Jumat, 17 Oktober 2008

Prof. Dr.Hj.Retno Sriningsih Satmoko: MENJADI MANUSIA SEUTUHNYA TANPA BERHENTI MENJADI WANITA SEPENUHNYA

“Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan ada pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, sunatullah di dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”
(Penggalan surat kartini kepada prof. Anton dan nyonya, 4 oktober 1902)
Prof. Sri satmoko, ibunda dari menteri perekonomian Sri Mulyani ini menjadi pilihan GeKa untuk mengangkatnya menjadi Sosok yang dibahas dalam tabloid ini, kegigihannya dalam membesarkan putra-putrinya sekaligus usahanya untuk terus menggali ilmu menjadi alasan GeKa memilihnya. Berikut narasi riwayat kehidupan Prof Sri Satmoko yang berhasil digali oleh reporter Geka.
Didalam kehidupan penghidupan sebagai wanita banyak stereotip dan rambu-rambu yang membatasi gerak wanita, salah satunya anggapan wanita sebagai ‘konco wingking’ yang menggambarkan wanita hanya layak berada di belakang, namun saya lebih suka istilah ‘garwo’ yang artinya separuh nyawa, istilah ini menunjukkan bahwa pria dan wanita diciptakan untuk saling melengkapi.
bisa dikatakan kisah hidup saya bermula sejak saya menginjakkan kaki di Sekolah Guru A (SGA) dimana merupakan yang pertama di Indonesia, setiap lulusannya wajib untuk mengajar di Sekolah Lanjutan Pertama. sewaktu menjadi murid dahulu, saya sering mengukir prestasi di bidang olahraga, saat itu olahraga lompat tinggi dan lempar cakram merupakan cabang yang saya kuasai. tahun 1951 saya lulus dan mengajar olahraga di sebuah sekolah, karena mengajar bidang olahraga maka saya mengenakan celana agar lebih praktis, namun saat itu ternyata masyarakat belum terbiasa melihat wanita memakai celana sehingga seluruh lapanagan dipagari oleh pihak sekolah agar tidak terlihat masyarakat dari luar.
Tahun 1953 saat saya masih berusia 22 tahun, saya menikah dengan Prof. Satmoko. sebelum mengambil keputusan menikah orang tua saya sempat menawarkan pilihan untuk terus melanjutkan pendidikan ke fakultas pendidikan jasmani tapi tidak boleh menikah dahulu, memang dasar jiwa muda saya sedang bergejolak saat itu saya tetap memilih untuk menikah. walaupun sudah menikah namun saya tidak berhenti untuk terus belajar dan menuntut ilmu, tidak lama setelah menikah kami (saya dan suami) mendapat tugas belajar SI di suatu ilmu pendidikan Yogyakarta untuk bisa naik tingkat dapat mengajar di SLTA.
pada saat belajar SI di Yogyakarta tersebut, saya mengalami keguguran, namun saya tidak menyadarinya. pasca keguguran ibu saya menakut-nakuti bahwa saya tidak bisa mendapat anak lagi, saya sangat sedih dan takut. tidak disangka satu bulan kemudian saya kembali hamil, saya berhati-hati menjaga kandungan saya karena pada waktu itu saya masih menuntut ilmu, tak lama saya berhasil melahirkan anak pertama, setelah itu saya hamil lagi, begitu terus, bisa saya katakan saya sambil belajar beranak, sambil beranak belajar sampai saya lulus , yah hidup memang unik.
karena ada ketentuan PNS harus mengabdi ke luar pulau Jawa saat itu, dengan memboyong 3 orang anak kami sekeluarga merantau ke Tanjung Karang. Berada di Tanjung Karang hingga saya memiliki anak ke tujuh yaitu Sri Mulyani, ada hal yang mengesankan saat itu, untuk menambah keuangan keluarga saya berinisiatif untuk membuka koperasi di Tanjung Karang, padahal saya sama sekali tidak punya latar belakang di bidang ekonomi, cuma modal nekat namun ternyata bermanfaat bagi masyarakat sekitar, pada saat mengelola koperasi itulah saya tengah mengandung Sri Mulyani. Terlalu lama hidup di Tanjung Karang akan membuat kami tidak berkembang menjadi lebih baik, hal itu yang ada di pikiran saya saat itu, lalu tahun 1963 saya, suami beserta ke7 anak kami kembali ke Pulau Jawa, tanpa membawa apapun, semua barang saya tinggalkan di Tanjung Karang, hanya membawa tekad untuk menuju hidup yang lebih baik dengan bekal seadanya.
Tidak tahu mau tinggal dimana, tidak ada tempat yang dituju, belum ada tempat untuk berteduh. Saya hanya bisa pasrah saya berpikir jika Allah menghendaki anak-anak saya tinggal di gubuk maka kami akan tinggal di gubuk, jika Allah menghendaki anak-anak tinggal di gedung maka kami akan dapat gedung. Kami kembali ke Yogya, dan tidak disangka, ada salah seorang kerabat yang meminjamkan rumah dinasnya yang tidak terpakai kepada kami tanpa kami meminta. Begitulah, saya di Yogya kembali melanjutkan menuntut ilmu di fakultas Ilmu Pedagogi bersama suami, mungkin disini jiwa pejuang saya ditempa, sambil belajar pada saat itu saya kembali mengandung. Peran saya dituntut secara maksimal sebagai wanita, sebagai pelajar, sebagi ibu yang mengandung, dan sekaligus ibu rumah tangga yang wajib mengurus suami dan tujuh anak lainnya.
Pada masa-masa ini saya menyadari kompleksnya peran seorang wanita dalam kehidupan, dan memang hanya seorang wanita saja yang sanggup. Dalam rumah tangga saya harus menjadi manger yang handal, sebagai petugas belajar saat itu kami dilarang mencari honorarium, jadi yang kami miliki saat itu hanya gaji pokok, saya harus mengatur keuangan dan pengeluaran sedemikian rupa agar ketujuh anak saya tetap bisa makan dan sekolah, saya ingat betul waktu itu kami sampai harus makan separuh jagung, separuh nasi agar bisa bertahan, untuk mendapat pakaian anak-anak saya menjual lurik. Saya pribadi saat itu berperan ganda sebagai ibu, sebagai pengajar, sebagai pelajar, dan sebagai istri. Kewajiban mengajar saat itu sehari 18 jam, agar kebutuhan pokok kami terpenuhi, saya pribadi mengatur waktu sedemikian rupa, sehingga di tengah malam saya masih sempat untuk belajar. Sulit memang, tapi saya dan suami membiasakan diri untuk tidak mengeluh dan terus bertekad. Sedari dulu kami hidup secra prihatin, kami tidak mengajarkan anak-anak untuk berhura-hura
Semakin tinggi tingkat pendidikan maka karir say asemakin naik, jika dihitung saya sebenarnya sama kedudukan dengan suami, namun saat itu sebagai wanita kemapuan saya sering tiak diakui, pernah suatu ketika saya mengajukan proposal penelitian dan lolos seleksi di Jakarta, karena proposal saya berhasil saya berencana mengkoordinasi para dosen untuk terlibat dalam penelitian ini, namun salah seorang pejabat di kampus justru menegur saya dengan berkata “ Who are you? , kamu Cuma seorang wanita”, kata-katanya sangat menyakitkan dan membuat saya merasa terinjak-injak sebagai seorang wanita, pengalaman serupa sering terjadi sebenarnya. Beberapa saya meilih untuk mengalah, namun ada satu tekad di benak saya, semua orang bisa mengintervensi saya, tapi tidak untuk anak-anak saya. Pendidikan mereka akan terus saya perjuangkan demi kemajuan mereka. Begitulah sehingga saya memiliki sepuluh orang anak saat ini, dan kesepuluh-puluhnya saat ini bisa saya katakana telah mencapai kesuksesan.
Kunci dari segala keberhasilan tersebut adalah, kegigihan dalam berjuang dan memperoleh pendidikan, kami tidak pernah mengeluh dalam kesulitan tapi terus bahu mebahu. Dalam mendidik anak-anak, saya selalu memberikan kata-kata positif kepada mereka untuk membangun kepercayaan diri mereka saat di sekolah dan belajar, karena anak tiak mampu belajar dengan baik jika orangtuanya memandang remeh mereka.




