Jumat, 12 September 2014

Iseng-Iseng Mikir Pilkada

Tadinya saya mau kasih judul “Menakar Pilkada” , tapi kok kayaknya serius bener. Kalo dikasih judul itu, seakan-akan saya lagi nulis di kolom opini sebuah harian ternama. Sebut saja Harian Kiamat, bukan harian yang sebenarnya.

(Seru juga ya bikin Koran dengan nama Harian Kiamat, jargonnya : Harian Kiamat, Kabarnya Ditakuti Sejuta Umat!)

Seperti perempuan kebanyakan, sambil sibuk kerja buat beli kosmetik sehari-hari, kadang isu-isu politik dan nasional yang lagi panas di pemberitaan juga saya simak. Biar kelihatan sedikit tanggung jawabnya buat mikirin negara.

Belakangan lagi hangat perdebatan soal Pilkada langsung atau tidak langsung. Gerombolan yang belum berkesempatan jadi pemenang di Pilpres kemarin (soalnya masih banyak yang sakit hati kalau disebut kalah), tau-tau menggagas ide untuk mengembalikan Pilkada seperti semula. Yakni, dipilih melalui DPRD.

Ide yang menarik, dan mengundang banyak komentar pastinya. Ada yang pro dan kontra. Pendapat setuju pastinya datang dari partai-partai yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih. Sementara yang kontra datang dari para penikmat Bubur Merah Putih, dan diantara penikmat itu ya pasti terdapat si para pemimpin daerah hasil pemilihan langsung. Bahkan para pimpinan hasil Pilkada langsung yang partainya ada di koalisi Merah Putih itu.

Ada yang demo, debat di tivi, sampai mengajukan surat pengunduran diri karena suara mereka bersebrangan dengan partainya. Ada yang mencaci, tapi tak sedikit pula yang memuji.

Kalau sudah begini, biasanya lini masa jejaring sosial bakal panas. Semua mengupas Pilkada langsung dari sisi manfaat dan mudharat. Status-status dengan tema Pilkada mulai bermunculan, link-link berita yang mengutip para ahli politik, hukum, bahkan nujum pun bertebaran.

Semua berusaha mengkooptasi pikiran siapapun yang membaca ketika mengintip laman facebook mereka. Ada juga yang memposting dengan maksud nyinyir atau menghina salah satu pihak. Semakin disebar dan dipajang, semakin menunjukkan bahwa pendapat mereka lah yang paling benar. Tanpa sadar, mereka mencoba mengubah pendapat mereka menjadi firman yang harus diterima.

Kalau sudah panas begitu, biasanya saya mampir aja ke blog-blog fashion atau kecantikan dulu sebentar. Soalnya apapun yang terjadi, mereka tetap istiqomah buat tampil gaya. Perdebatan paling panas di sana juga paling banter soal mana yang harus dipakai lebih dulu di wajah, essence atau toner ? itu penting.


Nah, kalau saya simak perdebatan soal Pilkada. Kedua kubu memang ada benarnya dan ada juga yang saya rasa kurang tepat. Keliru sih tidak, karena yang boleh ‘Keliru’ hanya Ruth Sahanaya.
Soal dasar hukum Pilkada misalnya, memang tidak diatur dalam undang-undang. Pemilihan langsung yang diakomodasi oleh peraturan adalah pemilihan DPR, DPD, DPRD dan Presiden. Tidak ada soal pemilihan Bupati, Walikota, dan Gubernur. Tapi tidak ada bukan berarti tidak boleh.

Sama misalnya saya memilih Indonesian Idol, kalau mau dukung bisa lewat SMS atau Telepon. Tapi dukungan lewat doa tidak ada di pilihan, sementara saya maunya dukung doa saja. Ya masa iya dilarang.

Lalu ada yang bilang, Pilkada langsung itu buang-buang uang negara terlalu banyak. Money politic dan lainnya. Ini bisa dihemat kalau via DPRD. Bener itu. Saya juga dulu berpendapat kaya begitu, apalagi masyarakat kita belum terlalu matang politik.

Masyarakat ini mikirnya praktis, gampang disetir apalagi yang ada di daerah terpencil. Iya sih, makanya saya sebel udah dikasih Pilkada Langsung eh yang menang kok ya yang itu lagi. Ya bohong kalo ga ada money politic.

Berapa triliun coba yang habis ? Belum lagi kalo ada sengketa di MK ? Potensi kerusuhan? Pemilihan sampe dua putaran, wuih..boros boros.

Sampe akhirnya, dari semua kegagalan yang ada dari proses belajar berdemokrasi itu bibit-bibit benih keberhasilan mulai muncul. Ada Bu Risma, ada Ridwan Kamil, ada Ahok…ibarat bersepeda, kita jatuh-jatuh dulu baru perlahan berlajar seimbang, lalu suatu saat pasti bisa melaju kencang.

Ini kita sedang jatuh-jatuh dan menuju penyeimbangan tubuh. Masa iya kita banting lagi sepedanya, terus kita balik kamar buat tidur-tiduran tanpa mau belajar lagi. Luka itu pasti ada, kesalahan dan kebodohan pasti dialami. Luka bukan alasan untuk menjadi trauma dan mundur ke fase sebelumnya.
Tapi kan rasio keberhasilan Pilkada melahirkan pemimpin yang bagus itu sangat kecil, misal tidak sampai 10 persen. Kecil bingitz.

