Kamis, 23 Oktober 2014

Saudara

Saudara

“Jangan padam obor,” begitu Papa selalu menasehati. Buat Papa, menguatkan tali silaturahmi dengan sanak saudara itu penting. Tetangga dan kawan memang dekat. Tapi, saudara yang dasarnya sudah jauh, jangan sampai jadi asing.

Berkembangnya teknologi dan jasa mayantara jelas membuat soal jadi enteng. Kapanpun , setiap saat, kita bisa tahu kabar terkini keluarga kita. Tapi tetap saja kurang nendang. Papa berhasil meyakini saya bahwa cara mengikat tali silaturahmi paling kuat itu adalah bertatap muka, sering-sering bertandang, dan langsung bercakap-cakap.

Sayang, semakin bertambah usia, waktu tampak semakin kurang. Sebenarnya waktu berjalan biasa saja. 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, 12 bulan dalam setahun. Dari sebagian waktu itu, berapa lama untuk bekerja ? Berapa lama untuk bercengkrama dengan rekan, kerabat, atau apapun kita memanggil mereka ? Sisanya baru sanak saudara.

Biasanya pas lebaran. Kadang, tapi ini sangat jarang, pas hari raya lainnya. Pokoknya pas ada niat dan ada waktu, yang setelah diatur sana-sini, baru bisa buat ketemu. Waktu sisa.

Papa bahkan bilang untuk mengumpulkan saudara itu ada dua momen penting. Dua momen ini pasti membuat mereka yang paling jauh sekalipun, mendekat untuk bertemu. Yakni, pernikahan dan kematian. Satunya berita bahagia, satu lagi penuh duka.

Saya tidak suka yang kedua. Yang pertama jarang hadir juga. Masalah klasik manusia modern ibukota. Makin dekat dengan hal fana, makin jauh dari asalnya.
Empat tahun ini, saya belum pernah berkunjung lagi ke Semarang. Tempat saya menuntut ilmu dan menjadi bagian dari  keluarga di sana. Mustahil untuk lupa keluarga di sana, tapi ya itu, saya terlena dengan berbagai alasan. Biasanya alasan berjuang. Berjuang kumpulkan uang, sisihkan waktu, dan alasan lainnya. Klasik.

Tapi Alhamdulillah, saudara saya baik semua. Udah paham kelakuan saudaranya yang satu ini. Meski jarang bertemu, sekalinya jumpa tetap punya banyak hal untuk dibagi. Kadang rezeki, tapi lebih sering cerita. Ya cerita aja, karena memang dasarnya saya hobi cerita. Nanti yang lebih tua kasih petuah, yang muda sumbang tawa.


Karena jarang bertemu, pasti banyak bertanya. Rata-rata tanya hal serupa. Ladeni saja. Mereka toh keluarga kita, ya masa iya mesti malu buat sekedar cerita.
Lama tidak ketemu, tahu-tahu kabarnya sudah begini dan begitu. Lalu kita terperanjat, merasa tertinggal jauh. Padahal memang jauh. Tapi yang dirasa-rasa selalu dekat, seakan-akan baru kemarin. Begitu.

Biasanya untuk kabar duka, tahu-tahu saudara kita pergi. Tiada. Sedihnya bukan main. Sesalnya jauh lebih dalam. Duh, kenapa kemarin tidak sempat. Duh, kok bisa ya. Duh, andai aja bla bla bla.

Kemarin, seorang saudara sepupu kembali pergi tinggalkan fananya dunia. Ah, rasanya baru beberapa bulan ini saya akhirnya terhubung dengan dia di facebook. Setiap status yang saya tulis, utamanya soal politik, seringkali mendapat jempolnya. Artinya, kami sebagai saudara sedarah, punya pemikiran yang sama. Ketimbang kawan, punya saudara yang seiman soal urusan negara itu, jauh lebih menyenangkan.

Sebelum dia pergi, adiknya sudah mangkat lebih dulu. Kakak sepupu saya juga. Lalu saya juga teringat, kayaknya baru beberapa waktu lalu menginap dan tidur di kamarnya. Berbincang sampai malam. Sekarang tinggal jadi kenangan. Benar-benar tak akan ada waktu lagi dan kesempatan untuk mengulang, membuat cerita baru.Kini sisanya lara, sepaket datangnya dengan duka.

Selamat jalan Mas Isa, salam untuk Mbak Mila di sana.

Maafkan sepupumu yang lancang dan sok sibuk ini.


Doa selalu terselip untuk mas dan mbak.

Tidak ada komentar: