Minggu, 19 Januari 2014

Melihat dari Jauh

Puisi ini buat seorang sahabat, yang peringatan hari lahirnya selalu diiringi hujan lebat
Sahabat, yang suatu hari bakal sibuk berat

Selamat Milad, semoga di usia yang baru makin bertambah rahmat nikmat dan rahmat

Melihat dari Jauh

Pernah aku bercerita padamu
Satu atau dua tahun lalu

Aku bilang, aku memimpikanmu
Tak percaya, dirimu pun tersipu
Aku bilang, benar, aku melihat sosokmu
Bukan yang kini, tapi bukan juga yang dulu

Aku tahu, dirimu penasaran
Aku pun melanjutkan
Menyampaikan bahwa aku melihatmu di masa depan

Kau duduk di sana
Berdasi sambil mengerutkan kepala
Mencoba jawab semua tanya
Membuat terang semua masalah

Aku pun tersenyum
Entah benar, entah salah
Tak paham duduk perkara
Cuma tahu, bahwa saat itu kau sosok istimewa

Aku tersenyum,
Entah di mana aku berada
Pikirku melayang, mengingat waktu ketika itu

Aku tersenyum,
Mengingat saat menuliskan ini untuk dirimu

Aku hanya bisa tersenyum
Sebab jika tiba saat itu
Aku sedang melihatmu dari jauh


Jakarta , Oktober 2013

Minggu, 05 Januari 2014

Merdeka Selatan

Merdeka Selatan



Awal tahun 2014 ini, sekali lagi saya merayakan kebersamaan dengan kawan-kawan yang hobi nongkrong di Merdeka Selatan. Entah sejak kapan, hubungan yang berawal dari teman liputan ini, perlahan menjadi semakin erat dan beranjak ke persahabatan.

Awal tahun ini, seperti biasa, kami mendoakan agar lifting 1 juta barel minyak per hari cepat tercapai *demi memperlancar niat saya untuk menuju pelaminan*. Semoga persahabatan kita tak lekang di makan zaman... kalau nanti kita sibuk sendiri-sendiri, jangan lupa tersenyum ketika lewat di Merdeka Selatan. Toh bagaimanapun juga, pernah ada kita dan sepotong kenangan di sana.



Sepotong Kenangan di Merdeka Selatan

Coba susuri Jalan Thamrin Sudirman
Dari sana, kau terus saja maju ke depan
Arahkan rodamu ke Merdeka Selatan
Dan simaklah apa yang akan kubacakan

Ada kalanya mereka datang sebagai pemula
Menyapa malu malu tapi banyak bertanya

Ada diantaraya sudah disana terlalu lama
Sampai menjadi kaya
Bahkan menjadi tua
Bolehlah kau sebut itu legenda

Mereka datang, duduk pulang
Oh mereka datang , duduk berjam-jam, lalu pulang
Mereka datang, menjalin hubungan, lalu pulang
Mereka datang, menjalin hubungan, berpisah, lalu pulang

Begitu saja,
Setiap hari
Setiap bulan
Setiap tahun
Sampai jadi kebiasaan

Mereka datang sendiri-sendiri bukan untuk menyendiri
Mereka datang sendiri sendiri lalu datang berbagi
Mereka datang sendiri sendiri, berbagi lalu bernyanyi
Mereka datang sendiri-sendiri dan menjelma jadi 'kami'

Jika suatu saat kami ini tiada
Atau perlahan pikir mulai lupa

Biar hati saja yang arahkan
Jalan terus ke merdeka selatan
Dan temukan sepotong kenangan

@goestyong, Jakarta 2 november

Senin, 30 Desember 2013

Frozen, Animasi yang Menghangatkan Hati

WARNING : Tulisan ini banyak berisi spoiler untuk yang belum menonton

Akhirnya! Setelah sekian lama, Disney kembali dengan keklasikannya. Maksud saya, animasi kembali dibawa pada cerita yang kuat dan penuh makna, bukan sekedar karakter imut atau lucu yang membuat kita tertawa. Lalu lupa.

Begini, saya pecinta kartun dan animasi..tapi jujur animasi yang belakangan ada di layar bioskop tampak lupa bahwa ketika bicara kartun atau animasi, rata-rata sasaran utama penontonnya adalah anak-anak atau keluarga. Tapi kisah dan komedi yang mereka sajikan, kadang terlalu dewasa untuk dapat ditangkap para bocah. 

