Minggu, 12 Oktober 2014

Pak Boed Terbahak-Bahak

Kalau ada penghargaan pejabat yang paling kalem, saya berani bertaruh Pak Boediono adalah pemenangnya.

Orangnya memang begitu, kalem. Tapi sekali dia bicara langsung nge-‘lead’. Istilah kami, para pewarta, untuk omongan yang mempunyai bobot berita. Tidak seperti si RI 1 yang ‘lead’nya mesti dicari, karena dia hobi bicara memutar. Pak Boed itu bicara langsung ke isinya. Ke kontennya, meminjam istilah seorang kawan di facebook.

Saya beberapa kali bertemu Pak Boed, tentu untuk urusan pekerjaan. Bukan bertemu juga sih, tepatnya mungkin mengejar. Pertama kali di acara asosiasi pengusaha migas asing, terakhir kali di sidang tipikor saat beliau dipanggil sebagai saksi.

Tenang. Saya tidak akan menulis untuk membela Pak Boed ataupun menyudutkannya untuk kasus tertentu. Soal begitu-begitu kalian baca dan cari di media saja. Di sini, saya hanya mau menulis apa yang tidak ada di berita.

Foto terakhir bersama Pak Boed sebagai Wakil Presiden ^^



Beberapa waktu lalu, saya ketemu dan wawancara Pak Boed untuk edisi khusus yang rencananya akan diterbitkan oleh kantor tanggal 20 Oktober 2014. Gara-gara itu, pengejaran saya di tipikor pun batal menjadi pertemuan yang terakhir dengan beliau. Hehe.

Semula saya tidak ada rencana ikut wawancara dirinya. Tapi sehari jelang hari wawancara, karena kekurangan bahan untuk outlook ekonomi, mau tidak mau saya ikut.

Tim yang akan mewawancara itu semula hanya segelintir, diantaranya Ananda Badudu dan Angga Sukma. Soalnya mereka akan spesifik menulis soal Pak Boed.

Ananda dan Angga ini sudah grogi dari awal bulan karena bakal wawancara Pak Boed. Groginya bukan karena apa-apa, mereka takut mati gaya di depan Pak Boed. Ya karena itu tadi, Pak Boed terlalu kalem.

Bahkan, si Ananda yang cucu dari pencipta kamus sejuta umat ini, beberapa kali melakukan simulasi wawancara dengan Angga. Mereka secara bergantian berpura-pura menjadi Pak Boed. Menduga-duga jawaban Pak Boed, yang dikhawatirkan akan pendek, singkat, dan lugas. Lalu mencari trik supaya Pak Boed tidak menjawab seperti dugaan mereka itu.

Misal adegan ini :
Ananda : Pak Boed, bagaimana persiapan pindahan nanti ?
Angga : Ah tidak ada persiapan apa-apa, biasa saja.
Ananda : Ah, mati gue kalo dia jawab gitu. Nulis apa gue…gak ada ceritanya.

Mereka tidak hanya memperkirakan jawaban, tapi juga menirukan gaya Pak Boed. Walhasil, saya terpingkal-pingkal melihat ulah mereka.

Akhirnya, tanggal 10 Oktober kemarin kami bertemu Pak Boed. Ditemani beberapa senior yang gaya wawancaranya lebih luwes daripada kami.

Mungkin karena jabatannya akan berakhir, saat itu Pak Boed tampak lebih santai. Dia banyak senyum saat memberikan jawaban. Semua pertanyaan dijawab, baik soal personal, ekonomi, keluarga, politik, karir, dan hobi.

Tanpa diduga, beberapa jawabannya membuat saya tertawa. Misal, saat kawan saya bertanya barang-barang pribadi apa saja yang dia bawa waktu pindah ke rumah dinas. Pak Boed menjawab tidak ada yang spesial.

“Barang pribadi yang dibawa paling pakaian dalam, celana dalam, itu kan harus bawa sendiri,” katanya. Iya juga sih, tapi mendengar itu terlontar dari mulut Pak Boed, bohong kalo gak nyengir.
Banyak cerita dan jawaban lucu Pak Boed, tapi kalo saya tulis di sini saya bisa digeplak sama kantor. Hahaha.

Tapi, ada satu yang menarik. Saat Pak Boed bilang bahwa dia sangat suka membaca novel. Novel apa saja.

Lalu senior saya bertanya.

“Sekarang lagi baca novel apa, Pak ?” tanyanya.
Pak Boed diam sebentar, lalu menjawab. “Tidak ada, sejak jadi wapres tidak pernah baca novel lagi,” katanya.
“Wah, untung Pak,” kata senior saya. “Coba kalo Pak Boed jawab lagi baca novel, kok ya kayaknya jadi Wapres itu senggang bener…sampe masih sempet baca novel.”

Mendengar jawaban senior saya itu, Pak Boed langsung tertawa keras. Terbahak-bahak. Baru kali ini saya lihat Pak Boed yang super kalem tertawa sampai lepas begitu, Momen yang langka. Sangat.

Saya coba tebak yang ada di pikirannya Pak Boed.
Kira-kira begini, “Kampret, hampir aja kena jebakan batman. Coba tadi jawab lagi baca novel…kena deh.”

Tidak hanya Pak Boed yang tertawa, kami semua pun tertawa…bener-bener jebakan batman. Untung si bapak pas jawabnya. Bisa kebayang nanti dia dibilang wapres gak ada kerjaan karena masih sempet baca novel. Begitu memang kami, hobi bertanya jebakan batman kepada para pejabat. Hahaha.

Yahhhhh….namanya juga Indonesia. Tapi saya mah maklum kalo Pak Boed masih sempet baca novel. Asal jangan seperti Presiden Fitzgerald yang ada di drama Scandal aja, udah jadi presiden negara adidaya…tapi masih sempet selingkuh. Hih, itu baru presiden gak ada kerjaan!


XoXo



3 komentar:

potrehkoneng mengatakan...

mbak, itu ananda badudu banda naira ta? aku suka sama lagunya yang di atas kapal kertas, itu mas anandanya yang mana yang di foto? hehehe

Gustidha Budiartie mengatakan...

@potrehkoneng
Iya ananda badudu banda naira, mau aku salamin ? hahahahaha kebetulan sekantor. Anandanya yang pake batik, kurus, ke tiga dari kiri.

potrehkoneng mengatakan...

boleh-boleh mba, salam dari penggemar Di Atas Kapal Kertas ^^