Senin, 22 Juli 2013

Ramadhan 13 : Seragam Sosial

Saya beli sepatu warrior itu, rok saya di bawah lutut dan kaos kaki tinggi. Kemeja putih dengan lambang OSIS warna kuning ukuran M saya masukan ke dalam rok agar ikat pinggang berlambang serupa kelihatan.

Itu, sesuai dengan petunjuk manual yang diserahkan oleh sekolah pada Papa saya. Bagaimana menggunakan seragam dengan baik dan benar. Padahal, saya lebih suka pakai kemeja ukuran L dengan kancing terbuka semua dan kaos fido dido saya keliatan dari luar.

Ketimbang pakai warrior warna hitam dengan karet kaku, kalo ada duit saya lebih pilih pake sepatu Nike Ninja yang lagi tren. Tapi Papa saya kekeuh, pake seragam ya sesuai aturan katanya.

Lalu saya tanya, kenapa mesti pakai seragam sih di Indonesia. Toh saya lihat anak sekolah di luar negeri seperti yang ada di opera-opera sabun layar kaca, mereka ke sekolah pakai baju bebas.

Papa saya cuman bilang, "Emang kamu punya baju banyak ? Kalo pakai baju bebas nanti kamu yang malu. Bajunya itu-itu aja, yang bagus cuman sedikit."

Benar juga, beli seragam sekolah saja saya harus ke Pasar Bendungan Hilir setidaknya dua tahun sekali. Papa saya nawar mati-matian ke Uda penjual seragam supaya bisa beli seragam agak banyak. Biasanya sekali beli itu tiga pasang saja, buat Senin putih-putih sisanya seragam kemeja putih dan bawahan biru atau abu-abu tergantung masa sekolah.

Saya adalah contoh nyata  panduan seragam yang baik dalam bentuk tiga dimensi. Semuanya baru dari atas sampai bawah, kalau kinclong begini, saya yakin gak ada yang tahu kalo saya berasal dari keluarga biasa aja yang berhasil masuk ke sekolah unggulan yang terkenal mewah di Jakarta.

Tahun pertama saya gaya pakai jasa antar jemput, kebetulan yang punya usaha mobil jemputan masih tetangga sama saya. Jadi urusan Papa yang melobi tarif, kalau ga salah di tahun 90an itu sekitar Rp 150ribu per bulan, sama dengan bayaran sekolah. Padahal gaji Papa saya saat iti belum sampai Rp 2 juta. Dahsyat memang biaya buat jadi warga ibukota. Keringat dikucur tak sepadan dengan uang yang dibuang.

Begitu masuk mobil jemputan, saya takjub. Ada sekitar 7 anak di dalam, sama-sama siswa baru di sekolah serupa tapi seragamnya tak sama dengan saya. Beda-beda. Setiap anak beda.

Ikat pinggangnya tak tampak, atau sekilas saya lihat pakai bahan kulit. Sepatunya hitam, tapi ada yang bisa pakai Nike Ninja, Gosh pantofel,dan Bee Bop kalau gak salah. Rok-nya, ada yang di atas lutut. Ada yang birunya beda dan lebih gelap. Kemejanya, ada yang hobi pakai yang lebih sempit. Ada juga yang lengannya di gulung.

Sampai sekolah, parade adi busana variasi seragam jauh lebih dahsyat. Meski pakai seragam, dengan gaya dan jenis yang beda kita bisa tahu perbedaan status sosialnya. Dari semua murid, saya lihat cuma anak laki-laki yang hobi pakai ikat pinggang osis berpangkal besi itu. Yang setelah sekian lama, saya baru tahu itu buat tawuran. Haish!

Benar kata Papa, kalau pakai baju bebas pasti saya terlihat gamblang berasal dari kasta mana. Pikir saya yang bodoh waktu itu, seragam sekolah ternyata ide yang tidak terlalu buruk buat mengurangi budaya pamer masyarakat kita.

Kalau seragam sekolah gunanya menyamarkan status sosial, ada satu seragam yang sangat saya benci tapi digandrungi oleh masyarakat kelas atas di sini. Yaitu seragam Baby Sitter, bisa kita jumpai dengan mudah kalau kita ada di pusat perbelanjaan.

Dari dulu, saya risih kalau ada orang kaya yang menyuruh pengurus anak mereka mengenakan seragam. Menurut saya itu gak manusiawi. Menunjukkan perbedaan kelas dan batasan bagi manusia yang sehari-harinya lebih banyak habiskan waktu untuk mengurus si anak ketimbang ibunya sendiri. Apa sih susahnya melihat asisten rumah tangga pakai baju biasa, kenapa mesti diseragam-in?

Gak cuman itu, kadang saya lihat kalau para kaum berlebih itu makan di restoran, si mbaknya cuma bisa lihatin aja atau suapin anaknya makan.

Pernah saya kerja sama orang Korea di Semarang. Mr. Kim namanya. Dia bilang dia juga ga suka kebiasaan itu. "Itu sudah jadi budaya ya di Indonesia ?" Tanya dia.
Saya jawab, bukan. Itu hanya dilakukan oleh mereka yang punya harta berlebih tapi serba kurang dari sisi nurani dan dangkal dalam berpikir. Biarin deh, saya emang ga suka.

Lalu Mr Kim bilang, dia pernah melabrak orang seperti itu di sebuah restoran karena si mbaknya tidak diajak makan. Mr Kim bilang ke mereka, kalau uang mereka tidak cukup buat bayar makan si mbaknya, biar pakai uang Mr Kim saja. Dahsyat!!

Dari semua kejadian itu, saya berpikir kayaknya seragam di Indonesia itu justru menunjukkan kelas sosial ya. Apalagi seragam yang dikenakan aparat, mulai dari hansip sampai jenderal. Siapapun pasti bisa lihat kan, begitu seseorang gunakan seragam yang menunjukkan pangkatnya. Udah deh tingkahnya selangit, petantang petenteng bagai jagoan.

Pun ya, ada seragam yang ga dimacem-macemin dan dipatuhi gayanya atau berfungsi untuk samarkan status sosial. Diantaranya itu seragam pemadam kebakaran dan seragam buat kunjungi area tambang mineral atau migas. Ya habis gimana kan, kalau gak nurut nyawa melayang. Emang mau ke lokasi tambang pakai high heels ?

Begitulah manusia dan hobi pamernya yang luar biasa.

2 komentar:

RikaNova mengatakan...

di SMA-ku yg cinta banget sama budaya militer itu, seragam sekolah kami sama persis dari kepala sampai kaki. sepatu pantofel kami juga sama, bahkan panjang rok (13 cm di bawah lutut) dan lingkar celana anak laki-laki (30 cm, atau proporsional bagi yang agak gemuk) harus sama. kepala sekolah bisa lihat sedikit saja dari mimbar ceramah senin pagi-nya. dia ga segan-segan manggil anak yg tampak berbeda, ke tengah lapangan, ke depan mimbarnya. dipermalukan.

sekolahku ini mengerikan. tapi yg lebih mengerikan dari pada sekadar seragam di badan, adalah seragam di otak. semua anak harus nurut, ga boleh melakukan satu pun kesalahan. sekali berkelahi maka kamu harus balik kanan dari sekolah.

ah, seragam.

Gustidha Budiartie mengatakan...

lama-lama bingung, apa fungsinya seragam kalau begini....