Kamis, 26 Juni 2014

Review Buku : The Selection (Trilogy series by Kiera Cass)

Pernah baca Twilight ?

Tahu kisahnya Cinderella ?

Pasti udah pernah nonton Hunger Games dong ?

How do i smell, prince ??? euuuuu

Nah, kalo gitu ….cukup dicampur adukkan saja semua info yang kalian dapat dari sana, kurangi unsur vampir dan perang, serta bunuh-bunuhannya. Jadilah novel ini.

Well, baca buku ini awalnya karena tertarik covernya yang dipajang di rak paling depan..alias rak khusus buat buku-buku paling laris di Kinokuniya. Apalagi di sampulnya juga ada embel-embel “New York Times Best Seller”, makin penasaran lah gue.

Berhubung harganya lumayan mahal, tapi ngebet banget pengen baca, akhirnya gue beli versi digitalnya aja. Lumayan murah banget , kalo di toko buku sekitar Rp 120 ribuan, versi digital bisa sampe separoh harga di android.

The Selection ini trilogi, seri keduanya itu The Elite dan terakhir The One. Sekali baca buku yang pertama, kita akan disiksa oleh si pengarang untuk memastikan nasib si tokoh utama – yang dari awal udah jelas kita tahu siapa yang bakal dipilih – sampai ke buku ketiga. Yup, itu artinya emosi kita dimainkan oleh si penulis untuk menunggu para tokoh utamanya , akhirnya, menyatakan cinta di buku terakhir. Nyebelin.

Ketiga seri ini bercerita soal America, gadis remaja berambut merah, yang mengikuti seleksi untuk menjadi pasangan seorang pangeran menawan di suatu negeri bernama Illea. Illea ini, FYI, adalah sebuah negeri yang terbentuk sesudah perang dunia ke IV. Perang dimana Amerika Serikat yang sangat digdaya itu akhirnya takluk oleh Cina.

America mengikuti seleksi karena terpaksa. Pertama karena permintaan orang tua, dan kedua karena dorongan pacarnya yang sangat tampan tapi berkasta lebih rendah darinya. Tanpa disadari, iseng-iseng ikut seleksi, tau-tau America lolos menjadi salah satu dari 35 kandidat calon manten Sang Pangeran.

Tak lama sejak mengetahui kabar tersebut, si pacar tampan bernama Aspen pun memutuskannya karena masalah klise pasangan terlalu muda. America pun kabur ke istana untuk mengusir galaunya.

Di istana, America jelas ketemu dengan si Pangeran Maxon (yang menurut dia gak tampan, tapi cukup menawan dan berkharisma). Pangeran Maxon ini ternyata perjaka yang baik hati dan mudah jatuh cinta. Dia memberi perhatian lebih kepada America, namun harus tetap berlaku adil kepada 34 kandidat wanita cantik lainnya….iyeuh.

Dari sini aja kalian pasti udah bisa nebak siapa bakal jadi ama siapa kan ? Ya udah gak usah gue ceritain lagi.

Sebenarnya, dari sisi penulisan cerita udah cakep banget…mengalir. Meskipun kita membaca dari sudut pandang si America yang sangat Isabella Swan ‘Twilight’ sekali. Pasti paham deh gemesnya …(Gue sih sering maki-maki sendiri jadinya, ih bego amat jadi cewekkk..itu udah jelas banget! Gitu)


Ceritanya juga sebenarnya menarik seandainya Mbak Kiera Cass tidak menitikberatkan pada romansa dua sejoli yang sangat labil di tengah negeri yang berkonflik itu. Yup, mereka mesra-mesraan ketika negeri lagi kritis.

Gimana bisa lo membayangkan sebuah negeri punya variety show memilih pasangan sang pangeran atau calon ratu negeri itu, sementara istananya diserang sama pemberontak melulu. Itu kaya membayangkan The Bacelor dipadu dengan American Next Top Model untuk memilh calon pasangan Kim Jong Un. Horrible L

The Hunger Games menjadi unggul karena seleksinya pake acara mati-matian secara literasi dan pemberontakannya berkembang dengan dahsyat di buku-buku berikutnya. Pembaca dikasih pelajaran yang namanya kenyataan tidak seindah harapan.

Buku The Selection ini sebenarnya bisa dikembangkan jauh dari sisi sejarah dan pemberontakannya. Tapi sayang si penulis lebih suka mengolah emosi pembaca dengan mengubek-ubek hubungan yang dijalin oleh America dan kawan-kawan Next Top Model lainnya. Serta cinta segitiga antara Aspen, America dan Maxon tentuny. Iyeuh lagi…

Tapi biar begitu, gue tetep baca ampe habis kok ini buku….(dan terpaksa beli semuanya karena penasaran atas ending yang udah diketahui dari awal, tapi terus maksa baca sampe habis sampe untuk mastiin sendiri).
Well, buku ini cukup layak untuk dinikmati dan dibaca. Apalagi ini buku lagi jadi tren dan mendunia, jadi gak ada salahnya buat ikutan baca. Asyik-asyik aja…meski sangat klasik. But, Hey…..semua orang suka yang klasik bukan ? Termasuk gue, meski geleuh….tapi tetep baca ampe habis. Manusia.

Cover buku terakhirnya ini, menurut gue....paling bagus dan keren. 



Ps : Si Mbak Penulisnya pun bikin sekuel-sekuel novel dari sudut pandang karakter yang lain, dari sisi Aspen, Maxon, bahkan si Sang Ratu ibunya Maxon dengan kisah masing-masing. Wow banget ya.

3 komentar:

Anonim mengatakan...

Beli bukunya dimana siihh, susah banget nyarinyaaaa ._.

mega setiono mengatakan...

Lucu review-nya.. Hahahaha..

honey ranz mengatakan...

Yang paling bikin ngakak dr review ini tuh pas bagian "Itu kaya membayangkan The Bacelor dipadu dengan American Next Top Model untuk memilh calon pasangan Kim Jong Un. Horrible" hahahaha😂😂

Aku kemarin nyaris beli pas jln2 ke gramed, tapi skip dlu gr2 sedang berburu harlequin ㅋㅋㅋㅋㅋㅋㅋㅋㅋㅋ

Thanks bgt buat review nya kak^^