Minggu, 22 Juni 2014

Prabowo atau Jokowi ?



"Mbak, pilih Jokowi atau Prabowo buat jadi presiden ?"

Ini sudah supir taksi ke-4 selama empat malam berturut-turut yang menanyakan hal serupa pada saya. Alih-alih memberi jawaban, seperti biasa, saya hanya memalingkan wajah saya sebentar dari telepon genggam dan menatap si Pak Supir lewat kaca tengah.

"Kalau Bapak, pilih siapa ?"
"Saya pilih Prabowo saja, Mbak," jawab dia.

Si Bapak pun panjang lebar menuturkan alasannya, saya dengarkan sambil tersenyum saja. Sesekali saya tanggapi dengan kata-kata yang menunjukkan rasa sepakat dengan pendapat si bapak yang tampaknya berusia 45 tahunan itu. Bukan sekedar untuk menghargai, karena saya tahu rasa sakit tidak didengarkan oleh lawan bicara, tapi memang saya setuju untuk beberapa hal yang jadi nilai jual positif si kandidat tersebut.

Untuk yang kontra, saya sedang malas berdebat karena terlalu lelah habis bekerja.

Tukang taksi belakangan ini seperti pengamat politik, bukannya mereka tidak boleh bicara soal politik ya. Mereka jadi begitu serius memikirkan negeri ini, padahal ini musim bola. Tapi seminggu terakhir sejak piala dunia berlangsung, saya belum pernah menemui tukang taksi yang menanyakan kepada saya siapa tim yang saya jagokan. Demam piala dunia hampir tidak ada, baik di taksi biru maupun putih.

Saya tidak kenal dengan para tukang taksi ini, namanya begitu saya menulis di blog ini pun sudah tidak ingat. Tapi, obrolan dengan mereka di kepala saya sangat membekas. Dari empat tukang taksi yang saya tumpangi, dua memilih Prabowo dan dua lagi memilih Jokowi. Kedudukan imbang.

Alasan mereka beragam, latar belakang mereka juga. Ada yang karena kemacetan Jakarta, silsilah, aura dan kharisma, kinerja, agama, partai politik, dan oh...Macan Asia.

Mungkin saya bukan orang pertama yang mereka tanya saat itu. Bisa jadi saya orang ke beberapa belas yang mereka tanya pendapatnya. Naluri sebagai pencari berita, jadi saya biarkan saja bapak-bapak itu bercerita sepanjang argo berjalan.

Saat ada jeda, saya kembali bertanya. "Jadi Bapak sudah yakin dengan pilihannya ? Lalu mengapa tanya saya pilihan saya?"

Uniknya, empat supir taksi itu memiliki jawaban serupa. Mereka seperti membuat survey kecil-kecilan pada penumpang mereka. Kata kuncinya satu, penasaran. 

"Saya ingin tahu saja pendapat orang, Mbak. Siapa tahu ada info yang belum saya tahu."
"Penasaran aja, Mbak. Kira-kira calon saya ini kuat gak ya."

Begitu rata-rata jawabnya. Mereka ingin mengukur kekuatan kandidat mereka sekaligus mengukur pengetahuan mereka soal kandidatnya.

Lalu saya tanya lagi. "Terus, rata-rata jawaban penumpang apa?"

Ternyata tidak ada jawaban pasti. Menurut survey para tukang taksi itu, yang saya yakin penumpangnya sangat beragam , kedua kandidat masih sama kuat. Ada yang pilih Jokowi, tidak sedikit juga yang pilih Prabowo. Yang cuek ? Tentu juga banyak.

Persis, dalam hati saya, wong kedudukan suara untuk empat tukang taksi yang saya temui saja masih sama kuat.

"Jadi, mbak-nya pilih siapa ?" Si Bapak tetep ngeyel bertanya.

Saya pun iseng menjawab. "Kalau pilihan saya beda sama Bapak, apa Bapak bakal suruh saya turun di tengah jalan begini ?"

Si Bapak pun membantah sambil tertawa.

"Terus, kalau saya pilih kandidat Bapak, apa Bapak mau gratisin saya ? Atau paling gak kasih saya diskon nih ongkos taksinya. Gimana ?"

"Ah, si Mbak bisa aja." Si Bapak pun lanjut menyetir taksinya dan kembali mengencangkan radio.

Musim kampanye begini memang ada enak dan gak enaknya. Enaknya, kita bisa tahu dan berdiskusi dengan siapapun soal politik tanpa takut sesuatu. Semua orang bisa berbicara, beranalisa, bahkan berbusa menjabarkan masalah bangsa.

Masyarakat jadi aware soal masalah negara selama ini, dan kira-kira apa solusi yang dibutuhkan (yang sebenarnya dari dulu masalahnya sama aja). 

Tidak enaknya, semua berubah jadi hakim.
Kalau saya pilih nomor satu, saya bakal dicaci oleh pendukung nomor dua.
Kalau saya pilih nomor dua, saya dimaki-maki oleh fans si nomor satu
Kalau saya tidak pilih keduanya, kedua pendukung bakal menghina saya sebagai warga yang tak acuh.

Serba salah.

