Jumat, 04 Juli 2014

2NE1, Konser, dan Inflasi

Akhirnya, setelah sekian lama mengagumi dan menggandrungi..datang juga kesempatan untuk menonton satu-satunya girlband idola gue saat  ini : 2NE1 (baca : to anyone).
Agak susah sih ya bacanya, bokap gue aja nyebutnya tunek’I, kantor gue..pas rapat besar bacanya tuniwan. Huff…

Girlband beranggotakan CL, Dara, Bom, dan Minzy ini akhirnya maen-maen ke Jakarta (sambil cari duit) 8 Juni lalu. Ahad hampir sebulan lalu, gue kesampean juga ngeliat aksi 4 cewek keren dan single ini di atas panggung. Whuoooo!



Menurut gue, yang bias ini, 2NE1 mewakili para perempuan yang awesome meski masih single (dicari-cari aja sih kesamaannya). Beda ama girlband kebanyakan, tubuh anggota girlband ini lumayan sekel-sekel. Sampai akhirnya gue punya misi memiliki tubuh seperti CL…..sekarang gue masih di tahap XL.

CL!!!


Lagu-lagu mereka juga beat-nya lumayan powerful, cocok buat bangkitin semangat buat orang yang hobi tidur kaya gue. Wuih udah pokoknya gue bias banget.
Secara keseluruhan tata panggungnya ga mewah , gak kaya konser-konser anak buah SM, tapi kualitasnya gak kalah jauh. Sound dan vocal mereka gak main-main…stamina juga. Sayang konsernya cuma berlangsung 2 jam kurang.

Gue nonton konser ini bareng salah satu sohibul dari geng perawan tunggal ika. Udah selesai nonton dan memuja-muji si artis, pas di mobil, si Mbak Ira kemudian komentar. “Gus, ini konser pertama yang kita datangi ya?”

IYAAAAAAAAAAAAA!!!! Dahsyat banget dah gue, sebagai kaum kelas menengah yang berjuang mati-matian dan gak sampe-sampe ke atas, untuk tahun ini rekor banget….baru nonton konser di tengah tahun. Huoooooooooo……..

Setelah dipikir-pikir, selain karena artis yang datang juga ga sebanyak taon lalu *Alhamdulillah*, juga karena faktor duit.
Ini kelihatan jelas, soalnya…baru kali ini kita beli tiket pas hari H melalui layanan informal (baca: Calo). Ya ampunnnn…..udah beli di calo, kita tawar pulak. Jadi kita dapat tiket silver yang 700 ribuan seharga 350 ribu. Itupun udah ngelewatin 3-4 lagu, pokoknya sampe calonya putus asa nawarin ke kita dengan harga tinggi.

“Gak ada, Bang, duitnya segitu udah. Kalo mao 350 ambil dah, kalo lebih saya entar ga bisa pulang,” sok melassss…akhirnya abang calo-nya ngalah.

Tapi emang yes….inflasi ini lagi berasa banget, selaen dari konser, sebelomnya gue juga belanja odol harganya naek 3 kali lipat sampe jadi Rp 24 ribu..ampun dah. Mengingat inflasi yang semakin gila dan kebutuhan hura-hura tak kunjung menurun, gue berharap tahun ini ada keajaiban ekonomi yang melanda negeri ini. Amin.


Enjoy ya poto-poto konser dari sohib saya ; Carlina @eunsi




Rabu, 02 Juli 2014

Review : The Fault In Our Stars

Mana yang bakal kalian pilih ?
Dicintai oleh banyak orang atau dicintai oleh satu orang saja..namun sangat dalam ?


Hazel Grace Lancester memilih yang kedua, dicintai sekaligus mencintai satu orang saja dalam hidupnya dengan sangat mendalam.

Dengan kanker yang melekat di tubuhnya sejak berusia 13 tahun, Hazel sadar dirinya ibarat bom yang bisa meledak kapan saja dan melukai orang-orang yang ada di sekitarnya. Bisa bertahan hidup saja sudah jadi hak istimewa baginya, jatuh cinta tidak pernah terlintas dalam pikirannya.