Kapan terakhir kali kalian menonton animasi lalu terbayang-bayang terus sampai rumah, mengunduh lagunya, bahkan mau menonton ulang untuk kesekian kali ? Mungkin itu zaman-zaman masih 2D seperti Lion King, Pocahontas, dan lainnya. Setelah itu ? Animasi yang ada , banyak diantaranya, hanya pamer teknologi yang semakin canggih dengan menyuguhkan monster-monster unyu dan menjadi lucu karena adegan slapstick saja. *maaf nyinyir*

Di Desember ini, banyak film lokal maupun luar yang berlomba menjadi jawara. Saya sudah menonton Hobbit The Desolation of Smaug (yang begitu mewahnya) dan melepas rindu pada Keanu Reeves dengan menonton 47 Ronin. Tapi dari semua film itu, saya harus mengakui saya jatuh hati pada Frozen yang berdurasi kurang dari dua jam.



Kesan klasik ini sangat kuat dan sengaja disampaikan oleh Disney (bahwa mereka masih jawara animasi dunia) dengan menghadirkan sekilas film pendek Mickey Mouse bertajuk Get A Horse!
Mickey yang ditampilkan adalah Mickey zaman baheula, berwarna hitam putih dan produk perdana Disney hingga mampu mendunia.

Ini cukup berhasil mengecoh penonton, setidaknya saya, untuk bertanya-tanya apa maksudnya ? Sebab durasinya lumayan lama, sekitar 10-15 menit. Ah, masa sudah duduk di bioskop mahal mesti lihat film kartun jadul hitam putih sih! Sementara mata ini sudah terbiasa dimanja gambar-gambar animasi 3D yang seakan nyata, terbaru bahkan ada 4Dx.

Tapi ini uniknya, toh karena kita sudah di dalam, mau tidak mau kita harus tonton dan akhirnya kita nikmati tanpa rasa terpaksa! Disney mengajak kita mengingat siapa mereka, bagaimana mereka lahir dan bagaimana mereka bisa sejaya ini (dan menegaskan bahwa mereka masih raja animasi). Adegan di animasi Mickey semula biasa, kisahnya khas kartun zaman dahulu yang ternyata masih mampu membuat kita terpingkal-pingkal. Asyik menikmati kisahnya, tiba-tiba Disney memberi kejutan dengan membuat gambar menjadi animasi 3D , Mickey zaman modern. Lalu animasi itu dicampur-campur, 2D-3D-2D-3D dalam satu adegan dengan dahsyatnya. Ya mereka menunjukkan, bahwa mereka masih ahlinya. Hingga akhirnya masuk ke cerita utama, Frozen.

Disney sempat ketularan produsen animasi lainnya yang berlomba-lomba dalam teknologi dan adegan komedi. Tapi di Frozen, Disney menegaskan bahwa teknologi hanya alat bantu untuk menguatkan kisah utama film ini.

Frozen berkisah tentang kakak-adik di sebuah negeri, Elsa dan Anna. Keduanya adalah putri dari sebuah kerajaan yang damai dan indah (klasik!). Sang kakak, Elsa, memiliki kekuatan super yang intinya bisa membuat salju (namun belum bisa mengendalikannya). Si adik, Anna, hanyalah gadis periang yang selalu ingin bermain dengan kakaknya. Sewaktu kecil, keduanya sangat akrab. Hingga pada suatu saat, Elsa yang hendak melindungi Anna agar tidak terjatuh ketika mereka bermain salju di istana, secara tak sengaja melukai adiknya dengan kekuatan yang ia miliki.

Raja, Ratu, Elsa dan Anna akhirnya menuju ke pemukiman troll untuk menyembuhkan Anna. Untungnya, luka Anna berada di kepala sehingga masih bisa disembuhkan. Tapi sebagai resikonya, Anna harus dihapus memorinya soal kecelakaan itu dan soal kekuatan yang dimiliki si kakak. Tapi segala kenangan indah mereka, yang normal dan tanpa ada sihir, tetap bertahan.

Melihat si adik terluka parah, Elsa ketakutan setengah mati pada kekuatannya dan semakin tak bisa ia kendalikan. Akhirnya, sepulang dari sana, Elsa memutuskan untuk mengurung dirinya agar tak ada yang bisa ia lukai. Ia memilih bersembunyi dan tenggelam dalam sepi.

Suatu ketika, Raja dan Ratu tewas. Anna hanya memiliki Elsa sebagai keluarga satu-satunya. Meski bersedih, Elsa tetap bersembunyi dan hubungannya dengan Anna pun semakin jauh.

Beranjak dewasa, Elsa resmi menjadi ratu. Pelantikannya adalah kali pertama gerbang dibuka dan mau tidak mau ia harus keluar dari kamarnya untuk menemui rakyatnya. Semua menantikan saat itu, apalagi Anna. Meski ketika berjumpa lagi dengan kakaknya, ada keganjilan yang ia rasakan. 

Sesuatu terjadi, hingga semua penduduk kerajaan mengetahui kekuatan Elsa dan takut padanya. Elsa pun melarikan diri untuk melukai adiknya dan penduduknya. Celakanya, Elsa tak sadar ulahnya itu membuat kerajaannya terus tertimpa badai salju. Ia pun tak tahu cara menghentikannya.

Anna pun mencoba mencari Elsa dan menyelamatkan kerajaannya. Ia yakin Elsa tak akan menyakitinya dan ada jalan keluar dari masalah ini. Sementara isu bahwa Ratu Elsa adalah ratu yang menakutkan sudah tersebar di mana-mana.

Kisah Anna dan Elsa ini penuh misi penyelamatan, bukan sekedar menyelamatkan kerajaan dari salju, tapi juga upaya menyelamatkan hubungan kekeluargaan mereka dan menyelamatkan diri mereka sendiri dari rasa takut dan kesalahpahaman yang membelit mereka selama bertahun-tahun. Dikemas dengan lucu dan tetap mengharukan, Disney menyampaikan pesannya secara efektif di film ini bahwa The Power of Family is the strongest magic at all!

Ya, kita diajarkan secara literasi bahwa cinta sejati tak melulu soal hubungan pria dan wanita. Sebelum pasangan kita datang, ada orang-orang yang lebih dulu mencintai dan tak pernah berhenti mencintai kita sampai kapanpun , yaitu keluarga.

This! Disney membawa kita kembali ke era Lion King! 

Klasiknya film ini juga dikuatkan oleh Disney melalui soundtrack-soundtrack animasi , yang tampaknya sudah lama kita tak dengar. Semua masih ingat lagu A Whole New World, You'll be in My heart, dan lainnya yang sangat timeless. Kali ini Disney menghadirkan kembali lagu itu, Let It Go, Do you Want to build a snowman ? , dan first time in forever..akan melekat di kepala begitu selesai menonton filmnya. Well, setidaknya peringkat mereka di itunes selama berpekan-pekan bisa menjadi bukti betapa banyak yang menggilai lagu itu.

Ada satu lagi sebenarnya yang membuat keklasikan film ini makin kuat, karena memang Frozen terinspirasi dari sebuah cerita klasik karya Hans Christian Andersen yang berjudul Snow Queen. Tapi, karena kita tahu kisahnya Om Hans rata-rata bernuansa gelap, Disney mesti berjuang mati-matian untuk mengemasnya supaya bisa jadi produk mereka...yang selalu happy ending. Perjuangannya bertahun-tahun, mereka harus menyuguhkan karakter Ratu Salju yang tak menakutkan dan bisa dipahami orang atas segala tindakannya. 

Disney, untuk kali ini...saya cuma mau ucapkan terima kasih sudah kembali menyuguhkan kisah yang mampu menghangatkan hati.

Xoxo


Kamis, 26 Desember 2013

Review : Hakata Ikkousha Japanese Ramen Senayan City

Well, sebenarnya saya bukan penggemar ramen. Soalnya saya masuk kategori fans indomie ayam bawang garis keras..hahahaha

Ketimbang ramen, sebenarnya saya lebih suka udon. Habisnya saya selalu berpikir bahwa ramen itu cuma indomie versi Jepang dan lebih mahal..hahaha (susah emang).

