kalau berbicara langsung dengan dia.

Pasti kalian bisa cari tahu sendiri lah sejarah bisnisnya dia. Gagasannya untuk mengirim lobster pakai pesawat itu luar biasa. Coba bayangin kalo nekat dikirim lewat jalur darat yang bisa makan waktu sampai 12 jam. Jangankan lobster, manusia aja bakal babak belur kalo lama-lama di jalan.
Usahanya membuat usaha pesawat perintis, dia paham benar kondisi alam dan infrastruktur di Indonesia yang sangat menantang ini memiliki potensi luar biasa.

Saya ingat betul waktu dia menjawab pertanyaan saya soal kenapa banyak merekrut pilot asing ? Dia justru bilang orang Indonesianya yang susah dan enggan belajar di sini. Orang asing justru banyak mau belajar di wilayah penerbangan Indonesia untuk menambah jam terbang dan pengalaman.

“Alam Indonesia itu unik, kalau kamu bisa menaklukkan ini kamu bisa menaklukkan langit manapun.” Kira-kira begitu jawab dia.

Makanya saya girang waktu dia hendak didapuk jadi Menteri Pariwisata, karena dia (dan perusahaannya) cukup paham geografis nusantara. Tapi karena ada tarik menarik kepentingan politik di ujung-ujung pengumuman, jadilah dia Menteri Perikanan. Gak apa-apalah. Toh, itu memang bisnis dia. Sehari-hari dia di situ.

Tapi memang sifat si Ibu yang serampangan ini agak perlu ditata, silahkan dia merokok tapi kalau bisa jangan di tempat publik. Menteri-menteri lelaki yang lain juga banyak yang ngerokok sih setahu saya, tapi jadi masalah besar begitu si Bu Susi merokok mungkin karena dia perempuan, karena dia gak tamat SMA, atau karena alasan lainnya.

Selamat bekerja Bu Susi, semoga lima tahun lebih banyak mengukir prestasi ketimbang sensasi.













3 komentar:

Anonim mengatakan...

keren tulisannya

Rika Nova mengatakan...

Kudu tos banget ini Gus, eykeh pernah naik jet pribadi Susi air, mending ke Pangandaran, ke KALIMANTAN bok! Langsung dari Halim. Walopun isi dalemnya mewah dengan sofa dan berlimpah makanan, tetep aja deg-degannya bikin stress banget. Mungkin kita mengalami deg-degan yg sama, Gus. Haha

Gustidha Budiartie mengatakan...

@Ka Rika iya...... pesawat dan jet Bu Susi ini memang luar biasa bikin deg-degannya hahahahhhaa