Sayangnya, saya lebih suka berusaha keras dan mengeluarkan segala daya upaya untuk mendapat hasil yang baik sekecil apapun itu. Daripada mundur lalu sama sekali tidak ada yang muncul. Semua pimpinan daerah lalu sama seperti dulu, tidak ada yang inovatif…eng ing eng.
Money Politic ?

Ada yang jamin dialihkan ke DPRD tidak ada money politic ?

Tidak menampik setiap Pilkada pasti ada politik uang, misal ada warga desa yang memilih si Anu karena iming-iming uang beberapa ratus ribu. Buat saya yang otaknya rada nyeleneh ini, ya biarin lah duit itu dinikmati warga desa. Seratus ribu setidaknya bisa bertahan buat dua hari, ketimbang dikonversi jadi Rp 100 juta buat nyogok satu anggota DPRD.

Pilih mana ?

Rp 100 juta dibagi ke penduduk dengan nominal Rp 100 ribu per orang, bisa dapat 1000 orang penduduk yang mungkin lagi butuh buat beli sembako. Atau

Rp 100 juta ini diwakili ke 1 anggota DPRD yang lagi butuh buat beli Hermes, yang duitnya boro-boro sampe ke rakyat .Ya kurang kena konsep adil dan meratanya, hahaha.

Itu Cuma mikir ngaco aja sih.
Lagian rakyat sekarang udah pada pinter, duit mah diambil…masalah suara itu urusan bilik sama Tuhan.
Terus, ada lagi yang bilang “Lah kan sudah diwakili DPRD, kalau tidak percaya sama DPRD ngapain waktu itu dipilih ?”
Pengen pites rasanya, coba kapan-kapan survey ke masyarakat kalo ada pilihan untuk bisa memilih atau membakar anggota DPRD pilih yang mana ?
Yakin 80 persen lebih seneng bakar anggota dewan ketimbang milih atau nyoblos mereka.
Ya itu tadi, milih anggota dewan secara langsung itu amanat undang-undang. Sebagai warga yang baik , syukur-syukur masih kita pilih bukan kita bakar.

Dewan katanya wakil rakyat, tapi selama ini saya merasa gak diwakili-diwakili amat. Kalo bener mah, harusnya anggota dewan itu mewakili saya setidaknya buat bayar tagihan bulanan mulai dari kartu kredit sampe tagihan telepon. *ngarep*

Saya jujur nih ya, waktu Pileg saya masih milih Pak HNW dan Fahira Idris duduk sebagai anggota dewan dan DPD. Nyatanya, Pak HNW waktu pilpres milih dukung Prabowo dan sekarang dukung Pilkada tidak langsung.

Jadi sebagai orang yang seharusnya suaranya diwakili oleh Pak HNW, saya merasa tidak terwakili oleh wakil saya itu. Terpaksa, saya harus posting beginian di blog saya deh. Abis saya tidak satu suara sama wakil rakyat saya.

Itu contoh paling gampang bahwa anggota DPRD belum tentu mewakili suara si rakyat yang memilihnya. Sehingga, kadang-kadang kalo begini kita perlu pemilihan langsung.

Saya bisa aja sepakat Pilkada via DPRD, kalau DPRD nya itu benar-benar bersih seperti saya yang yakin akan suara saya sendiri. Okelah kita anggap PKS itu partai paling bersih (kan maunya emang begitu), tapi saya tidak yakin dengan partai-partai lainnya di koalisi itu. Saya juga tidak yakin dengan PDI. Percaya deh, selama ini rakyat itu memilih sosok…bukan partai (kecuali kalo situ anggota Kadin dan partai tertentu).

Misal ini ya, misal loh. PKS punya calon bagus maha dahsyat untuk jadi pimpinan daerah, tapi di koalisi yang dimana golkar atau demokrat bermain dominan ternyata mereka tidak sepakat dan menggolkan calon mereka dengan rekam jejak buruk. Apa iya kalian tidak kecewa nantinya ? Kedua partai yang saya sebut tadi itu egoisnya minta ampun loh.

Kan kalau Pilkada langsung, tanpa bantuan partai apapun, kalian tetap bisa ajukan sosok itu ke publik. Setidaknya mengenalkan dulu, boleh jadi gagal, tapi kan pemilihan berikutnya masih ada kesempatan.

Itulah kenapa saya lebih suka Pilkada langsung sekarang.

Karena, saya lebih suka uang milyaran rupiah itu lari ke percetakan, tukang sablon, tukang spanduk untuk dijual lalu ada pajak yang bisa dipungut di transaksi itu buat kembali ke negara. Saya lebih suka uang miliaran rupiah yang dibuang setiap Pilkada itu untuk menggerakkan roda ekonomi dalam negeri dan menggenjot aktivitas konsumsi masyarakat yang ujung-ujungnya berdampak ke pertumbuhan ekonomi.

Daripada uang miliaran itu lari ke sekian ratus elit untuk dibelanjakan di luar negeri, dan kita tidak dapat apa-apa.


Selamat berpesta.

2 komentar:

efa mengatakan...

Saluuut!
Tulisannya santai pdahal "dalam"
Emang yeee..ibu ini paling nyinyir klo udah soal beginian dah.

Gustidha Budiartie mengatakan...

nyinyirnya udah bawaan lahir Fa dari dulu kalo soal beginian hahahahah