Meski bukan penggemar berat ramen, karena saya masih pecinta kuliner Jepang, jadi coba-coba restoran ramen lumayan sering juga. Apalagi temen-temen saya juga penggila makanan Jepang dan Korea, walhasil kalo jalan-jalan ke mall ujungnya makan di resto Jepang atau Korea.

Belakangan ada heboh-heboh restoran ramen baru di Senayan City, katanya rame dan enak banget. Namanya Hakata Ikkousha Ramen, akhir pekan lalu karena penasaran, saya dan kawan saya pun mencicipi ramen satu ini.

Sebenarnya ini cabang ke berapa ikkousha ramen gitu, sebelumnya mereka ada di Kelapa Gading klo ga salah. Bedanya, yang di Senayan City ini tidak menyajikan produk yang mengandung babi baik daging maupun kaldunya.

Lokasinya ga terlalu besar yang di Senayan City, tapi meski ada di dalam mall, dekorasinya tetep seperti kios-kios ramen yang ada di pinggir jalan di Jepang. Waktu mau masuk, kami ditanya sama embaknya nama dan alamat. Loh kok pake alamat juga ? Biasanya klo antri kan pake nama aja..ini pake alamat segala, gak sekalian tanggal lahir ? Hahahaha.

Mungkin si mbaknya takut ada yang nyasar kali ya jadi ditanya alamat, selain itu kita juga ditanya apa sebelumnya udah pernah mencicip ramen ikkousha lainnya ? Kami jawab, belum. Mungkin mereka lagi survey kali yak.

Begitu masuk, kami dapat kursi yang di tengah. Meski kami cuman berdua, embak-embaknya menyediakan 4 kursi untuk kami. Dua kursi lagi adalah untuk tas kami. Wuohhh! I like it! 
Btw, FYI saya gak suka taruh tas di lantai, soalnya saya inget pesen Pak Agus Marto (sekarang Gubernur BI) bahwa tas itu cerminan pemiliknya dan ukuran kesuksesan..masa ditarih di tempat paling bawah. Ahay!

Kami pun ditawari menu, ragamnya ga begitu banyak. Saya pesen yang direkomendasikan disitu, Ramen Ayam Tam Tam (kategori pedas sedang) dan kawan saya pesan Ramen Ayam Naga merah (yang isinya bukan daging naga, cuma karena dinilai pedas banget oleh si restoran jadi dinamain itu).


Ini tampilan ramen ayam tam tam, secara keseluruhan rasanya emang enak dan kaldunya juga meresap. Tidak terlalu pedas dan taburan wijennya kebanyakan (ingatkan u dikurangi klo makan lagi disini). Porsinya menurut saya banyakkkk banget, soalnya saya ga habis tuh. 

Untuk yang naga merah, selain rasa pedas yang lebih. Telurnya juga ga telur rebus, telurnya dibikin semacam urak-arik yang bercampur langsung dengan kuah. Saya icip-icip enak juga (berhubung saya cuma bisa bedain dua rasa, yaitu enak dan enak banget...hahahah)

Kita juga disediakan irisan cabe, sambel, bawang putih yang disediakan alat penghancurnya kalo-kalo mau nambahin bumbu sesuai selera masing-masing. Selain mesen ramen, kami juga pesen ayam karage, semacam ayam goreng gitu. 


Rasa dari ayam karagenya ini enak banget, mungkin karena saya penggemar ayam kali ya. Bumbunya yang khas meresap banget, ditambah ada pilihan semacam cocolan mayonaise dan lainnya yang bikin segar. Salah satu yang bikin saya ga habisin ramen itu ya sebenarnya ayam ini..hahaha kenyang di ayam duluan. 

Secara keseluruhan, ramen ini emang enak. Dari sisi harga, menurut saya agak mahal. Seporsinya dipukul rata untuk semua jenis ramen Rp 59.800 dan minumnya untuk ocha segelasnya Rp 12ribu (bisa di refill). Jadi diitung-itung sekali makan disini bisa habis Rp 80ribuan. Standar mungkin ya bagi warga Jakarta, tapi buat saya masih terhitung agak mahal untuk semangkuk mie :)).

Well, berhubung restoran ramen dan udon lagi menjamur di Jakarta...yuk mari icip-icip lainnya.