Sedih sebenarnya, apalagi di jejaring sosial mulai beragam kampanye negatif dan kampanye hitam kedua kandidat. Padahal keduanya bukan calon yang sempurna, ada cacat dan ada salah.
Dari yang semula kawan-kawan merasa well informed meningkat ke tahap sotoy, merasa mendukung jagoannya sudah yang paling benar dan yang berlawanan itu adalah kelompok yang bodoh.

Mending kalau dia kawan kita ya, ada yang cuma sekedar kenal saja misalnya. Saya merasa belum pernah berkawan dengan dia, lalu buru-buru menghina dan menyindir. Bilang saya sampai hapus pin BB cuma gara-gara beda pilih presiden. Please deh, BB saya hilang setahun lebih dan sejak saat itu tidak pakai BB lagi. Makanya saya bilang, kawan bukan..sotoy iye. GR banget dah situ kontaknya saya ilangin gara2 capres doang.

Lagipula, jujur saya juga tidak suka info-info dari situs tertentu yang wartawannya saja gak ada di lapangan. Viva, Detik, dkk masih saya hargai karena jelas kawan-kawan saya bekerja di sana. Dan saya tahu bagaimana posisi mereka. 

Memilih presiden seakan memilih yang hitam atau yang putih, padahal keduanya abu-abu.

Saya cuma bisa geleng-geleng kepala aja. 

Jelas saya berpihak, siapa yang tidak berpihak ? Tuhan saja berpihak.

Saya berpihak bukan karena saya berada dalam jamaah atau kelompok tertentu yang kebetulan mendukung para kandidat. Bukan karena perintah apapun dan permintaan siapapun.

Saya berpihak bukan karena tempat saya bekerja. Apalagi keluarga, jujur keluarga saya pilihannya berbeda-beda. Lalu apa ? Toh kami masih menyebut diri kami sebagai keluarga.

Saya berpihak juga bukan karena kawan-kawan saya.

Saya berpihak berdasar pengetahuan yang miliki , yang tentunya terbatas. Saya berpihak berdasar pengalaman saya selama ini dan apa yang saya ketahui dari bidang yang saya dalami beberapa tahun belakangan ini.

Saya berpihak dengan mempelajari solusi, bukan wacana atau janji, yang ditawarkan oleh mereka. Saya tidak mendengar retorika, tapi inti dari yang mereka sampaikan di debat kedua kandidat selama ini. Ya buat saya, hal teknis itu perlu.

Saya berpihak karena pertemuan dan interaksi saya dengan para kandidat yang diusung-usung saat ini.

Saya berpihak karena saya menyaksikan, mendengar, dan mengalami sendiri.

Bertahun-tahun saya menulis soal BUMI.
Bertahun-tahun saya nyemplung ke dunia energi, bertemu dengan para pemangku kepentingan dan mendengar kesaksian mereka. Jauh sebelum Prabowo atau Jokowi maju sebagai Capres.
Ratusan kali saya menelusuri masalah ekonomi negara ini dan mencari biang keladinya.
Semuanya ada di kepala saya, dan kalau kalian tidak malas membaca, ada di berita-berita ekonomi media apapun selama ini. Jauh sebelum kedua kandidat maju bersaing.

Saya berpihak karena saya harus menggunakan hak saya sebagai warga negara. Sekaligus melaksanakan kewajiban saya yang paling sederhana. Saya hanya mencoba, seperti kata kawan saya, menjadi Good Citizen.

Saya berpihak, karena saya berharap setidaknya negara ini bisa lebih baik.

Kalau kalian menilai saat ini saya keliru, setidaknya pilihan saya ini hasil ijtima saya. Salah atau betul tetap dapat pahala.

Toh pilihan saya yang lalu juga kalah, kali ini SBY yang pimpin. Bukan pilihan saya jelas, tapi pilihan kalian , mungkin, yang dulu mendukung dengan segala pujian lalu sekarang melepas dengan penuh cacian.

SBY bukan pilihan saya. Tapi saya tetap mengapresiasi apa yang dia pernah lakukan selama ini. Kebebasan media, naiknya harga BBM, larangan ekspor tambang mentah, pertumbuhan ekonomi yang lumayan, pengadaan yang lebih terbuka, tetap harus dipuji.

SBY bukan pilihan saya, tapi saya tetap mengawasi dan mengawal dia hingga saat ini setidaknya. Ketika kalian asyik-asyikan bermain opini dan wacana soal calon presiden, saya tetap melakukan pekerjaan saya dengan mengkritisi kebijakannya di akhir-akhir periode.

Seperti yang kawan saya bilang, saya cuma mencoba untuk jadi Good Citizen.

Siapapun yang terpilih nanti, kalian harus ingat itu pilihan kalian. 

Wallohualam bis showab.




2 komentar:

Hendra Suhendra mengatakan...

nice artikel. Gurih dibaca. enak dilihat. Ringan di telusuri setiap detail kalimat. Good. keep Working. http://hendrasuhendra176.blogspot.com

Indah Septriasa mengatakan...

Salam kenal Mbak. Tulisannya mencerahkan banget. Semoga setelah pilpres ini suasananya damai lagi yaa~