Tapi takdir bicara lain, ia bertemu dengan Augustus Waters, si pemuda berkaki satu yang tertarik pada Hazel sejak pandangan pertama. Mereka bertemu di support group para penderita kanker, Augustus hadir untuk menemani sahabatnya ,Isaac , yang menderita kanker pada kedua bola matanya.

Sepanjang pertemuan, Augustus tak henti memandang Hazel. Meski selang oksigen selalu menempel di wajah Hazel, baginya itu tidak mengurangi kecantikan Hazel Grace.

“I enjoy looking at beautiful people, and I decided a while ago that I won’t deny myself a simpler pleasures of existence,” kata Augustus…. (yang pasti bikin si Hazel melayang, bohong kalo enggak mah).

Bertemu Augustus adalah pengalaman serba baru bagi Hazel ; baru mengenal kawan lawan jenis, baru memiliki teman berbagi cerita soal buku favorit, baru tahu rasanya menunggu telepon dan sms dari seseorang, dan baru merasakan indahnya dunia saat menyukai seseorang. Hal-hal sepele, namun sangat berarti di persediaan waktunya yang terbatas.

Ada satu buku yang sangat digilai oleh Hazel, yaitu Imperial Affliction karya Peter Van Houten. Menurutnya, buku ini sangat menggambarkan secara riil penderitaan yang dialami oleh pasien kanker. Depresi misalnya, bukanlah efek samping dari kanker.

 “Depresi itu efek samping dari sekarat, dan Peter tahu itu,” kata Hazel.
Augustus pun tertarik untuk membacanya, dan sepakat  dengan Hazel. Sayang, isi novelnya menggantung. Sehingga mereka penasaran dan mengejar si pengarang hingga ke negeri Belanda,  semua biaya ditanggung oleh Augustus. (Well, setiap gadis bakal jatuh hati ama cowok yang mao ongkosin jalan-jalan ke Eropaa yesss).

Romansa pun dimulai, adegan-adegan mesra membanjiri layar lebar. Tapi sayang, hidup gak selamanya buat sayang-sayangan ama pacar.


Tanpa disangka, kanker di tubuh Augustus kembali menyerang. Sepulang dari Belanda keadaan berbalik, Augustus menjadi jauh lebih payah secara fisik dan mental ketimbang Hazel. Mereka resmi jatuh cinta dan berlomba-lomba menuju kematian.

Sama-sama kepayahan, mereka berjuang untuk menikmati sisa waktu yang ada. Bagi Hazel tidak ada waktu yang singkat untuk mencintai Augustus. Augustus memberinya cinta sejati yang secara harfiah akan ia bawa mati nantinya. Secara matematis..some infinites are bigger than other infinities.

Welll…… gue sih nangis pas baca bukunya. Pas nonton mau nangis juga tapi lihat kawan di sebelah udah sesenggukan, gue harus kuat!!! Bahaya kalo keluar bioskop sama-sama nangis.. (gengsi aja sih).
Filmnya cukup bisa mewakili isi buku, para pemerannya juga pas. Okay! Meski ada beberapa adegan yang gak ada di buku (baik dikurangi maupun ditambah-tambah), tapi itu biasalah.
Gue menyarankan kalo kalian lagi labil-labilnya atau baru putus, jangan nonton ini. Daripada ujungnya minta balikan…rempong.

Mungkin kesannya ini film dan buku terlalu menye-menye kali ya, apalagi genrenya Young Adult. Tapi, gue tetap kagum sama pengarangnya, John Green. Soalnya, meski ceritanya sedih dia bisa membawakannya dengan gaya komedi satir. Jadi gimanaaa gitu ya rasanya, tidak secengeng novel-novel romance lainnya tapi cukup membuat kita bersyukur atas nikmat sehat yang ada (yaela!).

