Rabu, 12 September 2018

Book & Movie Review: To All The Boys I've Loved Before


Pic courtesy Jenny Han


Lara Jean Covey adalah gadis romantis, yang tak berani jatuh cinta. Menyukai banyak pria, tapi hanya sebatas mendambakan mereka.

Ia mengungkapkan perasaannya lewat sepucuk surat, yang dimasukkan dalam amplop berwarna-warni dan ditujukan langsung ke alamat lelaki yang ia sukai. 

Setiap suratnya ia tulis sepenuh hati,  mulai dari nama lengkap, kapan mereka pertama bertemu dan hal apa yang membuatnya jatuh hati pada pria tersebut.

Terkadang ia jatuh hati karena pria itu menghabiskan sore hari sambil hujan-hujanan bersamanya. Ia juga bisa jatuh hati karena lelaki itu pandai berdansa dan bergaya. Lara Jean juga bisa tiba-tiba suka dengan pria karena ciuman yang tak disengaja. Sebelum ciuman itu terjadi, Lara Jean bahkan tak peduli dengannya.

Tapi yang paling pasti dan menjadi rahasia terdalam Lara Jean adalah ia menyukai tetangga, yang juga teman sejak kecilnya, sekaligus pacar kakaknya. Ini yang paling rumit.

Lara Jean Covey, gadis blasteran Korea-Amerika, secara keseluruhan dalam 16 tahun hidupnya telah menyukai 5 orang pria dan menulis surat untuk kelima pria tersebut tentang perasaannya.

Hanya saja, surat-surat itu tidak pernah sungguh-sungguh ia kirim ke mereka. Melainkan ia simpan rapat-rapat di sebuah kotak topi, peninggalan dari mendiang ibunya, dan tak pernah ia buka lagi. Seperti ia menutup rapat perasaannya dan menjadikan pria-pria itu bukti masa lalu akan kebodohannya.

Hingga pada suatu hari, kelima suratnya menghilang dan terkirim kepada pria-pria tersebut. Di sini, petualangan cinta Lara Jean dimulai.




Bermula ketika Peter Kavinsky, pria terpopuler di sekolah dengan ketampanan luar biasa, menghampirinya dan mengatakan bahwa ia menerima suratnya dan merasa tersanjung dengan isinya. “Tapi saya tidak bisa menerima perasaanmu, karena saya baru saja putus dengan pacar saya,” kata Peter, sopan.

Peter Kavinsky and Lara Jean, courtesy Netflix


Buat Lara Jean, ini membingungkan dan mengejutkan. Ia pun tertawa saking tidak percaya apa yang dihadapinya, hingga akhirnya ia sadar bahwa surat-surat yang ia tulis telah menemukan pemiliknya. Amsyong.

Bukan jawaban Peter yang pertama kali ia pikirkan saat itu, tapi nasib suratnya yang lain. Terutama surat yang ia tujukan kepada Josh Sanderson si tetangga-teman masa kecil- sekaligus pacar kakaknya itu.

Oh, Josh tepatnya sudah (atau baru saja) menjadi mantan pacar kakaknya. Josh putus dengan Margot, Kakak Lara Jean, karena Margot kuliah di Skotlandia dan tak bisa jalani hubungan jarak jauh.
Tak ingin Josh salah paham dan juga tak ingin mengkhianati Margot, kakaknya. Lara Jean terpaksa berbohong, dan mengaku bahwa surat itu sudah tak ada artinya dan kini ia sedang menjalin hubungan dengan Peter Kavinsky.

Semesta seakan mendukung, Peter yang baru putus dengan Gen butuh gadis lain untuk memanasi mantannya. Sementara Lara Jean, butuh pria yang bersedia pura-pura jadi kekasihnya. Di sini, cerita tentang Peter-Lara Jean dimulai. Berawal dengan menjalin hubungan palsu, kedua remaja ini perlahan membangun romansanya tersendiri.

Buku vs Film
Jenny Han menulis kisah Peter dan Lara Jean dalam tiga buku; To All The Boys I’ve Loved Before, PS I Still Love You, dan Always and Forever.

Sebenarnya saya sudah baca yang pertama sejak lama, tapi berkat kehadiran filmnya di Netflix, dalam tiga hari langsung saya habiskan sisa triloginya. Dahsyat.