DAFTAR SEPULUH ANAK PROF. SATMOKO:
1. Prof. DR.Dr.H.Agus Purwadianto, SH, Msi, Spf(K)
2. Dr.Hj.Asri Purwanti, SpA,MPd
3. DR.Ir.Hj.Nining Sri Astuti ,MA
4. Ir.H.Nanang Untung Tjahyono M
5. Ir.H.Teguh Trianung Djoko Susanto,MM
6. Ir.Hj.Umiyatun Hayati Triastuti,M.sc
7. DR.Hj. Sri Mulyani Indrawati
8. Dr.Hj.Sri Harsi Teteki,M.kes
9. Dr.Sutopo Patria Jati,MM
10. Hj. Retno Wahyuningsih,SE

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Subhanalloh, Allohuakbar, betul2 keluarga teladan , saya sudah tidak punya kata2 lagi , karena semua kata indah dan pujian indah sudah ada pada keluarga ini, terutama ibu SMI yang begitu tulus dan faith utk negeri tercinta , Semoga Alloh SWT, senantiasa melimpahkan rachmat dan hidayahnya , dan semoga juga banyak orang tua dari seluruh nusantara ini akan melahirkan putra putri yang berkwalitas seperti keluarga ini, (amin Allohuma amin)

astried vangusrob mengatakan...

Terima Kasih karena telah menuliskan sepenggal kisah inspirasi ini. Saya sering mendengar cerita yang sama dari Papa mengenai bagaimana Eyang Moko dan Eyang Sri membesarkan anak-anaknya. Tapi belum pernah mendengar cerita yang GeKa tuliskan. Terima Kasih GeKa cerita ini telah menjadi lilin penerang untuk hidup saya yang hidup berjauhan dengan keluarga Eyang Moko. Semoga bisa menjadi inspirasi bagi semua Ibu di luar sana. Salam sayang selalu dari cucunda R.Soedibyo (Kakanda Prof.Satmoko)...