Kamis, 11 Juli 2013

Ramadhan Day 2 : Papa's Day




Salah satu nikmat yang paling saya syukuri dalam hidup ini adalah memiliki Papa.
Ya, Papa saya bukanlah orang kaya atau pejabat terkemuka
Papa saya bukan saudagar atau selebritis ternama
Bukan ulama, apalagi atlit olahraga.
Papa saya itu bukan siapa-siapa.
Dia hanya mantan koki, yang jatuh bangun melindungi keluarganya.
Hanya pengangguran yang tak jemu menebarkan kasih sayang pada keluarganya.

Papa mengenal mama di usia 22, jatuh cinta lalu menikah. Begitu saja.
Lulus SMA dari kampungnya di Jawa, Papa langsung mengadu nasib di Jakarta.
Usia 23, Papa punya saya sebagai putri pertamanya. Dengan gajinya yang pas-pasan, Papa bercita-cita anaknya mesti duduk di bangku kuliah. Jangan sampai seperti dia.

Papa gak pernah ngeluh untuk mengurusi kedua putrinya dari dulu, mulai dari A sampai Z
Papa selalu sabar tiap dapat panggilan dari sekolah gara-gara ulah putri sulungnya yang ajaib ini. Berantemlah, boloslah, mukulin anak orang, dan lainnya.

Kalau dipanggil sekolah, sehari sebelumnya Papa bakal sibuk bikin kue buat diserahkan pada Ibu atau Bapak Guru. Lalu hati para guru luluh, dan saya dimaafkan.

Papa selalu izin untuk tidak bekerja, kalau saya sedang ikut lomba atau tampil di pentas sekolah. Kata Papa, menang kalah bukan yang utama. Tapi melihat anaknya beraksi, itu gak boleh dilewatkan.

Papa gak marah kalau saya bolos sekolah, tapi dia bisa mukul-mukul meja dan mendiamkan saya berhari-hari kalau saya ketahuan bolos ngaji.
Kalau anak perempuan biasanya dimasukkan ke les menari, Papa dan Eyang bersekongkol mendaftarkan saya ikut Kempo dan Taekwondo. Biar energinya yang berlebih lari ke hal yang tepat katanya.

Papa paham anaknya ajaib, cara belajarnya beda sama yang lain. Jadi Papa ngumpulin gajinya berbulan-bulan, lalu mendaftarkan saya ke kelas Quantum Study. Jadi kalau anak-anak lain belajar pakai merapal, saya belajar dengan menggambar dan membuat kode-kode yang sampe sekarang saya terapkan. Padahal saat itu saya sudah SMA, tapi belajarnya kaya anak TK.

Tapi, kata Papa, memang saya begitu sedari dulu. Papa selalu sabar mengajari saya belajar yang sambil jingkrak-jingkrakan, teriak-teriakan atau sambil banting-banting barang.

Supaya adik saya bisa kuliah, Papa rela menjual rumah yang sudah ia cicil bertahun-tahun buat diisi di masa mendatang. Papa bilang, masa depan itu adalah kami. Bukan rumah atau yang lainnya.

Papa gak pernah ngeluh untuk menjaga putri-putrinya yang terbaring di rumah sakit dan ga kenal capek. Kalau Mama sakit, Papa bagi tugas rata kepada putri-putrinya dan dia sendiri. Mencuci, menyetrika, Papa gak gengsi melakukannya. Mama gak pernah suruh-suruh Papa, Papa gak mau meributkan hal kecil macam begitu.

Papa kalau lagi tidur terus diganggu sama anak-anaknya ga pernah marah, anaknya minta pijitin lah. Mainin hapenya, atau minta macem-macem yang aneh kaya minta dimasakin ini itu. Papa ketawa-ketawa aja.

Papa itu cuma marah kalo kita gak solat, gak kasih kabar, atau gak mau nurutin nasihatnya untuk menjalin silaturahmi ke saudara-saudara.

Papa gak selamanya hebat, Papa udah pernah nunjukin titik terapuhnya di hadapan keluarga. Papa pernah difitnah, sakit dan depresi sampe berat badannya turun puluhan kilogram. Dimana saat itu, kita berganti peran jadi orang-orang yang coba menguatkan Papa hingga akhirnya perlahan keluarga kami pulih kembali.

Meski begitu, Papa selamanya adalah pahlawan kami dan orang yang paling kami banggakan.

Jadi Tuhan, di Ramadhan ini Papa sudah menunjukkan kerentaaannya. Beri dia kesehatan dan beri kami kesempatan untuk bisa terus membahagiakannya.
Kalau Papa semakin tua, ingatkan kami terus untuk tak lelah menjaganya. Berada di sampingnya seperti dia merawat dan membesarkan kami dulu.

Terima kasih Tuhan telah memberi kami Papa yang sangat menyayangi keluarganya.

Happy Milad Papa, we love you :)

3 komentar:

RikaNova mengatakan...

maniiiis

Tatz Sutrisno mengatakan...

Semoga Papanya Gusti sehat selalu yaaa, Happy Milad, omm ^^ *terus mewek gw...

Gustidha Budiartie mengatakan...

Terima kasih kakak-kakak ;)