Pertanyaan yang sering dilontarkan untuk buku yang difilmkan adalah, “Bagus mana, buku atau filmnya?”

Buat pencinta buku seperti saya, jawabannya sebenarnya mudah, yakni buku. Kecuali Lord of The Rings trilogy, filmnya jauh lebih bagus ketimbang buku. Untuk yang lain, buku selalu lebih juara.

Tapi sebenarnya tidak adil membandingkan film dan buku. Buku akan selalu lebih unggul karena kita bermain dengan imajinasi dan bermanja dengan waktu, kita hanya terikat pada cerita dan menikmati karya si penulis. Sementara film, kita berburu dengan waktu, membangun ekspektasi (yang takut diruntuhkan), dan berhadapan dengan kepentingan industri yang lebih kompleks.

Kembali ke cerita. To All The Boys I’ve Loved Before ini menawarkan cerita yang ringan. Sangat-sangat ringan malah, dan cukup menghibur buat kamu-kamu yang memiliki hari yang berat.

Segala tindak tanduk Peter Kavinsky kepada Lara Jean minimal bisa bikin kamu senyum-senyum sebelum tidur, dan lupa bahwa besok sudah harus kerja keras lagi.

Buku karya Jenny Han ini tidak sehangat dan semanis karya Rainbow Rowell atau John Green, yang membacanya seperti menikmati teh di senja hari, hangat dan manis.

Jika buku para maestro Yong Adult tadi seperti teh wangi yang panas, maka to all the boys I’ve loved before ini seperti biskuit pendamping minum teh. Renyah.

Jenny Han menyusun cerita yang sederhana dan mudah diterka, begitu kita selesai bab pertama kita akan tahu endingnya. Kita akan tahu bahwa Jenny Han tidak mungkin mengecewakan kita. Kita akan tahu bahwa membacanya bisa memberi efek bahagia.

Emosi kita tidak banyak dimainkan oleh Jenny Han, kecuali saat-saat di mana saya rasa konfliknya dipaksakan, tapi toh buku ini memang buku yang dirancang untuk dinikmati saja bukan dipikirkan masuk akal atau tidaknya.

Membacanya pun kita tahu, bahwa Jenny Han ingin membawa pembacanya mengingat-ngingat kenangan masa lalu akan cinta pertama mereka. Dan dia memainkannya dengan rinci dan lihai.

Aksi-aksi kecil Peter Kavinsky bisa membuat kita ikut tersipu-sipu seperti Lara Jean, misal saat Peter mengirimkan notes di secarik kertas pada Lara Jean yang bertuliskan, “You look so beautiful in blue.

awwwww.......

Peter Kavinsky adalah keunggulan buku dan film ini, sosok remaja pria tanpa cela. Sudahlah tampan, kaya, popular, sopan, santun, tidak mau berzina tanpa persetujuan pacarnya, sayang mama, calon adik ipar, dan pacar. Kalau dia ada di Indonesia pasti sudah dilirik parpol buat jadi caleg muda.

Alhamdulillahnya, Netflix juga tidak salah memilih Noah Centineo untuk berperan sebagai Peter. (Ya Alloh sekarang semua tergila-gila dengan Noah).

Untung Netflix pilih Noah Centineo, bukan Ariel Noah 


Peter di film dan di buku memiliki karakter sama, hanya saja di buku lebih rinci dan membuat kita makin sayang uwuwuwuwu sama Peter. Mohon maaf, itu uwuwuwuwuwu ditulis karena susah dideskripsikan lagi gimana gemasnya kami dengan Peter Kavinsky.

Sementara Lara Jean, karakternya di film bisa dibilang lebih sedikit berani dan feminis. Sementara di buku agak sedikit introvert.

Intinya, buku dan film ini sangat-sangat layak dibaca jika kamu butuh sesuatu yang manis dan ringan untuk hiburan di tengah keras dan pahitnya hidup. Saya pribadi berharap Netflix mau menggarap kelanjutan To All The Boys I’ve Loved Before..supaya ceritanya berlanjut seperti di buku.


Jadi buat yang masih ragu untuk membaca atau menonton filmnya, seperti kata Jenny Han dalam bukunya.. “Why not take a chance and bet on happiness?”

xoxo









1 komentar:

Prisa Ramadhianti mengatakan...

Menanti review/cerita mbakGoes nonton the nun,,hehe