Ada lagi yang bikin gue kagum, yaitu obat fiksi phalanxifor yang ada di dalam buku untuk mencegah pertumbuhan kanker Hazel Grace hingga dia bisa bertahan hidup. Well, menurut gue mengarang dan menciptakan nama dan jenis obat itu gak mudah…hahaha karena harus meriset ilmu-ilmu sebrang itu dulu.

Well, mumpung film-nya masih beredar di bioskop….silahkan dinikmati.
XOXO


  

Senin, 30 Juni 2014

Review Buku : Eleanor & Park

Spoiler Alert!!

I’m so into this book lately, well…..at least sampai tadi pagi
This book gives me a sweet torture that I can’t never forget as per today.

pic cr to : google images

Eleanor & Park membawa kita mengingat kembali masa-masa muda (buat yang seumuran gue ya), era 90-an ketika masih berusia belasan tahun.  Zaman dimana U2 begitu digandrungi dan jagoan-jagoan marvel mulai menginvansi imajinasi.

Eleanor & Park adalah sepasang remaja yang ganjil. Berambut merah dan bertubuh besar, Eleanor menjadi gadis yang canggung dan tidak percaya diri. Sementara Park, lahir sebagai pretty boy berkat darah Korea dari ibunya memiliki daya tarik yang berbeda dengan remaja pria sebaya lainnya. Well, perlu diingat ini latar belakangnya tahun 90-an , boyband Korea belom diterima publik saat itu.

Park berjumpa dengan Eleanor di Bus Sekolah, entah bagaimana awalnya mereka menjadi duduk bersama di bus tersebut. Buat Park, Eleanor itu aneh dengan gayanya yang boyish. Begitu juga Eleanor, baginya Park hanya orang asing yang harus ia hadapi saat naik bus.

Mereka tidak pernah berbicara, sama sekali. Hingga suatu saat, Park sadar bahwa setiap dia membuka komiknya di bus, Eleanor diam-diam ikut membaca di sebelahnya. Anehnya, Park tidak merasa risih, dia justru sengaja membuka halaman demi halaman secara perlahan untuk memastikan Eleanor bisa membaca bersama. (D*mn You Sweet Boy!!)


Berawal dari itu, Park pun menyiapkan tumpukan komik untuk dipinjamkan kepada Eleanor. Dari sana, mereka pun mulai dekat dan berbicara satu sama lain. Awalnya cuma ngobrol isi komik, lalu lagu dan band favorit, hingga akhirnya Park mulai menggenggam tangan Eleanor secara diam-diam.

Gaya-gaya PDKT Park ini loh yang bikin sayah senyum-senyum sendiri, karena gayanya 90-an banget. Mulai dari ngajak pulang sekolah bareng, nunggu di bus jemputan (Beh! Andai temen2 mobil jemputan gue SMP dulu ada yang sekece Park!), sampai janjian buat telpon-telponan dari rumah. Yes , telepon-teleponan literally pakai telepon rumah.

Masalahnya hubungan Park dan Eleanor gak melulu lancar jaya. Park dan Eleanor tumbuh dengan kultur dan latar belakang keluarga yang berbeda, apalagi Eleanor yang merupakan putri tertua dari keluarga yang semrawut. Eleanor dengan adik-adiknya yang masih bocah, ibunya yang cantik namun lemah, ayah kandungnya yang tidak acuh, dan ayah tirinya yang bajingan dan kriminal.

Gak heran kalau buku ini bisa mejeng di rak buku terlaris hampir di setiap toko buku impor. Alurnya yang lambat sengaja memberi kita ruang untuk sedikit demi sedikit mengingat rasanya jatuh cinta untuk pertama kali di usia remaja.

Gaya penuturannya pun beda dengan buku kebanyakan. Di buku ini, Rainbow Rowell menulis dengan dua sudut pandang (baik dari Eleanor maupun Park) , tapi dari sisi orang ketiga. Inih yang bikin gemessss bingitz!
Hampir gak ada kekurangannya kecuali di bagian ending, makanya sayah sebut ini buku sweet torture abis. Gue jadi paham perasaannya Hazel Grace sampe ngotot ke Belanda buat ketemu Peter Van Houten dan maksa ngasih tau ending buku ‘Imperial Affliction’.

See?!! Persis, ini yang lagi gue rasain…gue pengen nyamperin tuh si Rainbow Rowell buat kasih tahu apa yang pengen gue tahu secara spesifik, soal tiga kataaa aja dari isi buku itu.
Well, buku ini sangat recommended buat dibaca pokoknya sambil nunggu bedug magrib. Terutama buat kalian para lajang yang sel-sel romantisnya udah mulai kering, wajib baca dahhhhhh…hehehe
Enjoy!

Jumat, 27 Juni 2014

Review Buku : The Selection (Trilogy series by Kiera Cass)

Pernah baca Twilight ?

Tahu kisahnya Cinderella ?

Pasti udah pernah nonton Hunger Games dong ?

How do i smell, prince ??? euuuuu

Nah, kalo gitu ….cukup dicampur adukkan saja semua info yang kalian dapat dari sana, kurangi unsur vampir dan perang, serta bunuh-bunuhannya. Jadilah novel ini.

Well, baca buku ini awalnya karena tertarik covernya yang dipajang di rak paling depan..alias rak khusus buat buku-buku paling laris di Kinokuniya. Apalagi di sampulnya juga ada embel-embel “New York Times Best Seller”, makin penasaran lah gue.

Berhubung harganya lumayan mahal, tapi ngebet banget pengen baca, akhirnya gue beli versi digitalnya aja. Lumayan murah banget , kalo di toko buku sekitar Rp 120 ribuan, versi digital bisa sampe separoh harga di android.

The Selection ini trilogi, seri keduanya itu The Elite dan terakhir The One. Sekali baca buku yang pertama, kita akan disiksa oleh si pengarang untuk memastikan nasib si tokoh utama – yang dari awal udah jelas kita tahu siapa yang bakal dipilih – sampai ke buku ketiga. Yup, itu artinya emosi kita dimainkan oleh si penulis untuk menunggu para tokoh utamanya , akhirnya, menyatakan cinta di buku terakhir. Nyebelin.

Ketiga seri ini bercerita soal America, gadis remaja berambut merah, yang mengikuti seleksi untuk menjadi pasangan seorang pangeran menawan di suatu negeri bernama Illea. Illea ini, FYI, adalah sebuah negeri yang terbentuk sesudah perang dunia ke IV. Perang dimana Amerika Serikat yang sangat digdaya itu akhirnya takluk oleh Cina.

America mengikuti seleksi karena terpaksa. Pertama karena permintaan orang tua, dan kedua karena dorongan pacarnya yang sangat tampan tapi berkasta lebih rendah darinya. Tanpa disadari, iseng-iseng ikut seleksi, tau-tau America lolos menjadi salah satu dari 35 kandidat calon manten Sang Pangeran.

Tak lama sejak mengetahui kabar tersebut, si pacar tampan bernama Aspen pun memutuskannya karena masalah klise pasangan terlalu muda. America pun kabur ke istana untuk mengusir galaunya.

Di istana, America jelas ketemu dengan si Pangeran Maxon (yang menurut dia gak tampan, tapi cukup menawan dan berkharisma). Pangeran Maxon ini ternyata perjaka yang baik hati dan mudah jatuh cinta. Dia memberi perhatian lebih kepada America, namun harus tetap berlaku adil kepada 34 kandidat wanita cantik lainnya….iyeuh.

Dari sini aja kalian pasti udah bisa nebak siapa bakal jadi ama siapa kan ? Ya udah gak usah gue ceritain lagi.

Sebenarnya, dari sisi penulisan cerita udah cakep banget…mengalir. Meskipun kita membaca dari sudut pandang si America yang sangat Isabella Swan ‘Twilight’ sekali. Pasti paham deh gemesnya …(Gue sih sering maki-maki sendiri jadinya, ih bego amat jadi cewekkk..itu udah jelas banget! Gitu)